Aroma Kematian

Alfian N. Budiarto
Chapter #5

Bab 5

Keira terbangun di sebuah ruang perawatan rumah sakit. Ia kembali memperhatikan apa-apa yang ada di dekatnya: selang infus yang masih menancap di punggung tangan kiri, tirai jendela berwarna putih, juga vas bunga di atas nakas di samping ranjangnya. Kepala Keira lagi-lagi berdenyut. Ia merasa mimpinya barusan sedemikian nyata. Barangkali semua itu lantaran dirinya yang sudah terlalu bosan berdiam diri di atas tempat tidur dan ingin sekali menghirup udara segar di luar sana.

Di mimpinya barusan, Keira merasa ada yang cukup aneh. Bagaimana bisa ia mengingat setiap detail yang terjadi. Padahal selama ini, setiap kali terjaga dari mimpi, Keira akan langsung melupakan beberapa bagian dari bunga tidurnya tersebut, termasuk nama dan wajah yang bisa muncul secara random. Namun, di mimpinya sesaat lalu, Keira bisa mengingat dengan jelas wajah gadis asing bernama Airani, juga bagaimana ia menceritakan kisahnya, termasuk detik-detik ketika gadis berwajah pucat itu nekat melompat dari atas rooftop dan kemudian mati terkapar. Mengingat kepingan-kepingan mimpi buruk itu saja sudah mampu membuat bulu kuduk Keira bergidik ngeri. Untuk menenangkan diri, Keira menarik napas dalam-dalam melalui hidung, lalu mengembuskannya perlahan keluar dari mulut.

Tak lama, tiba-tiba saja terdengar derit suara pintu yang didorong dari arah luar. Keira menoleh dan langsung menemukan wajah Sisil yang kaget sekaligus bahagia. “Kamu sudah sadar, Kei? Syukurlah. Terima kasih, Tuhan.”

Keira bingung. Seketika ia merasa sedang mengalami deja vu. Lebih tepatnya, gadis itu merasa pernah mendapati pertanyaan yang sama dari tantenya itu. Terlebih, Keira ingat betul ekspresi kebahagiaan di wajah Sisil yang khas tadi.

“Aku kenapa, Tan?” Sesungguhnya Keira tidak ingin mengajukan pertanyaan itu, tapi entah mengapa justru kalimat itulah yang keluar dari mulutnya.

“Kamu beneran enggak ingat, Kei?” Sisil menjeda sejenak ucapannya. Wajahnya berubah sedih. “Mobil kalian kecelakaan, ditabrak sebuah truk yang kehilangan kendali.”

Saat mendengar ucapan Sisil itulah, Keira sadar kalau saat ini ia bukanlah sedang merasa deja vu, melainkan waktu telah benar-benar berulang. Keira yakin itu. Sebab, apa yang diucapkan Sisil barusan sama persis seperti apa yang pernah Keira dengar sebelumnya.

“Mama dan Papa ....”

Keira ingat, pasti setelah ini, Sisil akan menjelaskan kepadanya mengenai kondisi kedua orang tuanya yang sudah tewas dalam kecelakaan. Benar saja, hanya dalam hitungan detik, Sisil menyampaikan hal tersebut.

“Kamu yang sabar, ya, Kei. Mereka sekarang sudah tenang di surga.”

Meski saat ini hatinya sedih, tapi Keira tidak lagi menangis seperti sebelumnya. Sebab, ia seperti sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya: gerak-gerik Sisil, juga kalimat yang akan terlontar dari mulut adik kandung ibunya itu.

Apa yang Keira alami sungguh tidak bisa dicerna oleh logika. Bagaimana mungkin waktu bisa terulang kembali? pikir gadis itu. Keira lalu memperhatikan setiap detail yang terjadi: Sisil yang membantunya untuk menegakkan sandaran tempat tidur, menyodorkan minum, membuka tirai jendela yang semula tertutup, hingga pamit untuk berkonsultasi dengan dokter dan menebus obat di apotek. Semuanya sama persis. Tidak ada yang berubah sama sekali ataupun luput dari ingatan Keira.

Tubuh Keira berkeringat. Padahal mesin pendingin ruangan di kamarnya sedang bekerja dan indikator menunjukkan suhu 18 derajat. Jika waktu memang benar-benar berulang, saat ini yang paling Keira takutkan adalah di atas rooftop sana, jangan-jangan ada sosok Airani yang sebentar lagi akan melakukan bunuh diri. Keira mencoba memahami jika yang semula sempat ia kira sebagai mimpi buruk tadi kemungkinan terbesarnya adalah kilas kejadian nyata.

