Arkhana

Amila Fitriati Mardhatillah
Chapter #12

#12 Ainu

Tiga hari setelah Selknam, mereka akan masuk ke ruang resonansi Ainu. Koridor Ainu lebih lebar, lebih terang, dengan dinding yang materialnya terasa lebih hangat waktu disentuh. Bukan berarti kondisi ruang resonansinya lebih baik, tapi sepertinya tradisi yang tersimpan di dalamnya punya karakter yang berbeda dari Selknam, lebih terbuka.

Pintunya lebih besar dari pintu Selknam.Ukirannya berbeda juga. Kalau ukiran di pintu Selknam terasa seperti catatan tentang hal-hal yang pernah ada, ukiran di sini terasa lebih seperti percakapan. Figur-figur yang diukir tidak berdiri sendiri-sendiri, mereka saling menghadap, saling terhubung, seperti setiap elemen di dalamnya memiliki hubungan satu sama lain. Hermes berdiri di depan pintu itu dan menjelaskan sebelum mereka masuk.

"Tradisi Ainu dari Hokkaido, Jepang utara memiliki satu perbedaan penting dari Selknam." Ia menunjuk ke ukiran di pintu. "Kosmologi Ainu berpusat pada hubungan. Bukan satu tokoh atau satu cerita besar. Tapi cara semua hal di dunia ini terhubung satu sama lain dan tanggung jawab yang datang dari koneksi itu. Dalam tradisi Ainu, setiap hal di alam punya roh yang disebut kamuy. Pohon, sungai, api, binatang dan hubungan antara manusia dengan kamuy bukan hubungan satu arah. Manusia memberi penghormatan, kamuy memberi rezeki. Hubungan dua arah yang saling menjaga."

"Seperti ekosistem," kata Nyx.

"Kurang lebih. Tapi lebih personal dari itu. Bukan hanya soal keseimbangan alam secara abstrak. Tapi soal bagaimana kamu memperlakukan setiap hal spesifik yang kamu temui setiap hari."

Raka memandangi ukiran di pintu itu. Ada figur manusia kecil di sisi bawah, dikelilingi oleh figur-figur yang lebih besar dari berbagai bentuk. Bukan gambaran manusia yang kecil dan tidak berarti di tengah alam yang besar. Lebih seperti manusia yang punya tempat yang spesifik dan bermakna di antara semua yang lain.

"Kondisi ruangannya?" tanya Amara.

"Lebih baik dari Selknam waktu kita masuk pertama kali," kata Hermes. "Masih kritis, tapi ada lebih banyak yang tersisa di dalam. Artinya prosesnya mungkin lebih cepat, tapi juga artinya ada lebih banyak yang bisa bereaksi terhadap resonansi kalian. Termasuk bereaksi dengan cara yang tidak terduga."

"Maksudnya?" tanya Signe.

"Selknam hampir kosong jadi ruangannya pasif. Ainu masih punya cukup energi untuk merespons secara aktif. Kalau frekuensi kalian cocok dengan apa yang ada di dalamnya, prosesnya bisa berlangsung lebih organik. Tapi kalau ada yang tidak cocok, ruangan bisa merespons dengan cara yang terasa seperti penolakan."

"Penolakan seperti apa?" tanya Nyx.

"Frekuensi yang bertabrakan. Terasa tidak nyaman, seperti suara yang sumbang yang muncul dari dari dalam diri, bukan suara yang terdengar di telinga. Kalau itu terjadi, mundur sedikit dan sesuaikan. Jangan dipaksakan."

Mereka memasuki wilayah Ainu dan perbedaan yang nyata langsung terasa. Selknam waktu mereka masuk pertama kali terasa seperti ruangan yang sudah sangat lama kosong. Dingin, diam, dengan sisa-sisa yang hampir tidak ada. Masuk ke dalamnya seperti masuk ke tempat yang sedang sekarat dan tidak punya banyak yang bisa dipegang.

Ainu berbeda. Masih gelap dalam arti tidak ada cahaya dari dinding seperti ruang aktif. Tapi udaranya tidak mati. Ada sesuatu yang bergerak di dalamnya, sangat pelan, seperti napas yang sangat lambat. Seperti sesuatu yang sedang tidur bukan sesuatu yang sudah tidak ada.

"Lebih hangat," kata Danu. Ia mengatakan itu dengan cara yang agak berbeda dari caranya biasanya mengamati sesuatu.

"Api?" tanya Raka pelan.

"Bukan." Danu menatap ruangan itu. "Tapi ada sesuatu yang terasa seperti sumber. Seperti ada titik di sini yang masih menghasilkan sesuatu meski sangat kecil."

Nyx sudah mulai bekerja. HUD-nya muncul dan langsung bergerak lebih aktif dari waktu di Selknam. "Jalur energinya lebih banyak. Dua belas yang bisa saya identifikasi. Beberapa sangat tipis tapi ada tiga yang kondisinya jauh lebih baik dari yang lain."

"Mulai dari tiga itu," kata Hermes dari dekat pintu. Nyx mengarahkan proyeksinya dan menunjuk tiga titik di ruangan. Signe langsung bergerak ke posisi yang paling berguna, tidak perlu dijelaskan ke mana, seperti sudah tahu dari membaca dinamika ruangan.

Amara berdiri di tengah dan menutup matanya. Kali ini ia bergerak lebih cepat dari Selknam. Fragmen yang ada di dalam ruangan ini tidak terkubur sedalam di Selknam, lebih mudah ditemukan, lebih responsif. Waktu Amara mulai berbicara, suaranya langsung punya kualitas yang berbeda dari percakapan biasa, lebih mengalir, seperti air yang menemukan jalurnya sendiri.

"Kamuy Api," katanya. "Dalam tradisi Ainu, api bukan hanya alat. Ia adalah kamuy yang paling dekat dengan manusia. Yang tinggal di dalam rumah, yang mendengar percakapan sehari-hari, yang menjadi perantara antara manusia dan kamuy-kamuy lain yang lebih jauh." Amara membuka matanya sebentar, melihat ke Danu, kemudian menutupnya lagi. "Api yang merawat bukan yang menghancurkan."

Raka merasakan frekuensinya mulai bergerak. Tapi sebelum ia sempat melanjutkan, ia merasakan sesuatu lain di dalam ruangan. Frekuensi yang bukan dari siapapun di antara mereka. Tidak mengancam dan terasa berbahaya, tapi jelas ada, jelas bukan bagian dari mereka, dan jelas sedang memperhatikan.

Hermes yang bicara dari dekat pintu, dengan nada yang sangat tenang. "Tetap lanjutkan. Jangan berhenti."

Lihat selengkapnya