Keira terbangun di sebuah ruangan serba putih. Aroma obat-obatan seketika menyeruak memasuki hidungnya, lalu tertangkap paru-paru. Keira mencoba menggerakan badannya. Ia menggeliat kecil, seketika rasa sakit dan ngilu menjalar ke seluruh persendian. Gadis itu hanya bisa meringis.
Keira memperhatikan sekitar. Sebuah jarum infus terpasang di tangan kirinya, seperti halnya selang oksigen yang menempel di dekat hidung. Keira mencoba mengingat-ingat, tapi ia tidak begitu ingat apa yang telah menimpanya. Hanya kepalanya yang saat ini terasa ikut nyeri dan berdenyut. Keira sampai harus memegang pelipisnya lantaran pening yang kembali menyergap. Hingga sesaat kemudian, gadis itu mendengar suara pintu yang berderit. Sisil, tantenya, yang baru saja selesai berkonsultasi dengan dokter, masuk dan kaget sekaligus bahagia ketika mendapati keponakan kesayangannya itu sudah sadar dari komanya.
“Kamu udah sadar, Kei? Syukurlah.” Sisil segera mendekati Keira dan mengelus pucuk kepalanya. “Terima kasih, Tuhan.”
Keira menatap Sisil dengan penuh pertanyaan. Untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, Keira pun bertanya. “Aku kenapa, Tan?”
Kali ini Keira berusaha mendudukkan tubuhnya yang masih terasa ngilu di atas tempat tidur. Tahu Keira tidak mampu sendiri, Sisil pun sigap membantunya.
“Kamu beneran enggak ingat, Kei?”
Keira menggeleng. Sepasang matanya menatap kosong ke arah kantong infus yang meneteskan cairan bening ke dalam selang yang menuju nadinya.
“Mobil kalian kecelakaan, ditabrak sebuah truk yang kehilangan kendali.”
Saat mendengar ucapan Sisil itulah, kepingan demi kepingan ingatan di kepala Keira yang sempat hilang seolah-olah kembali. Kepingan ingatan itu menjadi satu kesatuan peristiwa yang utuh. Keira teringat bagaimana keras bunyi hantaman truk ke badan mobil yang ia tumpangi bersama kedua orang tuanya, pecahan kaca yang berserakan di permukaan aspal, juga pemandangan terakhir mengenai tubuh Hasan dan Wulan yang bersimbah darah. Dengan panik, Keira segera menanyakan pada Sisil tentang bagaimana keadaan orang tuanya sekarang. Keira sangat mengkhawatirkan mereka. Ia tentu tidak ingin keduanya kenapa-napa.
“Mama sama Papa, gimana, Tan? Aku pengin liat mereka?”
Keira mencoba bangkit dari atas ranjang rumah sakit. Namun, Sisil segera menghalanginya. “Kamu istirahat dulu aja, Kei.”
“Enggak, Tan. Aku pengin lihat kondisi mereka sekarang. Mereka enggak apa-apa, kan?”
Sisil terdiam. Bibir perempuan yang usianya hanya selisih lima tahun lebih tua dari Keira itu terlihat bergetar. Sepasang matanya juga perlahan mulai basah.