Keira merasakan tenggorokannya mulai sedikit kering dan agak gatal. Karenanya, gadis itu pun mencoba kembali menyeruput sisa sepertiga es jeruk di hadapannya agar bisa membasahi tenggorokannya tersebut. Masih terlihat jelas kalau Keira berusaha menghindari tatapan Alan yang terus menantikan jawaban.
“Berapa lama lagi kamu mau menghindari pertanyaan sederhanaku ini, Kei?”
Keira nyaris tersedak ketika Alan melontarkan kalimat barusan. Laki-laki itu seolah-olah tahu kalau sedari tadi Keira sedang menyembunyikan kebenaran. Dan kini, Keira tidak bisa lagi berkutik. Buru-buru ia menarik selembar tisu dari atas meja dan mengusap bibirnya yang mendadak basah.
“Asal kamu tau, Airani itu enggak pernah punya banyak teman,” sambung Alan lagi.
Setelah sekian lama membisu, Keira pada akhirnya memutuskan kembali mengarang jawaban agar Alan tidak semakin curiga. “A—aku memang teman Airani. Kami belum lama kenal di rumah sakit.”
“Rumah sakit? Jadi kamu cuma kenal Airani pas di rumah sakit itu?” ujar Alan kemudian. Sepertinya pemuda itu sudah putus asa dan menyerah. Ia tidak ingin lagi memperpanjang masalah mengenai apakah Keira teman Airani atau bukan. Sebab, ada hal yang jauh lebih penting dari itu yang selama ingin Alan sampaikan ke Keira.
Keira baru saja hendak menghela napas lega, ketika Alan lagi-lagi melontarkan kalimat yang mampu membuat dada gadis itu sedikit was-was. “Aku kenal betul gimana adikku itu. Dia enggak bakal mudah percaya sama orang lain. Tapi, oke, anggap aja aku percaya kata-katamu.” Alan sengaja menjeda sebentar kalimatnya. “Sebenarnya, aku cuma mau bilang terima kasih ke kamu waktu itu. Berkat surat dari Airani itu aku jadi bisa ngerti apa yang diam-diam adikku itu rasakan dulu. Rupanya Airani sangat tersiksa dengan penyakitnya. Berkat pesan terakhir itu juga, pelan-pelan aku jadi bisa mengikhlaskan kepergiannya. Sebagai rasa terima kasihku ke kamu, aku bakal traktir kamu apa aja sepuasnya selama seminggu ke depan.”
Mendengar penjelasan Alan itu, beban berat yang sedari tadi bergelayut di kepala Keira langsung luruh seketika. Keira benar-benar merasa lega.
“Kamu mau, kan, Kei?”
Sadar kalau dirinya belum memberikan jawaban, dengan cepat Keira berusaha menolak. “Eng—enggak usah ....”
“Peraturan nomor satu: enggak boleh nolak ajakan senior atau kamu mau kena hukuman.”
“Terus ... peraturan nomor duanya?”
“Nomor dua: junior enggak boleh banyak tanya kalau enggak mau dapat masalah dari seniornya.”
Keira mulai panik. Namun, ketika melihat Alan yang kemudian tertawa lepas saat mendapati kepolosan wajahnya, Keira langsung tahu kalau ia baru saja dikerjai.
“Bercanda, kan?”
Alan mengangguk. “Jangan terlalu serius. Hidup ini udah terlalu serius buat diseriusin. Sesekali ajak bercanda.”
Alan kembali tersenyum. Manis sekali. Itu berhasil membuat dada Keira berdetak kencang. Ia bahkan salah tingkah dibuatnya. Untuk mengalihkan perasaan yang tak menentu, Keira melemparkan pandangannya ke arah lain. Namun, justru pandangannya itu tertuju para sekumpulan mahasiswi yang rupanya sedari tadi memperhatikan mereka.
“Kenapa kita jadi pusat perhatian?” tanya Keira penasaran pada Alan.