Arkhana

Amila Fitriati Mardhatillah
Chapter #9

#9 Bentrokan Kecil

Dua hari sebelum misi pertama, sedikit konflik eksternal datang. Tepat di tengah-tengah sarapan yang khidmat. Sebenernya itu berawal dari dari sebuah pertanyaan yang berkesan teknis, tapi ternyata jauh dari sekedar menyusun strategi dan Hermes yang memulainya.

Ia masuk ke ruang makan dengan dua lembar kertas di tangannya dan meletakkannya di tengah meja di antara piring-piring yang masih setengah terisi, "Kita perlu putuskan hari ini. Misi pertama, kita masuk ke ruang mana dulu?"

Semua orang berhenti makan. Hermes menunjuk ke kertas pertama. "Opsi satu, ruang resonansi Selknam. Yang paling kritis, cahayanya paling redup, kalau tidak ada intervensi dalam dua minggu ke depan, kemungkinan besar sudah padam sepenuhnya. Risikonya tinggi karena kondisi ruangnya tidak stabil dan kita belum pernah masuk ke ruang yang sekritis ini."

Lalu kertas kedua. "Opsi dua, ruang resonansi dari tradisi Haida, lebih stabil dari Selknam, masih dalam kondisi kritis tapi tidak sedarurat itu. Lebih aman untuk misi pertama, tapi artinya Selknam menunggu lebih lama."

Ia taruh kedua kertas itu dan mundur. "Saya mau dengar pendapat kalian.". Tidak ada yang langsung bicara. Masing-masing membaca sekilas kertas yang ada di depan mereka, memproses. Nyx yang pertama meletakkan sendoknya. "Opsi dua."

Semua orang menatapnya. "Alasannya sederhana," katanya. "Ini misi pertama kita. Kita belum pernah masuk ke ruang resonansi yang kritis dalam kondisi aktif. Kita belum tahu bagaimana frekuensi kita bereaksi di lingkungan yang tidak stabil. Memulai dari yang paling berbahaya tanpa pengalaman sebelumnya adalah cara paling efisien untuk gagal total."

Kalimatnya rapi, logis, tidak ada celah yang mudah dibantah. Raka menaruh gelasnya. "Opsi satu." ujarnya. Nyx menatapnya. "Kamu dengar yang saya bilang?"

"Saya dengar," kata Raka. "Tapi Selknam tidak punya waktu untuk menunggu kita selesai berlatih di tempat yang lebih aman. Kalau kita pergi ke Haida duluan dan Selknam padam sementara kita di sana, kita tidak bisa mengulang waktu itu."

"Dan kalau kita masuk ke Selknam tanpa persiapan yang cukup dan semuanya berantakan di dalam," kata Nyx, "hasilnya lebih buruk dari kalau kita tidak masuk sama sekali. Ruang yang tidak stabil bisa kolaps kalau resonansi di dalamnya tidak terkontrol dengan benar. Kita bisa memperburuk kondisinya."

"Kita sudah dua minggu latihan."

"Dua minggu latihan di kondisi normal. Selknam tidak normal."

Raka tahu argumen Nyx valid. Ia tahu itu bahkan sebelum Nyx selesai bicara. Tapi ada sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan logika yang mendorongnya ke arah yang berbeda. Sesuatu yang terasa seperti kalau mereka tidak pergi ke Selknam sekarang, maka kesempatan itu tidak akan ada lagi, dan itu bukan jenis penyesalan yang bisa ia terima.

"Kamu selalu ingin kondisi sempurna sebelum mulai," kata Raka. Atmosfer ruangan langsung berubah drastis. Bukan kalimat yang jahat. Tapi juga bukan kalimat yang netral, dan semua orang di ruangan itu tahu itu.

Nyx menatap Raka dengan ekspresi yang sangat terkontrol, justru karena terlalu terkontrol terasa lebih berat dari kalau ia marah terang-terangan. "Saya ingin kondisi yang memungkinkan kita berhasil. Itu bukan hal yang sama dengan sempurna."

"Tidak ada kondisi yang menjamin keberhasilan," kata Raka. "Kita bisa latihan sebulan lagi dan Selknam tetap tidak bisa diprediksi sepenuhnya."

"Tapi probabilitasnya berubah."

"Tidak cukup signifikan untuk mengimbangi waktu yang kita buang."

Amara meletakkan sendoknya dengan pelan. Signe sudah dari tadi tidak makan, hanya mengamati percakapan itu dengan ekspresi yang mencatat setiap detail. Danu yang angkat bicara setelah beberapa detik hening. "Dua-duanya punya poin."

"Saya tahu," kata Raka.

"Saya juga tahu," kata Nyx.

"Tapi kamu berdua bicara dari tempat yang berbeda," lanjut Danu. Ia tidak melihat ke Raka atau ke Nyx secara khusus, lebih ke titik di antara keduanya. "Raka bicara dari rasa tidak mau kehilangan kesempatan. Nyx bicara dari rasa tidak mau membuat kesalahan yang tidak bisa diperbaiki. Keduanya masuk akal. Tapi keduanya juga bukan alasan strategi yang murni." kata Danu. Hening lagi.

Lihat selengkapnya