Arkhana

Amila Fitriati Mardhatillah
Chapter #11

#11 Hari Tenang

Setelah menyelesaikan misi pertama mereka, kelima remaja tersebut tidak langsung kembali ke kamar mereka masing-masing. Tanpa ada yang memberikan ide, mereka masih terdiam di dekat ruangan Selknam.

Hermes sudah bilang tidak perlu untuk berkumpul, istirahat lebih penting dari briefing. Lagipula masih ada hari esok untuk briefing edngan stamina yang penuh. Tapi tidak ada yang bergerak ke arah kamar. Mereka semua masih duduk di lantai yang dingin dengan punggung bersandar ke dinding. Hermes menghela nafas dan membiarkan mereka.

Ia pergi ke suatu tempat dan kembali beberapa menit kemudian dengan membawa minuman hangat dalam gelas-gelas yang tidak jelas dari mana asalnya. Ia meletakkan gelas di depan masing-masing orang tanpa berkata apapun, kemudian duduk sedikit lebih jauh dari kelompok itu dan membiarkan mereka duduk terdiam. Raka memegang gelasnya dengan kedua tangan. Hangatnya menjalar masuk sampai ke telapak tangan yang sudah dingin sejak di dalam ruangan tadi.

"Berapa lama kita di dalam?" tanya Amara.

"Hampir dua jam," kata Nyx.

Signe memandangi garis cahaya tipis yang masih kelihatan dari celah bawah pintu ruangan itu dari tempatnya duduk. "Masih menyala."

"Masih," kata Hermes dari tempatnya. "Dan kemungkinan besar akan tetap menyala selama beberapa waktu ke depan. Apa yang kalian lakukan tadi tidak mengembalikannya ke kondisi penuh, tapi cukup untuk menghentikan kemundurannya untuk sementara."

"Berapa lama?" tanya Raka.

"Kalau tidak ada intervensi lagi, mungkin dua sampai tiga bulan sebelum mulai meredup lagi. Tapi itu cukup untuk memberi kita waktu mengerjakan yang lain dulu." ucap Hemes kembali menyeruput minuman miliknya.

Dua sampai tiga bulan. Bukan waktu yang panjang tapi lebih baik dari dua minggu yang tersisa tanpa ada kepastian. Raka tidak bicara banyak di koridor selama di koridior. Sebagian besar alasannya karena lelah tapi, sebagian lain karena ia sedang sibuk dengan sesuatu di dalam kepalanya yang tidak bisa ia tunjukkan kepada yang lain.

Cara ibunya memulai kalimat. Ia tahu ia pernah tahu itu dengan sangat jelas. Ia bahkan pernah menuliskannya di buku catatannya karena sebelumnya, Raka pernah hampir melupakannya dan ia tidak mau hal ini kejadian lagi. Tapi sekarang, bahkan deskripsi yang ia tulis terasa seperti informasi yang ia baca dari suatu tempat, bukan sesuatu yang ia alami langsung, rasanya...kosong.

Bedanya halus tapi nyata. Seperti perbedaan antara tahu bahwa madu itu manis karena kamu baca di suatu tempat, dengan tahu bahwa madu itu manis karena kamu pernah merasakannya sendiri. Faktanya sama. Tapi kualitas pengetahuannya berbeda, yang satu pernah mengalami, yang satu lagi tidak pernah mengalami.

Yang hilang bukan faktanya. Yang hilang adalah lapisan pengalaman langsung. Ia buka buku catatannya diam-diam ketika yang lain masih ngobrol pelan di sekitarnya. Raka menari halaman tentang ibunya, membalik-balike kertas, membacanya dengan saksama, kemudian membuka halaman baru dan menulis:

Setelah misi Selknam: cara ibu memulai kalimat waktu serius. Masih ada sebagai informasi di kepala. Tapi koneksi langsungnya tidak sama seperti sebelumnya. Terasa seperti baca catatan orang lain tentang orang yang saya kenal, bukan ingatan saya sendiri.

Yang perlu dilakukan: telepon ibu. Minta ia cerita langsung. Rekam rasanya, bukan hanya faktanya.

Ia menutup buku. Di sebelahnya, Amara tidak berkomentar apapun padanya. Tapi ia tahu Amara melihat dan memperhatikannya. Amara memang selalu melihat hal-hal yang orang lain abaikan.

"Kamu baik-baik saja?" tanya Amara pelan, cukup pelan untuk tidak didengar yang lain.

"Iya," kata Raka. Kemudian setelah jeda sebentar ia tambahkan, "Ada yang hilang, sedikit."

Amara tidak langsung menjawab. Ia menatap gelas di tangannya beberapa detik. "Kamu tahu dari awal ini akan terjadi."

"Tahu. Tapi beda antara tahu secara teori dan merasakan langsung."

Lihat selengkapnya