Arkhana

Amila Fitriati Mardhatillah
Chapter #30

# 30 Enam Bulan Kemudian

Di sebuah apartemen kecil di Athena, pukul sebelas malam, Nyx duduk di meja belajarnya dengan dua buku terbuka sekaligus. Satu buku filsafat. Satu buku analisis statistik.

Ini kombinasi yang tidak pernah ada di mejanya sebelum Arkhana. Dulu hanya ada yang bisa diukur, yang bisa dikuantifikasi, yang bisa diproses menjadi kesimpulan yang jelas. Sekarang ada juga yang lain, pertanyaan-pertanyaan yang tidak punya jawaban tunggal dan yang justru lebih menarik karena tidak punya.

Ibunya mengetuk pintu kamarnya dari luar. "Masih belajar?"

"Sebentar lagi."

"Ada teh kalau mau."

"Nanti."

Suara langkah ibunya menjauh ke ruang sebelah. Nyx menatap dua buku itu bergantian. Kemudian ia menutup keduanya dan pergi ke dapur untuk minum teh bersama ibunya. Bukan karena tehnya penting. Tapi karena ada hal-hal yang lebih penting dari menyelesaikan bacaan malam ini.

***

Di Yogyakarta, Danu duduk di halaman belakang rumah Mbah Slamet dengan secangkir kopi di tangannya. Mbah Slamet duduk di sebelahnya di kursi rotan yang sama yang sudah jadi tempat duduk favoritnya sejak dahulu. Tangan kanannya yang tidak bisa merasakan panas atau dingin dengan normal memegang cangkirnya dengan cara yang sudah sangat terbiasa dengan keterbatasan itu.

Mereka tidak selalu bicara waktu duduk bersama seperti ini. Kadang cukup hanya ada. Tapi malam ini Danu berkata, "Mbah, aku mau tunjukkan sesuatu."

Mbah Slamet menatapnya. Danu menaruh cangkir kopinya di lantai. Ia membuka telapak tangannya menghadap ke atas dan melakukan sesuatu yang sudah ia latih selama enam bulan terakhir dengan sangat pelan dan sangat hati-hati. Bukan dengan cara yang dulu, bukan dari ketakutan atau dari emosi yang meledak tanpa kendali, tapi dari pilihan yang ia pilih.

Di telapak tangannya, cahaya oranye kemerahan muncul, sangat kecil, sangat terkontrol, seperti api lilin yang ada di dalam udara tanpa sumbu. Mbah Slamet menatap itu dalam diam. Kemudian berkata, dengan nada yang tidak berubah dari nada biasanya, "Lebih kecil dari yang Mbah bayangkan."

Danu hampir tersedak kopinya. "Mbah."

"Bercanda." Mbah Slamet tersenyum dengan cara yang jarang ia tunjukkan. "Bagus, le. Bagus sekali."

Danu menutup telapak tangannya dan cahaya itu padam. Ia mengambil kopinya lagi dan meminumnya. Di atas mereka bintang-bintang Yogyakarta ada di langit yang lebih gelap dari langit Jakarta, dengan cara yang selalu membuat Danu merasa seperti ada lebih banyak ruang di sini dari di tempat lain.

***

Di London, Amara duduk di perpustakaan kampusnya dengan laptop terbuka dan jurnal di sebelahnya. Di layar laptopnya ada halaman yang sudah ia tulis selama beberapa jam terakhir, artikel panjang tentang tradisi Selknam yang ia kerjakan dengan cara yang berbeda dari semua tulisan sebelumnya. Bukan dari instruksi jurnal. Tapi dari usaha danpenelitiannya sendiri yang ia perjuangkan. Di sampingnya, jurnal itu diam.

Tidak ada yang tertulis sendiri di dalamnya sejak beberapa bulan lalu. Atau lebih tepatnya, sejak ia dan Anansi mulai menemukan cara berkomunikasi yang berbeda, yang lebih terasa seperti percakapan antara dua pihak yang setara daripada instruksi dari atas ke bawah.

Ini masih dalam proses. Masih sering tidak mudah. Masih ada hari-hari di mana ia tidak yakin mana yang pilihannya sendiri dan mana yang pengaruh dari sesuatu yang lebih tua.

Lihat selengkapnya