Keira bingung. Ia panik bukan main ketika harus membayangkan kembali bagaimana tubuh Airani yang kelak bersimbah darah di atas aspal lahan parkir rumah sakit. Tubuh Keira gemetar hebat, seiring bulu kuduknya yang kembali berdiri.

Di satu sisi, Keira merasa tidak akan sanggup jika dipaksa harus kembali melihat kematian Airani yang mengenaskan. Walaupun di sisi lain, ia ingin sekali bisa menyelamatkan nyawa gadis itu. Terlebih, Keira kembali teringat ucapan Airani di masa sebelumnya bahwa gadis itu memang telah berniat untuk benar-benar mati. Selain demi tak ingin merepotkan sang kakak laki-lakinya, Airani juga mengaku sudah terlalu lelah menjalani semua proses pengobatan dan kemoterapi yang sangat menyakitkan.

Keira dipeluk kebimbangan. Hingga pada akhirnya Keira memutuskan untuk melepaskan selang infus yang menancap di punggung tangan kirinya, lalu dengan tertatih-tatih mendaki anak tangga menuju rooftop. Sebenarnya, Keira berniat untuk tidak ikut campur dengan takdir kematian Airani. Ditambah lagi, di pertemuan pertamanya dengan Airani di rooftop yang sebelumnya, Keira juga bisa mencium dengan jelas aroma busuk menyengat yang menguar dari tubuh gadis itu. Aroma kematian. Itu tandanya memang Airani sudah digariskan untuk mati hari ini. Meski demikian, Keira juga tidak bisa mengabaikan niatan di dalam hati kecilnya untuk menyelamatkan Airani. Keira kini tahu bahwa ternyata ia mempunyai penciuman yang tajam atas diri orang-orang yang akan segera meninggal.

Dulu, Keira yang belum menyadari kemampuan spesialnya itu tak bisa berbuat apa-apa meski kematian telah memberinya isyarat melalui aroma busuk menyengat yang menguar dari tubuh papa dan mamanya. Akibatnya, nyawa kedua orang tuanya itu tak bisa ia selamatkan. Lain halnya dengan apa yang akan menimpa Airani. Keira merasa ia diberi kesempatan untuk bisa menyelamatkan nyawa gadis itu. Alhasil, setelah tiba di rooftop dan menunggu selama beberapa menit, Keira mendapati Airani akhirnya juga muncul di sana. Tanpa basa-basi, Keira langsung berusaha menghentikan niat Airani yang hendak mengakhiri hidupnya sebentar lagi.

“Aku tau kamu enggak mau terus-terusan merepotkan kakak laki-lakimu. Aku juga tau kalau pasti enggak mudah menjadi pasien kanker stadium akhir sepertimu. Tapi, aku mohon kali ini berjuanglah. Jangan sia-siakan sisa hidupmu. Jika memang kamu tetap ingin mati, tunggulah waktu yang akan menjemputmu,” ujar Keira panjang lebar, lebih tepatnya ia mulai menyadari kalau niatnya untuk bunuh diri di masa sebelumnya adalah hal yang bodoh. Keira pun berharap agar nasihatnya barusan juga dapat menyadarkan Airani.

Mendengar kalimat Keira tersebut tentu saja langsung membuat Airani bingung. Bagaimana mungkin perempuan di hadapannya itu bisa tahu kalau hari ini ia telah berencana untuk mengakhiri hidup.

“Kamu tahu semua itu dari mana?” tanya Airani dengan sepasang mata yang membulat lebar. Ia sungguh tidak mampu menyembunyikan rasa penasaran sekaligus kebingungan di sorot mata tersebut.

“Tidak penting aku tahu dari mana. Anggap aja aku adalah sosok yang berusaha menyelamatkanmu di kesempatan kedua yang telah Tuhan berikan.”

Tanpa diduga, Airani malah terkekeh. “Menyelamatkanku? Mana ada yang bisa menyelamatkanku? Dokter bahkan sudah menyerah.” Setelah mengatakan kalimat demikian, aroma busuk kematian tiba-tiba saja mulai menguar dari tubuh Airani. Menyadari hal itu, Keira kembali panik. Ia baru saja ingin menasihati Airani sekali lagi sebelum kemudian gadis itu yang justru lebih dulu membuka suara. “Satu lagi, jangan pernah bawa-bawa nama Tuhan di hadapanku.”

Keira tertegun. Ia melihat kabut telah mengembun di mata Airani. Seperti sebelumnya, Airani lantas mengeluarkan sepucuk amplop berwarna merah yang ia tujukan kepada kakak laki-lakinya dan ia letakkan begitu saja di atas lantai rooftop.

“Kalau kamu bertemu dengan kakakku, tolong sampaikan ini pada–”

Lihat selengkapnya