Arkhana

Amila Fitriati Mardhatillah
Chapter #10

#10 Selknam

Pintu ruang resonansi Selknam ada di ujung koridor yang belum pernah mereka lewati sebelumnya. Koridornya berbeda dari bagian lain Arkhana. Lebih sempit, lantainya berbahan yang sama tapi terasa berbeda di bawah kaki, lebih dingin, lebih padat. Tidak ada cahaya dari dinding seperti di bagian lain. Pencahayaannya datang dari titik-titik kecil di langit-langit yang jaraknya tidak teratur, seperti seseorang yang memasang lampu tanpa mengikuti pola tertentu. Mereka berjalan dalam diam.

Hermes ada di depan. Di belakangnya Raka, kemudian Nyx, Amara, Signe, dan Danu yang menutup barisan. Tidak ada yang menyepakati urutan itu secara verbal, tapi barisan itu terbentuk dengan sendirinya. Pintu Selknam kelihatan dari jarak sepuluh meter.

Berbeda dari pintu ruang resonansi yang aktif, biasanya selalu punya cahaya tipis yang bocor dari celah bawah pintunya, seperti ada sesuatu yang hidup di dalamnya dan tidak bisa sepenuhnya disembunyikan. Pintu ini tidak punya itu. Gelap, diam, dengan material kayu yang terasa lebih tua dari apapun yang pernah Raka sentuh sebelumnya. Ada ukiran di permukaannya, figur-figur yang tidak ia kenali tapi yang terasa seperti punya bobot, seperti bukan sekadar dekorasi tapi sesuatu yang dicatat karena penting. Hermes berhenti di depan pintu itu.

"Saya jelaskan sekali lagi sebelum masuk," katanya. Suaranya lebih pelan dari biasanya, bukan karena berbisik tapi karena koridor ini rasanya meminta orang untuk tidak terlalu keras. "Di dalam kondisinya tidak stabil. Artinya kalian akan merasakan hal-hal yang bukan dari diri kalian sendiri. Fragmen emosi, potongan cerita yang tidak berurutan, mungkin gambaran yang tidak jelas konteksnya. Itu bukan halusinasi dan itu bukan berbahaya secara langsung. Tapi bisa membingungkan kalau kalian tidak siap."

"Bagaimana cara membedakannya?" tanya Amara. "Yang dari diri sendiri dan yang dari ruangan?"

"Frekuensi," kata Hermes. "Yang dari ruangan akan terasa asing. Tidak punya akar di dalam diri kalian. Seperti mendengar lagu yang tidak pernah kalian kenal tapi tiba-tiba ada di kepala. Yang dari diri kalian sendiri sudah familiar meski terasa lebih kuat dari biasanya."

Amara mengangguk.

"Tugas masing-masing sudah jelas dari latihan," lanjut Hermes. "Nyx memetakan jalur energi yang masih ada. Amara menangkap fragmen narasi dan mulai menyusunnya. Signe bergerak fleksibel, mengisi celah yang tidak bisa dijangkau yang lain. Danu..." Hermes berhenti sebentar. "Tetap stand by seperti saat ini, itu sudah cukup untuk saat ini."

Danu mengangguk tanpa ekspresi yang berubah.

"Dan Raka." Hermes menatapnya langsung. "Kamu yang menghubungkan semuanya. Tunggu sampai yang lain sudah mulai bekerja sebelum kamu aktifkan resonansimu sepenuhnya. Jangan terburu-buru."

"Dan buku catatannya?" kata Raka.

"Bawa. Dan kalau ada yang terasa bergeser di dalam, pegang itu."

Raka menepuk saku celananya. Buku catatan itu ada di sana. Hermes mendorong pintu. Yang pertama Raka rasakan waktu masuk adalah dingin. Bukan dingin seperti ruangan ber-AC atau seperti angin malam. Lebih seperti dingin yang sudah ada di sana sangat lama sampai ia meresap ke dalam material dindingnya dan tidak bisa dihangatkan lagi hanya dengan kehadiran beberapa orang.

Ruangannya lebih kecil dari yang ia bayangkan. Delapan sisi, seperti ruang resonansi aktif yang pernah mereka pakai untuk latihan, tapi semua yang membuatnya terasa hidup sudah hampir tidak ada. Dindingnya tidak memancarkan cahaya dari dalam. Lantainya tidak hangat. Tidak ada denyut yang bisa dirasakan, tidak ada frekuensi yang langsung menyambut waktu mereka masuk. Tapi tidak kosong sepenuhnya.

Lihat selengkapnya