Aroma Kematian

Alfian N. Budiarto
Chapter #8

Bab 8

Waktu itu, Keira baru saja resmi menyandang status sebagai mahasiswa baru di Universitas Nusantara. Bukan hal mudah bagi gadis itu untuk memutuskan melanjutkan kuliah. Pasalnya, dua tahun sejak kematian kedua orang tuanya, Keira lebih banyak menghabiskan waktu dengan berdiam diri di rumah. Sesekali hanya Sisil yang setia datang menjenguk, sekadar memastikan kalau keponakannya itu baik-baik saja.

Sebenarnya, sudah berkali-kali Sisil mengajak Keira untuk mau tinggal serumah dengannya. Namun, Keira terus-terusan menolak dengan alasan tidak ingin merepotkan tantenya itu. Apalagi kini Sisil sudah menikah. Meski sejujurnya sang suami sudah mengizinkan, tapi Keira tetap tidak ingin mengubah keputusan.

Sejak kehilangan kedua orang tuanya, Keira sudah menganggap Sisil sebagai sosok pengganti sang mama. Walau pada kenyataannya jika ditilik dari sisi usia, Sisil lebih cocok ia anggap sebagai sahabat sekaligus kakak perempuannya. Pada Sisil, Keira bisa meluapkan segala perasaannya tanpa ada rasa canggung. Syukurlah, Sisil merupakan seorang pendengar yang baik.

Meski demikian, proses yang harus Keira lalui pasca kematian orang tuanya tetaplah panjang. Bahkan ketika beberapa bulan lalu Keira menyampaikan rencananya untuk melanjutkan pendidikan ke bangku perkuliahan sebagaimana harapan almarhumah ibunya, Sisil riang bukan main. Perempuan itu serta merta memeluk Keira sambil melonjak kegirangan.

Sisil tahu ini adalah awal baru bagi Keira untuk lebih terbuka pada dunia luar setelah dua tahun belakangan gadis itu lebih sering mendekam di rumah. Keponakannya itu jarang bersosialisasi dengan lingkungan, bahkan untuk makan sekalipun. Keira lebih banyak memesan makanan online ketimbang membelinya langsung di restoran. Sisil juga tidak pernah mengeluh ataupun merasa direpotkan dengan rutinitasnya mengisi dompet digital milik Keira setiap minggunya. Yang terpenting bagi Sisil, keponakan kesayangannya itu bisa bangkit dan kembali menyongsong masa depan yang masih panjang.

“Kamu beneran serius, kan, Kei, mau kuliah?”

Sisil yang kala itu masih tidak percaya dengan keputusan Keira yang ia anggap cukup tiba-tiba itu hanya mematung. Sepasang matanya lekat memandangi wajah Keira yang sama sekali tidak tertawa. Awalnya Sisil kira ini hanyalah sebuah prank sebagaimana video yang sering ia tonton melalui kanal Youtube. Namun, ketika Sisil berhasil menemukan keseriusan di wajah keponakannya itu, ia jadi seratus persen yakin. Dadanya hangat bukan main. Di detik itu, tidak ada hal yang lebih menggembirakan dari kabar yang baru saja terlontar dari bibir Keira tersebut.

“Kalau gitu, jangan lupa buat langsung cari pacar dan nikah, ya, Kei. Biar enggak sendirian lagi,” celetuk Sisil menggoda Keira sambil berlinang air mata kebahagiaan. Namun, permintaan itu malah sukses membuat Keira tersenyum lepas untuk kali pertama setelah kepedihan yang berkepanjangan.

“Tante, aku masih dua puluh tahun. Masih terlalu muda untuk nikah.”

Sambil menyeka air matanya, Sisil ikut tertawa. “Itu bukan urusanku. Yang penting aku mau lihat kamu bahagia. Itu aja.”

“Emangnya cuma nikah yang bisa bikin aku bahagia? Masih banyak hal lain yang bisa bikin aku bahagia, Tan.”

“Contohnya?”

Keira pura-pura berpikir. “Punya tante seperti Tante Sisil.”

Mendengar itu, sekali lagi Sisil memeluk erat tubuh Keira. “Tante juga bahagia punya keponakan cantik kayak kamu, Kei. Ya ... walaupun terkadang agak menyebalkan, sih.” Sisil mencubit pucuk hidung Keira yang agak mancung seperti mamanya.

Mengingat semua kejadian yang terjadi beberapa bulan lalu itu, membuat Keira tersenyum. Namun, senyum Keira tersebut tidak berlangsung lama. Sebab, jam di pergelangan tangannya saat ini sudah hampir menunjukkan pukul delapan pagi. Sementara taksi online yang ia tumpangi untuk menuju ke kampus di hari pertamanya kuliah malah terjebak macet. Gadis itu langsung panik. Di luar, suara klakson kendaraan terdengar saling bersahutan. Berisik sekali. Hal itu menandakan jika para pemilik kendaraan sepertinya sudah tidak lagi mampu menahan kesabaran. Barangkali mereka juga mengalami apa yang Keira alami: nyaris terlambat untuk urusan mereka masing-masing.

Keira tahu kalau hari ini ia akan datang terlambat menghadiri kegiatan masa orientasi kampus bagi mahasiswa baru. Keira mulai was-was karena tentu ia tidak ingin menjadi pusat perhatian karena datang telat. Begitu taksi online yang ia tumpangi menepi di depan gerbang kampus, Keira buru-buru berlari menuju sebuah lapangan terbuka, tempat semua mahasiswa baru dikumpulkan dan akan menjalani masa perkenalan kampus. Dari kejauhan, Keira sudah bisa melihat sekumpulan mahasiswa baru dengan jaket almamater tengah berkumpul dalam barisan besar.

Lihat selengkapnya