Sepuluh tahun yang lalu ...
Keira sedang duduk di taman sekolah seorang diri, masih dengan mengenakan seragam putih yang sudah dipenuhi coretan spidol warna-warni. Sementara itu, tidak jauh dari tempat Keira duduk, teman-temannya yang lain sedang asyik merayakan hari kelulusan mereka dari sekolah menengah atas. Mereka sungguh bersuka cita. Ada yang berfoto bersama, ada pula yang masih saling membubuhkan tanda tangan di seragam rekannya.
“Keira ... ayo gabung sini,” ajak seorang teman Keira yang seragam putihnya sedang ditandatangani oleh rekannya yang lain. “Hari bahagia jangan dibawa murung, Kei,” lanjutnya, membuat Keira hanya bisa tersenyum kecut.
Baru saja Keira hendak berbaur dengan yang lain, gadis itu merasakan ponsel di dalam saku seragamnya bergetar. Keira mengamati layar ponselnya yang berpendar. Rupanya ada sebuah panggilan masuk dari sang mama.
“Ya, Ma,” ujar Keira begitu ia mengangkat panggilan.
“Kamu masih di sekolah, Nak? Masih lama?”
“Iya. Ini bentar lagi juga udah mau pulang.”
“Kalau gitu kamu tunggu di sana aja, ya. Ini Mama sama Papa lagi di dekat SMA-mu. Kita makan siang bareng, ya. Ada yang mau Mama dan Papa sampaikan ke kamu.”
Setelah mengiyakan, Keira langsung menutup telepon dari mamanya itu sembari menghela napas panjang. Semestinya, hari ini Keira merasa bahagia: ia lulus dengan nilai sangat baik. Namun, nyatanya gadis delapan belas tahun itu malah murung dan tidak bersemangat. Selain itu, akhir-akhir ini, semestinya momen makan siang bersama orang tuanya adalah hal yang patut Keira syukuri karena sudah mulai jarang terjadi lantaran kesibukan mereka masing-masing. Belakangan ini juga, sebagai seorang pebisnis, baik mama ataupun papanya, lebih sering menghabiskan waktunya di kantor yang berbeda. Sehingga waktu berkumpul bersama, bisa dibilang merupakan hal yang langka di keluarga kecil Keira.
Satu yang paling mengganjal di pikiran Keira, mengenai kalimat penutup yang mamanya lontarkan tadi di panggilan telepon, bahwa ada yang ingin mereka sampaikan pada dirinya. Keira punya firasat buruk akan hal tersebut. Apalagi tadi malam secara tak sengaja Keira sempat mendengar perdebatan hebat di antara kedua orang tuanya dari dalam kamar mereka yang tidak terkunci rapat. Percekcokan paling sengit yang pernah terjadi. Meski paginya, kedua orang tuanya tersebut berpura-pura seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa malam tadi.
Tidak lebih dari setengah jam, mobil yang Hasan—papa Keira—kemudikan menepi di depan halaman sekolah. Terdengar bunyi klakson yang ditekan dua kali sehingga membuat Keira yang sedang melamun tersadar dan menoleh. Buru-buru gadis itu berpamitan pada teman-teman sekolahnya yang lain.
“Gimana, Kei? Seru acara perayaan kelulusannya?” tanya Hasan ketika putrinya itu sudah duduk di bangku tengah mobil. Sejenak kemudian lelaki berkacamata itu pun kembali menjalankan kendaraannya.
Keira yang tampak tidak bersemangat itu hanya menjawab sekenanya. “Ya ... begitulah.”
“Kok, ogah-ogahan gitu jawabnya?” timpal Wulan, sang mama. Ia memperhatikan wajah Keira dari spion yang ada di atas dasbor.