Arkhana

Amila Fitriati Mardhatillah
Chapter #19

#19 Efek Riak Haida

Raka merasakan perubahan frekuensi Signe pada misi Haida kali ini. Tidak terlalu drastis perubahannya, hanya ada sesuatu yang berbeda dalam cara frekuensi Signe bergerak di ruangan ini dibanding biasanya. Di Selknam dan Ainu, frekuensi Signe terasa seperti yang pernah Raka deskripsikan untuk dirinya sendiri, sinyal yang kuat tapi tepinya tidak stabil, bergeser-geser.

Di sini, untuk pertama kali sejak ia mengenal Signe, ada momen-momen singkat di mana frekuensi itu terasa sangat solid, hanya beberapa detik sebelum Signe kembali ke pola frekuensi normalnya. Raka tidak bisa berhenti di tengah proses untuk bertanya tentang itu. Ia mencoba mengingatnya untuk ditanyakan nani, setelah misi Haida ini selesai.

Amara terus bercerita. Ceritanya bergerak dari Raven ke hal-hal lain, tentang cara tradisi Haida memandang identitas sebagai sesuatu yang diwariskan, bukan hanya secara biologis tapi melalui cerita dan seni, tentang totem yang bukan objek pemujaan tapi catatan visual tentang siapa kamu dan dari mana kamu berasal, tentang bagaimana seseorang yang tidak tahu cerita leluhurnya adalah seseorang yang tidak punya peta tentang dirinya sendiri.

Dan di titik itu frekuensi Signe berubah lagi. Kali ini lebih lama dari sebelumnya. Beberapa puluh detik, cukup untuk Raka perhatikan dengan lebih jelas. Frekuensi yang biasanya bergeser-geser di tepinya tiba-tiba solid, terpusat, seperti sinyal yang menemukan frekuensinya yang paling tepat. Raka tidak bisa melihat wajah Signe dari posisinya. Tapi ia bisa merasakan frekuensi itu.

Proses berlanjut. Jalur utama yang Nyx identifikasi mulai merespons dengan kuat waktu Raka mengalirkan resonansinya ke sana, dan dari jalur utama itu energi menyebar ke jalur-jalur yang lebih kecil seperti air yang mengisi saluran-saluran dari sumber utamanya. Signe bergerak mengisi celah-celah yang muncul, lebih intuitif dari biasanya, seperti ia dan ruangan ini sudah punya semacam kesepahaman yang tidak butuh banyak kata.

Danu berdiri di posisinya dengan cara yang sudah berbeda dari misi pertama. Tidak tegang dan tidak memaksa untuk menahan sesuatu dari dalam, lebih tepatnya menahan api yang ada dalam diri Danu. Kehadiran Danu yang solid dan yang Raka sudah bisa rasakan sebagai fondasi yang membuat keseluruhan proses lebih stabil.

Setelah misi selesai, Raka menarik resonansinya kembali, ruangan Haida sudah berbeda dari waktu mereka masuk. Dindingnya bercahaya. Bukan seperti Ainu yang keemasan dan hangat. Lebih seperti cahaya pagi hari di tepi laut, biru keputihan yang bersih, dengan kualitas yang terasa seperti awal dari sesuatu bukan akhir dari sesuatu.

Hermes membuka pintu dari dalam dan melihat ke luar. Dari celah pintu yang terbuka lebar itu, Raka bisa melihat koridor di luar dan bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang berbeda. Dua pintu lain di koridor yang sama, yang sebelumnya gelap total, sekarang punya sedikit cahaya di celah bawahnya. Efek riak yang Hermes ceritakan itu terjadi

"Tiga ruangan, dari satu misi." ujar Hermes sambil menahan nafas antara senang dan bangga dengan murid-muridnya.

Nyx menghitung di kepalanya. "Dua puluh dua yang masih gelap."

"Dua puluh dua," ulang Hermes. "Dari dua puluh tujuh."

Lihat selengkapnya