Keira mulai mengemasi barang-barangnya ke dalam tas. Menurut hasil pemeriksaan dokter terakhir, kondisi Keira sudah pulih dan membaik. Ia hanya perlu melakukan rawat jalan dan kontrol rutin setiap seminggu sekali untuk melihat perkembangannya.
Sebentar, Keira yang sudah selesai berkemas, menoleh ke arah arah jendela. Diam-diam, kematian Airani kemarin masih saja berkelindan di dalam pikiran Keira. Padahal kematian gadis muda itu murni karena kecelakaan dan bukanlah karena kesalahannya. Namun, tetap saja, Keira merasa dirinya semestinya bisa menyelamatkan nyawa Airani meski itu artinya ia harus mencurangi kematian. Namun demikian, meski pada akhirnya Airani tetap saja tewas, anehnya waktu tidak kembali berulang. Keira jadi bertanya-tanya alasan sebenarnya mengapa Tuhan memberinya kesempatan mengulang waktu, juga kemampuan untuk dapat mencium aroma kematian dari mereka yang akan mati jika ia saja tidak bisa menyelamatkan orang tersebut.
Sembari menunggu Sisil yang sedang menyelesaikan semua administrasi rumah sakit, Keira mencoba mencari udara segar dengan berjalan-jalan di sekitar koridor kamarnya. Ia berharap suatu saat nanti dirinya tak perlu kembali ke bangunan serba putih yang beraroma obatan-obatan ini. Karena sejak hari kemarin, rumah sakit seolah-olah telah berhasil menciptakan kenangan buruk tersendiri bagi Keira. Apalagi, kini, ketika sedang menyusuri kamar-kamar berisi pasien sekarat, selain mencium aroma pahit obat-obatan, Keira juga bisa mencium aroma busuk kematian yang menyembul dari balik pintu-pintu kamar rawat inap yang tidak tertutup rapat. Karenanya, Keira memilih untuk memutar haluan dan kembali ke kamarnya saja. Berjalan-jalan nyatanya bukanlah sebuah pilihan yang bijak.
Namun, ketika sampai di salah satu persimpangan koridor, tidak sengaja sepasang mata Keira mendapati pemandangan yang menarik perhatiannya. Sekitar sepuluh langkah dari posisinya berdiri, Keira mendapati seorang pemuda berambut cepak yang sedang membungkukkan badan dan berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada beberapa orang perawat bermata sembap. Dari pembicaraan yang Keira dengar, gadis itu jadi tahu kalau ternyata pemuda itu adalah kakak laki-laki Airani yang bunuh diri kemarin.
“Terima kasih untuk semua perhatiannya pada Airani,” ujar pemuda itu santun. “Maaf kalau selama adik saya dirawat di rumah sakit ini dia sering merepotkan kalian,” sambungnya lagi.
“Kami turut berduka cita, ya, Alan.” Seorang di antara perawat itu lantas menyeka matanya yang basah dengan menggunakan tisu.
“Aku juga enggak pernah nyangka kalau Airani akan pergi secepat ini. Aku pikir, Airani bakal bertahan dari penyakitnya sampai akhir. Namun, nyatanya ... ah, sudahlah. Aku enggak mau terus-terusan sedih. Yang paling aku sayangkan aku belum sempat pamitan padanya. Adikku itu juga enggak ninggalin pesan apa pun untukku,” balas pemuda bernama Alan itu.
Keira yang mendengar ucapan kakak laki-laki Airani itu pun jadi teringat sesuatu. Keira ingat akan surat yang pernah ditulis Airani untuk Alan dan sempat gadis itu tinggalkan di lantai rooftop pada kejadian sebelumnya. Meski Airani tidak jadi melompat seperti kejadian sebelumnya, tapi semestinya di lantai atas sana, tetap ada surat untuk Alan. Atau jangan-jangan belum ada yang menemukannya sehingga surat tersebut tidak pernah sampai ke tangan Alan? Karenanya, gadis tersebut pun bergegas menuju ke tempat kejadian.