Arkhana

Amila Fitriati Mardhatillah
Chapter #13

#13 Kekosongan yang Berbeda

Ruang Ainu di belakang mereka bercahaya dengan jelas dari celah bawah pintunya. Lebih terang dari Selknam. Tanpa aba-aba, kelima remaja itu terduduk di koridor Ainu dan Hermes memberikan minuman hangat pada mereka. Sepertinya duduk koridor dan minum minuman hangat sudah menjadi kebiasaan setelah menjalankan misi.

Amara membuka keheningan di antara mereeka. "Lebih cepat dari yang saya kira."

"Karena masih banyakingatan yang tersisa tentang Ainu, jadi jalur energinya lebih responsif. Begitu ada yang mengalir, ruangannya langsung merespons." ujar Nyx sambil menyeruput minuman hangatnya.

"Kosmologi Ainu punya struktur narasi yang kuat dan Amara bisa menemukan itu dengan cepat." kata Hermes. Amara tidak berkomentar tentang pujian itu. Ia hanya menatap gelasnya.

Percakapan berlanjut pelan dan berjalan sangat santai, karena misi ini berjalan lebih lancar dan tubuh mereka tidak selelah misi sebelumnya. Nyx bercerita tentang perbedaan jalur energi antara dua ruangan itu. Signe bilang pergerakan di dalam Ainu lebih intuitif karena ruangannya sendiri seperti memberi petunjuk ke mana ia harus bergerak. Danu lebih banyak diam dari biasanya, ia mendengerkan dan mencerna semua perkataan teman-temannya.

Raka juga tidak begitu banyak bicara. Ia memegang gelasnya dengan kedua tangan dan membiarkan percakapan mengalir di sekitarnya sambil sebagian pikirannya masih ada di dalam ruang Ainu, pada frekuensi yang ia rasakan, pada percakapan singkat yang terjadi tanpa suara.

Saya dulu juga pernah ada di dalam cerita seperti itu.

Ia ingin cerita tentang itu ke yang lain, tapi Hermes sudah bilang untuk tidak terburu-buru dan ia menghormati itu. Untuk sekarang, ia akan menyimpannya dulu, di dalam kepalanya dan nanti di buku catatannya. Yang ia ceritakan ke yang lain hanya satu hal. "Ada ingatan yang hilang lagi tadi."

Percakapan berhenti.

"Apa?" tanya Amara.

"Teman SD saya, Bima. Namanya masih ada, faktanya masih ada. Tapi detail kecil tentang dia sudah tidak ada. Cara dia tertawa, mukanya waktu ketahuan belum selesai nyalin PR, hilang." ujar Raka sambil memutar-mutar gelas ditangannya. Tidak ada yang langsung menjawab.

"Kamu sudah tulis di buku catatan?" tanya Nyx.

"Sudah."

"Bisa dikonfirmasi ulang?"

Raka menggeleng pelan, "Saya tidak yakin karena sudah lama tidak kontak dengan Bima, jadi tidak bisa langsung ditelepon. Tapi, akansaya catat dulul, siapa tahu saya bisa menghubungi Bima." ujar Raka sambil tersenyumsambil melihat ke arah mata-mata yang memperhatikannya.

Hermes yang dari tadi diam memandangi ruang Ainu dan bicara tanpa mengalihkan pandangannya. "Yang kamu lakukan sudah benar. Catat, konfirmasi kalau ada jalan, lanjutkan. Dan yang perlu diingat adalah kehilanganmu karena kamu lemah. Tapi karena kamu yang masuk ke dalam dan mengerjakan sesuatu yang tidak bisa dilakukan orang lain." ujar Hermes sambil menatap hangat Raka. Raka mengangguk.

Setelah itu percakapan perlahan berakhir dengan sendirinya. Satu per satu mereka berdiri dan bergerak ke kamar masing-masing. Hermes pergi terakhir setelah memastikan semua orang sudah masuk.

Raka hampir sampai di kamarnya waktu ia mendengar langkah di belakangnya. Amara.

Lihat selengkapnya