Arkhana

Amila Fitriati Mardhatillah
Chapter #26

#26 Lethe (2)

Mereka masuk ke lapisan Lethe untuk kedua kalinya, dua hari setelah semua delapan puluh tiga ruang punya cahaya. Hermes memberi dua hari tambahan untuk bersitirahat, mengingat kongdisi Raka selama tiga hari penuh tidak berhenti beresonansi di dalam ruangan gelap. Hermes tidak mau mengambil resiko yang berat. Ia harus memastikankondisi kelima remaja itu betul-betul fit tidak lelah sama sekali,

Dua hari itu dihabiskan dengan cara yang berbeda dari istirahat biasa. Raka menelepon ibunya dua kali, ayahnya sekali. Bukan untuk mendokumentasikan ulang hal-hal yang hilang karena tidak semuanya bisa dikonfirmasi lewat telepon. Raka mulai mempeljari sesuatu ketika Hermes menjadi jangkar aktif untuknya, bahwa identitas tidak hanya hidup di dalam dirinya sendiri tapi juga di dalam hubungan yang ia punya dengan orang-orang di luar dirinya. Selama koneksi itu masih tetap berejalan, sejauh itu masih ada yang akan tetap bertahan di dalam dirinya.

Ia juga menghabiskan satu sore dengan membaca ulang semua catatannya dari halaman pertama sampai terakhir, bukan untuk memeriksa apa yang hilang tapi untuk merasakan keseluruhan dari apa yang masih ada. Ada lebih banyak yang masih ada dari yang ia perkirakan di momen-momen setelah misi.

Malam sebelum percakapan kedua, yang lain datang ke kamarnya satu per satu. Tidak ada yang merencanakan ini. Amara yang pertama, duduk sebentar dan cerita tentang sesuatu yang lucu yang terjadi waktu ia pertama kali pergi ke pasar di Accra sendirian, cerita yang sudah pernah ia ceritakan sebelumnya, tapi Raka tetap mendengarkan karena ada sesuatu yang menenangkan dari cerita yang sudah ia kenal. Kemudian Signe membawa buku sketsanya dan menunjukkan gambar terbaru yang ia tambahkan, detail-detail kecil yang ia perhatikan tentang masing-masing dari mereka yang belum ada di gambar-gambar sebelumnya. Danu yang tidak banyak bicara tapi yang duduk cukup lama untuk menunjukkan bahwa kehadirannya sendiri adalah sesuatu yang disengaja. Dan Nyx yang datang terakhir, membawa dua gelas teh, menyerahkan satu ke Raka, dan duduk di kursi tanpa banyak komentar, tapi Nyx tetap di sana sampai Raka bilang ia mau tidur.

Raka tidak berterima kasih pada mereka secara langsung, tapi ia pikir mereka semua mengerti. Pagi hari percakapan kedua dengan Lethe, Hermes mengumpulkan mereka untuk briefing singkat.

"Ini berbeda dari yang pertama," katanya. "Yang pertama tujuannya adalah membuka percakapan, memberi Lethe cerita tentang dirinya sendiri, melihat apakah ada yang merespons. Itu sudah terjadi dan hasilnya sudah kita lihat." Ia menatap peta yang menunjukkan delapan puluh tiga titik dengan cahaya masing-masing. "Yang kedua tujuannya lebih spesifik."

"Apa?" tanya Nyx.

"Kita perlu tahu apakah perubahan yang terjadi, kelonggaran dalam koneksi Lethe ke sistem yang ia manipulasi, bisa menjadi sesuatu yang lebih permanen. Dan untuk itu Lethe perlu membuat pilihan yang sadar, bukan hanya merespons secara tidak langsung seperti yang terjadi setelah percakapan pertama."

"Kamu mau Lethe memilih untuk berhenti," kata Amara.

"Tidak persis berhenti, tapi mengubah apa yag ia lakukan saat ini. Bukan untuk menyembunyikan, tapi untuk menyebarkan." Hermes duduk. "Dalam teori, seseorang atau sesuatu yang punya akses ke sistem distribusi konten dan yang memilih untuk menggunakannya untuk memunculkan konten yang selama ini disembunyikan, bisa mengubah alur yang sudah terjadi bertahuntahun. Mmang tidak bisa dalam sekejap mata, tapi bisa dimulai segera."

"Tapi untuk itu Lethe harus mau," kata Raka.

"Dan Lethe harus percaya bahwa ada alasan untuk mau," kata Hermes. "Percakapan pertama memberi ia sesuatu yang tidak pernah ia punya sebelumnya, cerita tentang dirinya sendiri, ingatan tentang siapa ia sebelum menjadi ini. Percakapan kedua perlu memberinya sesuatu yang berbeda."

"Apa?" tanya Signe.

Hermes menatap Raka. "Itu yang perlu kalian temukan di dalam. Aku tidak bisa memberi tahu dari luar karena aku tidak tahu apa yang Lethe butuhkan sekarang. Hanya Raka yang bisa merasakannya dari dalam percakapan itu."

Raka mengangguk. Ia sudah memperkirakan jawaban seperti itu.

"Satu hal lagi," kata Hermes. "Kalau ada titik di dalam percakapan di mana kamu merasa yang diambil sudah terlalu besar, keluar. Tidak ada yang lebih penting dari ingatanmu."

"Bahkan kalau percakapannya belum selesai?" tanya Nyx.

"Bahkan kalau belum selesai. Percakapan yang belum selesai masih bisa dilanjutkan di lain waktu. Raka yang tidak bisa lagi mengenali dirinya sendiri tidak bisa diperbaiki dengan cara yang sama." ujar Hermes serius sambil menatap ke arah lima remaja lekat-lekat.

Prosesnya sama seperti pertama. Ruang pusat, formasi yang sama, Raka di tengah dengan empat frekuensi yang menopang dari semua sisi. Hermes dan Mbak Sari di pintu. Tapi dari menit pertama ada sesuatu yang berbeda.

Waktu Raka mulai membuka resonansinya dan turun ke lapisan yang lebih dalam, ia tidak perlu menggali selama saat pertama kali masuk kelapisan Lethe. Seperti ada jalur yang sudah terbentuk dari percakapan sebelumnya, tidak terbuka lebar tapi tidak tertutup rapat seperti sebelum percakapan pertama. Dan dari ujung jalur itu, sesuatu sudah menunggu.

Kamu kembali.

"Aku bilang aku akan kembali," kata Raka.

Aku tidak yakin kamu akan.

"Kenapa?"

Karena biasanya yang datang sekali tidak datang lagi. Mereka mendapat apa yang mereka mau dari kunjungan pertama dan tidak perlu kembali.

Raka memikirkan itu sebentar. "Apa yang mereka mau dari kunjungan pertama?"

Konfirmasi bahwa mereka sudah mencoba. Bahwa mereka sudah melakukan bagiannya. Setelah itu mereka pergi dan melanjutkan hidup mereka.

Ada sesuatu dalam cara Lethe mengatakan itu yang tidak terdengar seperti tuduhan. Lebih seperti observasi dari seseorang yang sudah mengamati pola yang sama cukup sering untuk tidak lagi kaget tapi juga tidak pernah sepenuhnya terbiasa.

Lihat selengkapnya