Mereka tidak mengerjakan delapan ruang yang tersisa satu per satu. Hermes yang memutuskan itu setelah dua hari istirahat. Ia datang ke ruang makan waktu sarapan dengan peta Arkhana di tangannya dan kondisinya sudah berubah lagi dari terakhir mereka lihat. Tiga belas titik yang kemarin punya cahaya tipis sekarang beberapa sudah lebih stabil, tidak menyala penuh tapi sudah melewati titik kritis di mana kemunduran bisa terjadi kapan saja.
Delapan yang masih sepenuhnya gelap ada dalam satu kluster di bagian peta yang belum pernah mereka kunjungi. Bukan kluster yang ketat, bukan delapan pintu yang berdekatan di satu koridor, tapi delapan yang tersebar di area yang sama dengan jarak yang masih bisa dicapai dalam satu hari.
"Kondisi kedepalannya berbeda dari yang sudah kita kerjakan sebelumnya," kata Hermes. Ia taruh peta di meja dan duduk. "Yang sudah kita kerjakan sebelumnya masing-masing punya sisa energi yang cukup untuk diajak bekerja sama. Delapan ini tidak."
"Artinya?" tanya Nyx.
"Artinya proses yang biasa mungkin tidak cukup. Kita tidak bisa mengandalkan fragmen yang tersisa di dalam ruangan untuk membantu proses dari dalam karena hampir tidak ada fragmen yang tersisa. Kita harus membawa semuanya dari luar."
"Seperti Selknam tapi lebih berat," kata Raka.
"Lebih berat dari Selknam. Delapan-delapannya." Hermes menatap mereka satu per satu. "Dan ini perlu dilakukan sebelum efek dari percakapan kalian dengan Lethe memudar. Momentum yang ada sekarang, kelonggaran dalam koneksi Lethe ke sistem yang ia manipulasi, tidak akan bertahan selamanya kalau tidak ada yang menopangnya dari sisi ini."
"Berapa lama waktu kita?" tanya Amara.
"Mungkin dua minggu. Mungkin kurang." Hermes melipatkan tangannya di atas meja. "Kalau dalam dua minggu delapan ruang itu tidak aktif, energi yang bocor dari kelonggaran itu akan tertutup kembali. Dan kita perlu memulai dari awal lagi."
Danu yang dari tadi diam bicara pelan. "Jadi kita perlu semuanya menyala dalam dua minggu."
"Idealnya lebih cepat dari itu." Hermes berhenti sebentar. "Dan ada satu hal lagi. Karena delapan ini harus dilakukan dalam waktu singkat dan kondisinya lebih berat dari biasanya, cara kita mengerjakannya perlu berbeda. Bukan satu per satu dengan jeda beberapa hari di antaranya. Lebih cepat dari itu."
"Seberapa cepat?" tanya Nyx.
"Dua sehari. Mungkin tiga kalau kondisi kalian tidak memungkinkan."
Hening sebentar di meja itu. Raka memproses angka itu. Dua atau tiga misi per hari berarti dua atau tiga kali ia kehilangan sesuatu dalam satu hari. Selama ini jeda beberapa hari antara misi memberi waktu untuk mendokumentasikan ulang, untuk menelepon ibu atau yang lain, untuk memeriksa kondisi sebelum melanjutkan misi. Dengan ritme seperti yang Hermes usulkan, waktu untuk itu sangat terbatas.
Nyx yang menyuarakan itu. "Risikonya untuk Raka berbeda dari yang lain."
"Iya," kata Hermes langsung tanpa mencoba meringankan. "Berbeda dan lebih besar. Setiap misi mengambil sesuatu. Dua atau tiga misi dalam satu hari berarti dua atau tiga kali pengambilan tanpa waktu yang cukup untuk memeriksa kondisi di antaranya."
Semua orang menatap Raka. Raka tidak langsung menjawab. Ia menatap peta di meja di depannya, delapan titik gelap yang tersisa, dan mencoba membuat kalkulasi yang jujur tentang kondisinya sekarang.
Yang sudah hilang selama semua misi ini, cara ibunya memulai kalimat yang serius, gambaran langsung tentang cara Bima tertawa, perasaan tentang naik MRT di Jakarta, cara Karin tertawa, perasaan tentang Jakarta sebagai tempat bukan hanya nama. Dan yang terbesar dari semua, cara merasakan Jakarta sebagai bagian dari identitasnya.