Seorang perempuan dengan rambut panjang agak berantakan masih terlelap nyenyak di atas kasur berseprai sewarna lazuardi. Dadanya naik-turun dengan gerakan yang begitu lembut dan teratur, sedangkan sepasang matanya pun masih terkatup. Dalam kondisi demikian, Keira—nama perempuan itu—tentu tak menyadari perihal sinar matahari pagi yang diam-diam menyeruak ke dalam sebuah kamar bernuansa biru muda melalui celah tirai yang sedikit terbuka. Malam tadi, Keira sudah terlalu letih untuk sekadar memastikan kalau ia telah menutup tirai dengan sempurna. Alhasil, semakin detak jam berputar ke arah kanan, semakin cahaya tadi merambati wajah perempuan berusia dua puluh delapan tahun yang masih tertidur pulas itu.
Tepat ketika cahaya matahari di awal musim kemarau tadi jatuh di atas permukaan sepasang mata Keira yang terpejam, perempuan itu seketika menggeliat sebentar, lalu menghindarkan matanya yang mulai terbuka dari silaunya cahaya. Keira bangkit. Ia habiskan beberapa detik waktunya dengan duduk di tepi tempat tidur. Perempuan itu seolah-olah berusaha mengumpulkan nyawanya yang belum sepenuhnya tersadar. Hingga setelah dirasa tubuhnya sudah mampu diajak kompromi, Keira melangkah mendekati jendela. Keira tentu tidak ingin Alan, suaminya, yang juga masih pulas terbaring di atas kasur ikut terbangun karenanya.
“Jangan ganggu dulu suamiku,” ujar Keira sembari tersenyum menatap matahari di ufuk timur sebelum kemudian ia menutup celah tirai tadi.
Keira mengalihkan perhatiannya pada sebuah jam dinding berbentuk bulat yang menggantung di tembok kamar. Masih pukul 6.15. Setidaknya masih ada sisa waktu sekitar empat puluh lima menit baginya untuk membiarkan Alan tetap terlelap. Memang dulu, sebelum memilih apartemen, Keira sengaja mengambil kamar yang berada di lantai tiga dengan jendela mengarah tepat ke Timur ini agar bisa dengan jelas menikmati proses matahari terbit. Namun, itu pemikirannya dahulu, sebelum kemudian Keira agak menyesalkan keputusannya tersebut. Kini perempuan itu sadar jika cahaya matahari pagi yang menyeruak dari sana tak lebih dari pengganggu tidurnya saja.
Sejak resmi menikah dengan Alan dua bulan lalu, Keira memang resmi menjadi ibu rumah tangga. Untuk mengisi kesibukannya, sebagaimana hobinya, Keira sering menghabiskan waktunya dengan duduk berlama-lama menghadap laptop dan menuliskan novel yang entah sampai kapan akan ada yang diterima penerbit. Beberapa kali Keira sempat hampir menyerah ketika mendapatkan satu demi satu penolakan dari penerbit. Beruntung ia memiliki Alan yang selalu berhasil menguatkan dan membangkitkan kembali semangatnya. Pemuda itu meyakinkan sang istri jika tidak ada yang instan di dunia ini. Semua butuh proses. Kegagalan dan penolakan yang ia alami sekarang hanyalah bentuk dari kesuksesan yang tertunda untuk masa depan.
“Kamu harus belajar banyak dari J.K. Rowling dan Thomas Alva Edison, Kei,” ucap Alan di suatu waktu. “Mereka adalah contoh orang-orang yang enggak gampang nyerah meski berkali-kali menghadapi kegagalan. Kamu tentu tau berapa kali draft novel Harry Potter ditolak penerbit sebelum akhirnya terbit atau berapa banyak kegagalan yang dialami Thomas sebelum ia kemudian berhasil menciptakan bola lampu,” lanjutnya.
Tentu saja kalimat Alan tersebut selalu menjadi motivasi dan penyemangat tersendiri ketika Keira membutuhkan motivasi dari setiap kegagalan yang ia alami selama ini. Sungguh, Keira merasa sangat beruntung bisa mengenal Alan yang kini telah resmi menjadi pendamping hidupnya.
