Aroma Kematian

Alfian N. Budiarto
Chapter #7

Bab 7

Keira masih memeluk tubuh Alan dengan begitu erat. Air mata yang luruh dari sepasang mata perempuan itu terus mengaliri pipi, lalu jatuh di pundak Alan. Tentu saja hal itu semakin membuat suami Keira itu penasaran.

“Kamu kenapa, Kei? Coba cerita ke aku.”

Keira masih diam. Ia seolah-olah sengaja mengunci rapat-rapat bibirnya. Tidak ingin menggubris pertanyaan Alan yang khawatir padanya tersebut. Air mata Keira yang mengalir menganak sungai tadi belum menunjukkan pertanda akan segera berhenti. Sementara indra penciumannya saat ini masih mendapati aroma busuk serupa bangkai yang menguar dari tubuh Alan. Jika dugaannya benar, juga seperti kejadian yang sudah-sudah, sebentar lagi Alan akan segera meninggal. Seperti halnya yang dulu pernah terjadi pada kedua orang tuanya dan juga Airani. Dari tubuh ketiga orang tersebut menguar aroma kematian, sesaat sebelum mereka semua tewas dengan cara yang mengenaskan. Aroma yang sama persis dengan yang menyeruak dari tubuh Alan saat ini.

Alan yang penasaran pun masih terus berusaha mengorek informasi dari bibir Keira yang terkatup rapat. Tidak seperti biasanya Keira jadi sependiam ini. Biasanya perempuan di hadapannya ini akan jujur dalam segala hal, baik yang kecil dan tidak terlalu penting sampai ke hal-hal serius. Tidak perlu dipaksa untuk bicara seperti sekarang, Keira akan dengan lancar memulai pembicaraan.

“Kei ...,” bujuk Alan lagi. Namun, Keira tetap memilih bungkam dan hanya menggelengkan kepala pelan. Ia seka pipinya yang basah dengan menggunakan telapak tangan. Alan tahu persis kalau Keira pasti sedang menyembunyikan rahasia besar. Walau demikian, lelaki itu tidak tahu bagaimana cara agar membuat Keira mau jujur. “Kamu sakit? Kalau ada apa-apa, bicara. Jangan diamkan aku seperti ini,” sambung Alan yang lagi-lagi hanya ditanggapi Keira dengan sebuah gelengan lemah.

Keira tentu takut Alan bakal kenapa-kenapa, apalagi jika harus kehilangan Alan untuk selama-lamanya. Keira merasa belum siap. Namun, seperti yang sering ia dengar dari mulut orang-orang bahwa kehilangan tidak pernah pandang bulu, tidak pernah menunggu sang pemiliknya bersiap terlebih dahulu. Kehilangan bisa terjadi kapan saja: tanpa isyarat ataupun pertanda, lalu datang dengan tiba-tiba. Demikianlah pula konsep kematian yang selama ini Keira yakini. Lagi-lagi Keira mencoba mengingkari intuisinya sendiri yang mengatakan bahwa Alan tak bakal mati hari ini. Ia masih belum banyak menghabiskan kebersamaan dengan sang suami. Ditambah usia pernikahan mereka yang masih sedemikian ranum. Lebih muda dari umur jagung yang bisa dipanen sejak benihnya ditanam ke tanah.

Di tengah segala ketakutannya itu, Keira kembali melayangkan sebuah permintaan yang terdengar agak aneh di telinga Alan. Lebih tepatnya sebuah pelarangan yang tak biasa. “Mas, aku mau kamu enggak ke kantor hari ini. Tolong temani aku di sini,” pinta Keira pada Alan dengan nada lirih.

“Tapi, Kei, aku ada rapat penting dengan atasan hari ini. Ada data yang harus aku presentasikan dan serahkan ke beliau. Kalau tidak—”

Alan mencoba untuk memberi pengertian, sebab rapat yang harus ia hadiri hari ini bukanlah rapat sembarangan. Sebagai analis data produksi, ada laporan triwulan yang perlu ia kemukakan dalam forum tersebut. Pun ada temuan beberapa titik kritis yang perlu diwaspadai dan diperbaiki agar kuantitas serta kualitas barang produksi yang dihasilkan tidak melenceng dari perencanaan. Namun penjelasan singkat tersebut nyatanya tak mampu meluluhkan permintaan Keira. Istrinya itu seperti tidak mau tahu, seolah-olah tidak ingin mengerti sama sekali.

“Mas, tolong dengerin aku. Kali ini aja. Lagi pula ini, kan, hari ulang tahunmu,” potong Keira.

“Kalau kamu emang mau ngerayain ulang tahunku, abis aku pulang dari kantor, kan, bisa, Kei. Enggak mesti pagi ini juga.” Alan terus mendebat istrinya. Baginya, rapat pagi ini adalah rapat penting yang tidak bisa seenaknya ia tinggalkan tanpa alasan yang sangat mendesak. Apalagi kemarin ia sudah mengiyakan berulang kali ketika sang atasan menghubungi dan menanyakan perihal presentasi finalnya.

“Mas!” Suara Keira terdengar meninggi. Lebih tepatnya intonasi perempuan itu persis seperti seseorang yang sedang membentak lawan bicaranya.

Tentu saja hal itu membuat Alan kaget. Ia sama sekali tidak menyangka jika Keira lagi-lagi membentaknya. Ini kali kedua Keira melontarkan ucapan dengan intonasi yang sedemikian tinggi. Padahal, sedari dulu, Keira hampir tidak pernah membentak Alan. Keira selalu bisa sabar menghadapi segala hal. Namun, tidak kali ini. Mendengar istrinya itu sedemikian marah untuk alasan yang sungguh-sungguh tidak ia ketahui, Alan hanya bisa menghela napas panjang dan menuruti permintaan sang istri. Meski urusan kantor terbilang sangat penting baginya, tapi Alan juga tidak bisa menomorduakan pasangan hidupnya.

Bagi Alan, Keira adalah perempuan yang akan menemaninya menghabiskan usia senja bersama, sehidup semati. Tidak pernah tebersit sedikit pun di pikiran lelaki itu keinginan untuk menyakiti apalagi sampai mengkhianati sang istri. Maka, kali ini, walaupun agak berat, Alan mencoba memahami kalau istrinya itu pasti sedang benar-benar membutuhkan kehadiran dirinya

“Baiklah,” ujarnya pelan sembari meraih ponsel dari saku celananya. Alan lalu menuju ke balkon apartemen mereka yang berada di lantai 3.

Lihat selengkapnya