Tiga hari setelah Lethe berbicara ke seluruh Arkhana, Hermes mengumumkan jadwal misi berikutnya. Ruang resonansi Haida dari tradisi masyarakat pesisir barat laut Kanada. Kondisinya tidak sekritis Selknam waktu mereka pertama masuk, tapi sudah cukup lama meredup dan jalur energinya rapuh. Jadwal masuknya empat hari lagi, cukup memberi mereka waktu untuk persiapan yang lebih terstruktur dari sebelumnya.
Empat hari itu berjalan dengan ritme yang sudah mulai familiar. Latihan pagi, sesi materi siang, waktu bebas sore dan malam. Tubuh mereka sudah lebih terbiasa dengan jadwal itu tidak perlu banyak energi untuk menyesuaikan diri dengan cara Arkhana bekerja. Yang berubah adalah percakapan-percakapan di luar jadwal resmi.
Setelah Lethe bicara, ada sesuatu yang berubah dalam dinamika kelompok itu. Mereka mulai lebih sering bicara tentang hal-hal yang sebelumnya hanya disimpan sendiri, sekrang perlahan mereka mulai terbuka satu sama lain dengan cara yang tidak dipaksakan, lebih seperti pintu yang sudah terlanjur terbuka sedikit dan tidak ada alasan kuat untuk menutupnya kembali.
Amara sudah cerita tentang jurnalnya ke Raka malam setelah Ainu. Danu sudah bicara lebih banyak dari biasanya, bercerita tentang hal-hal yang ia rasakan di dalam ruang-ruang resonansi. Nyx masih yang paling tertutup dari semua orang tapi ada perubahan kecil dalam caranya mendengarkan orang lain, sedikit lebih lama dari sebelumnya. Yang belum bicara banyak tentang dirinya sendiri adalah Signe.
Raka yang pertama memperhatikan ini, pada hari kedua dari empat hari persiapan. Bukan karena Signe menyembunyikan sesuatu dengan cara yang mencolok. Justru sebaliknya. Signe ada di semua percakapan, merespons waktu diajak bicara, tidak pernah terlihat menghindar. Tapi kalau Raka pikir ulang tentang semua percakapan yang pernah ia punya dengan Signe sejak pertama datang ke Arkhana, hampir semuanya adalah Signe yang mendengarkan atau Signe yang merespons sesuatu yang orang lain mulai. Sangat jarang ada momen di mana Signe yang memulai sesuatu tentang dirinya sendiri.
Waktu Raka cerita soal ini ke Amara di sela-sela makan siang, Amara hanya mengangguk. "Saya perhatikan juga," kata Amara. "Tapi saya pikir itu bukan karena ia tidak mau cerita. Lebih karena ia tidak tahu harus mulai dari mana."
"Maksudnya?"
Amara memikirkan cara menjelaskannya. "Kamu punya buku catatan tentang dirimu sendiri karena kamu sadar ada yang bisa hilang dan kamu mau ada pegangan. Saya punya jurnal meski hubungan saya dengan jurnal itu rumit. Nyx punya sistem analisisnya. Danu punya ingatan tentang Mbah Slamet yang ia pegang erat. Tapi Signe tidak punya satu hal yang ia bisa tunjuk dan bilang ini saya. Bukan karena ia tidak pernah mencoba. Tapi karena setiap kali ia mencoba memegang sesuatu tentang dirinya, sesuatu yang lain sudah berubah."