Keira lalu beranjak dari tempatnya semula. Ia raih handuk yang menggantung di balik pintu kamar. Sebelum membersihkan diri, Keira malah tergoda dengan wajah polos Alan yang tampak begitu menggemaskan di matanya. Apalagi dari bibir lelaki yang sesekali terbuka-tutup itu, terdengar irama dengkuran pelan. Terkadang pendek-pendek, tetapi lebih sering panjang dan lucu. Keira sampai terkekeh geli ketika mendengarnya. Padahal sebelum Keira menikah dengan Alan, lelaki itu berani bersumpah kalau seumur hidup ia tidak pernah sekali pun mendengkur saat tidur. Namun nyatanya, kini, belum juga genap dua bulan mereka resmi mengikat janji sebagai sepasang suami istri, Keira malah sudah mendapati satu kebohongan kecil itu.
“Dasar pembohong,” gumam perempuan berambut panjang itu sambil terkekeh kecil.
Keira buru-buru meraih ponselnya yang sejak tadi tergeletak di atas nakas. Dengan ponsel itu, Keira mulai mengabadikan bagaimana Alan mendengkur. Saking gelinya, Keira sampai harus membekap mulutnya sendiri hanya agar tawanya tak meledak dan membuat Alan terjaga. Berhasil! Setidaknya, hasil rekaman yang baru saja ia dapatkan ini nantinya bisa dijadikan bukti tak terbantahkan jika Alan bangun dan berkilah kalau dirinya tak mengorok. Sekali lagi Keira terkekeh bangga. Ia merasa dirinya baru saja berhasil mendapatkan kartu As.
Keira kembali meletakkan ponselnya di atas nakas sebelum akhirnya bangkit dan menuju kamar mandi. Setelah melewati delapan tahun masa berpacaran yang terbilang panjang, Keira bersyukur karena pada akhirnya mereka berdua kini telah resmi menjadi sepasang suami istri. Keira pikir, dengan status mereka yang telah berubah dari yang semula sebatas sepasang kekasih, ia akan merasakan perbedaan yang signifikan. Namun, rupanya dugaan perempuan berambut panjang itu salah. Tidak ada hal besar yang ia rasakan perubahannya selain bisa tidur seranjang dengan Alan saban malam dan memandangi wajah polos Alan ketika terbangun. Itu saja. Sungguh, masa perkenalan yang tak singkat itu, tidak lagi menyisakan kecanggungan di antara mereka. Keduanya seolah-olah sudah saling mengenal dengan baik satu sama lain. Sudah paham kekurangan dan keburukan masing-masing.
Setelah mengguyur tubuhnya dengan air shower yang hangat, Keira lalu kembali ke kamarnya dan menyiapkan pakaian kerja untuk Alan. Saat itulah, Keira tersenyum ketika mendapati tanggal di kalender yang sengaja ia lingkari dengan bentuk love menggunakan spidol bertinta merah. Hari ini merupakan hari ulang tahun Alan. Setidaknya begitulah catatan kecil yang Keira bubuhkan tepat di bawah tanggal tadi.
Keira beranjak ke dapur sambil mengeringkan rambut panjangnya yang masih basah dengan handuk. Ia ingat, pernah beberapa kali meminta izin pada Alan untuk memotong pendek rambutnya hingga sebahu. Namun, selalu saja perempuan itu mendapatkan penolakan. Menurut Alan, Keira kelihatan cantik dengan rambut panjangnya. Meski tak bisa dimungkiri jika dengan dipotong pendek pun Keira akan tetap tampak menawan. Sejujurnya Alan hanya iseng saja. Satu-satunya alasan pemuda itu meminta Keira untuk tetap mempertahankan rambut legam panjangnya tersebut hanyalah karena Alan suka sekali membelainya. Menurutnya, membelai rambut pasangan adalah salah satu bentuk dari ungkapan perhatian dan kasih sayang.
Keira mencoba membuka kulkas yang isinya nyaris kosong. Tidak ada banyak bahan makanan di dalamnya, selain dua butir telur di sana dan sepotong sosis di dalam freezer. Keira tampak sedikit kecewa, sebelum kemudian ia menyadari kalau kulkas tersebut memang lebih sering dalam keadaan nyaris kosong karena dirinya yang jarang sekali memasak. Dua butir telur yang ada itu pun merupakan sisa bahan minggu lalu ketika ia berusaha memasak menu spanish omelette mengikuti video tutorial di Youtube.
“Untung masih ada sisa telur.” Keira terkekeh kecil. “Setidaknya dengan dua butir telur ini aku bakal kasih Alan surprise kecil-kecilan,” sambungnya lagi sambil mulai memecahkan dua butir telur tadi ke dalam mangkuk. Setelahnya, Keira membubuhkan sedikit garam dan bubuk lada, potongan sosis, serta mengaduk telur tersebut. Setidaknya begitulah cara membuat omelet paling sederhana yang ia ketahui.