Arkhana

Amila Fitriati Mardhatillah
Chapter #23

#23 Waktu Tenang

Keeseokan harinya, Hermes muncul di ruang makan tanpa membawa perlengkapan mengajarnya. Dengan santai ia duduk dan memakan sarapannya. Keempat remaja yang sedang makan itupun melihat ke arah Hermes dansaling melirik satu sama lain. Dalam diam, mereka sepakat, tidak ada kelas hari ini. Salah satu skill yang terasah selama berada di Arkhana adalah membaca situasi dalam diam, tidak ada yang bicara, tidak ada informasi.

Raka bangun lebih siang dari biasanya. Bukan karena lelah fisik yang berlebihan, meski tubuhnya memang butuh lebih banyak istirahat dari biasanya setelah menembus lapisan Lethe kemarin, tapi karena ia ingin berleha-leha hari ini. Tidak terburu-buru dan on-time dalam melakukan apapun. Ada bagian dari dirinya yang meminta untuk duduk dulu, tenang karena kita butuh ketenangan dan fokus sebelum meyakini apa yang akan kita lakukan sudah benar atau beleum.

Ia duduk di tepi tempat tidurnya cukup lama sebelum bergerak ke mana-mana. Kemudian ia mengeluarkan buku catatannya. Raka membaca dari halaman pertama, pelan, seperti yang ia lakukan malam sebelum masuk ke lapisan Lethe. Tapi kali ini dengan tujuan yang sedikit berbeda. Bukan memeriksa apa yang masih ada sebagai persiapan. Tapi memeriksa apa yang masih ada sebagai konfirmasi bahwa ia masih di sini, bahwa yang kemarin terjadi tidak mengambil ingatanya terlalu banyak.

Nama. Ada. Keluarga, cara ibunya berbicara, cara ayahnya mengeluh tentang kemacetan dengan nada yang lebih terdengar sayang dari frustrasi. Ada. Teman-teman lama. Nama-namanya ada. Detail tentang mereka ada dalam versi yang sudah terdokumentasi meski beberapa tidak lagi punya lapisan perasaan langsungnya. Ketakutan terhadap ketinggian. Ada. Kebiasaan membuka banyak tab sekaligus, cara ia pergi ke perpustakaan waktu butuh berpikir jernih. Ada.

Cara merasakan Jakarta. Sudah ia tulis semalam, hilang setelah lapisan Lethe. Ia duduk dengan catatan itu di pangkuannya dan mencoba merasakan seberapa besar kehilangan itu. Berbeda dari kehilangan-kehilangan sebelumnya yang lebih kecil dan lebih spesifik. Ini lebih seperti kehilangan lapisan dari sesuatu yang lebih mendasar, bukan satu memori spesifik tapi kualitas dari cara ia mengenal satu tempat yang sudah jadi bagian dari identitasnya sejak lahir.

Jakarta masih ada sebagai konsep. Ia masih tahu bahwa ia dari sana, masih tahu nama-nama jalannya, masih tahu peta mentalnya tentang kota itu. Tapi Jakarta sebagai sesuatu yang terasa seperti bagian dari dirinya, sesuatu yang ketika ia bayangkan ada kehangatan yang menyertai bayangan itu, seperti mengingat rumah dari jauh, itu yang tidak ada lagi.

Ia tulis itu di buku catatannya dengan lebih detail dari catatan semalam, supaya ada sesuatu yang lebih utuh untuk kembali ke waktu yang diperlukan. Kemudian ia tambahkan satu baris:

Perlu menelepon ibu. Bukan untuk konfirmasi tentang Jakarta karena tidak ada cara langsung untuk itu. Tapi karena perlu merasakan bahwa ada koneksi yang masih utuh.

Ia menutup buku dan bersiap untuk turun ke ruang makan. Semua orang sudah ada di ruang makan waktu Raka tiba. Amara dan Signe duduk di sisi yang sama, Amara dengan jurnalnya terbuka di meja meski tidak sedang menulis, Signe dengan gelas di tangannya yang ia pegang tapi tidak diminum. Nyx duduk di seberang mereka dengan postur yang biasanya sangat tegak, tapi pagi ini sedikit lebih rileks dari biasanya. Danu ada di ujung meja, menatap keluar ke arah yang tidak ada jendelanya, entah ia melamun, bengong atau memikirkan seesatu.

Makanan sudah ada di tengah meja seperti biasa. Raka mengambil kursi dan duduk tanpa banyak komentar. Beberapa saat tidak ada yang bicara dan itu tidak terasa aneh, mereka seperti masih larut dalam pikiran dan emosi masing-masing.

Amara yang pertama bicara. "Semalam aku tidak bisa tidur langsung."

"Aku juga," kata Signe.

"Aku tidur tapi mimpinya aneh," kata Nyx. "Bukan buruk. Hanya tidak teratur. Seperti banyak hal yang sedang diproses sekaligus."

Danu tidak berkomentar tentang tidurnya tapi cara ia mengangguk pelan menunjukkan bahwa ia juga merasakan sesuatu yang serupa.

Raka ambil makanan di depannya. "Aku tidur lebih lama dari biasanya. Tapi waktu bangun ada yang terasa berbeda."

"Berbeda bagaimana?" tanya Amara.

"Seperti ada bagian dari aku yang belum sepenuhnya kembali dari sana." Raka meletakkan sendoknya. "Bukan suatu yang berbahaya, tapi seperti ada bagian yang masih dalam terus memproses kejadian kemarin dan masih berlanjut seperti sekarang, seperti orang linglung."

Nyx menatapnya. "Yang hilang kemarin, lebih besar dari sebelumnya?"

Lihat selengkapnya