Keira masih berdiri di tepi rooftop rumah sakit. Dadanya sesak, nyeri bukan main. Bahkan ketika mencoba menarik napas dalam-dalam, gadis itu merasa ada sesuatu yang menusuk-nusuk ulu hatinya. Keira tahu bahwa sakit itu bukan sakit yang bisa disembuhkan obat-obatan. Sakit itu berasal dari rasa kehilangan yang sangat. Rasa yang tidak akan bisa ia utarakan dengan kata-kata atau kalimat. Yang Keira tahu saat ini, ia ingin segera menyusul kedua orang tuanya. Tanpa kehadiran Hasan dan Wulan di sisinya, Keira merasa tidak pernah tahu bagaimana cara untuk menghadapi hari-hari yang baginya sungguh akan suram.
Di rooftop itu, Keira yang sejak tadi telah berdiri di bibir pembatas, mulai merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Tumpuan sepasang kaki gadis itu mulai goyah. Angin kencang seketika menerbangkan rambut legam Keira ke segala arah, bahkan menutupi sebagian wajah. Untuk saat ini, Keira ingin menjelma menjadi seekor burung yang bisa bebas terbang ke mana saja. Yang terpenting, menurutnya, burung tidak bisa merasakan kesedihan. Burung juga tidak pernah menangisi kehilangan. Jadi, dengan menjadi burung, Keira ingin hidupnya damai. Terbang tinggi ke angkasa, menembus langit tinggi sepuasnya.
Sekali lagi Keira melemparkan pandangannya ke arah bawah. Rasanya ingin sekali ia segera melompat dari posisinya sekarang agar bisa segera menyusul mama papanya. Ia abaikan perasaan takut dan berdebar ketika berkali-kali tubuhnya itu nyaris oleng. Keira sungguh ingin mengakhiri semua. Hanya saja, di dalam hati kecilnya, tak bisa dimungkiri jika dirinya masih sedikit ragu. Sakitkah ketika tubuhnya kelak mendarat di atas permukaan aspal yang hangat? Langsung matikah ia? Atau malah hanya akan cacat seumur hidup dan malah makin membuatnya menderita? Memikirkan beragam pertanyaan menakutkan di dalam benaknya itu, membuat Keira diam-diam semakin gentar.
Gadis itu menarik napas dalam-dalam. Tekadnya sudah bulat. Mati adalah tujuan yang pasti. Tidak akan ada lagi yang bisa menghentikan niatnya itu. Namun, tepat ketika Keira sudah mengambil ancang-ancang untuk melompat, sebuah suara malah mengagetkannya.
“Kalau takut mati, enggak usah lompat.”
Keira tertegun. Suara asing tadi kini malah membuat Keira melangkah mundur, menjauhi tepian rooftop. Keira kira di siang yang berangin itu hanya dirinyalah yang berada di puncak tertinggi bangunan rumah sakit. Namun, dugaannya tersebut rupanya salah. Saat menoleh ke belakang dan memperhatikan ke sumber suara, Keira menemukan sesosok gadis muda seusianya sedang berdiri di depan pintu rooftop yang terbuka. Karena kedatangan sosok gadis asing tersebut, Keira jadi mengurungkan niatnya untuk melompat. Entah mengapa, ia sama sekali tidak ingin ada saksi mata yang melihatnya bunuh diri.
“Kenapa? Enggak jadi lompat?” tanya gadis itu lagi.
Sambil terbata, Keira mencoba berkilah. “Si—siapa juga yang mau lompat. A—aku cuma pengin cari udara segar.”
Keira semakin menjauhi tepian rooftop, sementara lawan bicaranya yang juga mengenakan pakaian pasien rumah sakit berwarna lazuardi itu malah berjalan ke arah sebaliknya. Ia melongokkan kepala ke bawah, persis seperti apa yang sempat Keira lakukan sebelumnya. Saat itulah, Keira menyadari sesuatu. Dari tubuh gadis di hadapannya itu, Keira bisa mencium aroma busuk yang menyengat. Menusuk hidungnya. Keira tentu tidak asing dengan aroma itu, aroma yang persis sama dengan apa yang sempat menguar dari tubuh Hasan dan Wulan sesaat sebelum mengalami kecelakaan. Seketika, bulu kuduk Keira meremang.
“Setiap orang akan punya masalahnya masing-masing,” ujar gadis yang kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Airani. “Aku Airani,” katanya.
“Aku Keira.” Secara otomatis Keira balas mengenalkan dirinya. Setelah perkenalan singkat itu, Keira memandangi Airani dengan tatapan heran. Ia masih belum paham mengenai muasal aroma menyengat yang menyeruak dari tubuh Airani. “Mau nyari angin juga?”
Airani menggeleng. “Bunuh diri.”
Keira tersentak. Semudah itu Airani berkata dengan pasti mengenai rencananya untuk bunuh diri. Tak jauh dari situ, Airani membalas tatapan kaget Keira dan melangkah mendekatinya.
“Seperti kataku tadi, setiap orang punya masalahnya masing-masing.”