Reykjavik, empat tahun lalu. Signe berusia empat belas tahun.
Transformasi pertamanya tidak direncanakan sama sekali. Tidak ada momen di mana ia duduk dan memutuskan bahwa ini kemampuan yang ia inginkan. Tidak ada latihan bertahap, tidak ada persiapan. Kemampuan itu ada begitu saja di satu momen ketika ia sangat butuh menjadi sesuatu yang bukan dirinya sendiri.
Malam itu ia sedang berjalan pulang dari latihan renang, sendirian, lewat jalan yang biasanya aman, tapi malam itu ada sekelompok orang yang lebih tua yang mulai mengikutinya dari belakang dan berteriak sesuatu yang tidak ia mau ingat. Tidak ada yang menyentuhnya. Tapi ada sesuatu di dalam dirinya yang memutuskan bahwa tidak cukup menjadi dirinya sendiri di saat itu.
Dan dalam waktu yang tidak bisa ia ukur, ia bukan lagi dirinya. Lebih pendek. Rambutnya berbeda. Wajahnya berbeda. Ia berjalan melewati kelompok orang itu sebagai seseorang yang bukan Signe Eriksdóttir dan tidak ada yang menoleh dua kali.
Ia sampai di rumah dalam bentuk yang salah dan butuh hampir satu jam untuk kembali. Waktu akhirnya bercermin, ia melihat wajahnya sendiri. Hidung yang sama, mata yang sama, bentuk rahang yang sama. Semua normal, kecuali satu detail kecil di atas telinga kirinya. Sepotong kecil rambut yang tidak mau kembali ke warna aslinya. Tetap sedikit lebih gelap dari yang seharusnya. Ia pikir itu akan hilang sendiri, ternyata tidak.
Itu yang pertama. Residu pertama dari transformasi yang meninggalkan jejak permanen. Tapi waktu itu ia tidak tahu bahwa itu baru permulaan. Transformasi berikutnya datang beberapa bulan kemudian, karena alasan yang berbeda. Bukan ketakutan kali ini, lebih ke penasaran. Ia ingin tahu seberapa jauh kemampuannya bisa digunakan. Ia mencoba transformasi yang lebih besar dari sebelumnya dan kembali dengan dua perubahan kecil di wajahnya.
Dan kemudian lagi. Dan lagi. Setiap transformasi meninggalkan sesuatu. Tidak selalu di tempat yang sama, tidak selalu besar. Kadang hanya cara matanya memantulkan cahaya di malam hari. Kadang bayangan yang bergerak setengah detik terlambat dari tubuhnya. Kadang tinggi badannya yang berubah satu atau dua milimeter dan tidak kembali.
Signe mulai mendokumentasikan. Ia memfoto dirinya setiap pagi. Mencatat setiap detail yang ia bisa identifikasi. Mencoba membangun arsip tentang dirinya sendiri supaya ada referensi untuk dibandingkan.
Tapi foto tidak bisa menangkap semua hal. Dan catatan bergantung pada ingatan tentang apa yang seharusnya ada, ingatan yang semakin lama semakin tidak bisa dipegang dengan yakin. Sampai suatu pagi dua tahun lalu ia bercermin setelah bangun tidur dan menyadari bahwa ia tidak yakin mana yang asli dan mana yang residu.
Hidung yang sedikit lebih runcing dari yang ia ingat. Sudah seperti ini dari dulu atau dari transformasi bulan lalu? Warna mata yang punya cincin abu-abu di luarnya. Sudah ada sejak lahir atau baru? Tinggi badan yang menurutnya dua sentimeter lebih pendek dari yang tertulis di kartu pelajarnya dari tiga tahun lalu. Sudah berubah atau pengukuran dulu yang salah?
Tidak ada cara untuk tahu dengan pasti. Dan kalau tidak ada cara untuk tahu mana yang asli, maka tidak ada wajah yang bisa ia tunjuk dan bilang ini wajah saya yang sebenarnya. Satu hal lagi yang datang belakangan, lebih susah dijelaskan dari perubahan fisik. Loki.
Bukan pertemuan yang dramatis. Tidak ada momen spesifik di mana Signe sadar bahwa ada suara lain di dalam mimpinya yang bukan miliknya. Itu datang bertahap, sangat bertahap, seperti perlahan-lahan menyadari bahwa udara di dalam mimpi sudah berbeda kualitasnya sejak beberapa waktu lalu.
Ada perspektif di dalam mimpinya yang bukan perspektifnya sendiri. Tidak selalu ada, tidak setiap malam. Tapi ada dengan frekuensi yang cukup untuk tidak bisa dianggap kebetulan.
Perspektif itu tidak jahat. Itu yang membuatnya rumit. Tidak pernah mendorong ke arah sesuatu yang berbahaya secara langsung. Kadang berguna, memberi sudut pandang yang Signe tidak terpikirkan sendiri, membantu ia melihat jalan keluar dari situasi yang rumit. Seperti seseorang yang memberikan saran yang bagus tapi tanpa meminta izin untuk ada di sana.
Cara satu-satunya untuk membedakan mana yang Loki dan mana yang dirinya sendiri adalah dengan memperhatikan caranya. Perspektif Loki selalu sedikit lebih mau ambil risiko, sedikit lebih tertarik pada kemungkinan yang tidak konvensional, sedikit lebih nyaman dengan ketidakpastian.
Arkhana, malam itu.