Aroma Kematian

Alfian N. Budiarto
Chapter #10

Bab 10

Keira tidak menyangka jika kemampuan indra penciumannya yang bisa mengendus aroma kematian dan semula ia anggap sebagai kutukan itu nyatanya bisa menyelamatkan nyawanya dan juga Alan. Kecelakaan tragis yang menewaskan belasan mahasiswa di kampusnya itu tentu saja langsung menjadi headline news di mana-mana dan mengundang banyak ucapan belasungkawa dari para rekan korban yang ditinggalkan. Hampir sebagian besar mahasiswa Universitas Nusantara menjadikan kecelakaan nahas itu sebagai bahan obrolan. Termasuk Alan dan juga Keira yang sedang duduk di kafe dekat kampus. Kali ini, Alan memilih mencari suasana baru untuk mengerjakan skripsinya yang sudah hampir rampung, tentu saja dengan ditemani Keira seperti biasanya.

“Bus itu yang kemarin hampir kita tumpangi, loh, Kei. Untung kamu langsung narik aku turun. Kalau enggak ... aku enggak tau bakal gimana nasib kita.” Alan merasa bersyukur karena Tuhan masih memberi mereka kesempatan untuk hidup dan menghirup udara bebas. “Ngomong-ngomong kenapa waktu itu kamu narik tangan aku? Atau jangan-jangan kamu punya firasat buruk dengan bus itu?” Alan mencoba menerka-nerka. Sebab, ia merasa baru saja mengalami sebuah keajaiban yang tidak mampu dinalar logika. Sebuah kebetulan sekaligus keberuntungan yang tidak semua orang pernah alami. Apalagi berkaitan dengan nyawa.

“Waktu itu aku emang lagi ngerasa enggak enak badan. Apalagi pas naik, udara di bus itu dipenuhi asap rokok. Kamu, kan, tau kalau aku enggak suka banget sama bau asap rokok. Daripada aku makin mual, aku pikir mending kita turun aja,” ujar Keira berdusta. Lagi dan lagi, ia tidak ingin dicap aneh jika Alan tahu dirinya bisa mencium aroma kematian.

“Bener kata orang, kalau belum waktunya, kematian enggak akan datang ke orang yang salah.”

Keira hanya mengangguk kecil. Ucapan Alan itu malah memancing rasa penasarannya mengenai Airani. Meski mereka sudah resmi berpacaran, tapi Alan belum pernah menceritakan detail penyakit yang adiknya itu idap. Keira juga penasaran mengenai perjuangan Alan yang mengusahakan agar Airani bisa sembuh dari penyakitnya. Juga bagaimana sayangnya pemuda itu pada sang adik. Keira ingat pesan mamanya dulu mengenai kriteria untuk mencari pendamping hidup: “Carilah laki-laki yang sangat menyayangi orang tua dan juga keluarganya, dengan begitu ia juga pasti akan bisa menyayangimu dengan sepenuh hati. Laki-laki yang dididik dengan kasih sayang, maka kelak ia akan bisa membahagiakan anak dan istrinya.”

Karena selama ini Keira telah merasa nyaman dan cocok dengan Alan, maka ia tinggal butuh satu alasan kuat lagi untuk meyakinkan kalau Alan adalah benar jodohnya. Bahwa Alan adalah sosok yang tepat untuk ia jadikan imamnya kelak ketika mereka sudah resmi melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi: pernikahan. Apalagi Keira juga diam-diam menyimpan ketakutannya tersendiri mengenai perselingkuhan yang pernah papanya lakukan di belakang sang mama. Keira tidak ingin hal itu terjadi di keluarganya kelak. Jadi, Keira ingin lebih selektif dalam memilih. Meski tahu kalau Alan adalah calon yang sempurna baginya, tapi tetap saja Keira tak bisa menghilangkan overthinking di dalam kepalanya.

“Boleh aku nanya sesuatu tentang Airani?” tanya Keira. Pandangannya tampak mengawang.

Alan yang agak kaget dengan pertanyaan Keira, mengalihkan pandangannya ke wajah gadis berambut legam di sebelahnya. Kali ini ia juga menutup layar laptopnya karena tahu percakapan yang akan terjadi di antara mereka bakal sangat panjang dan menarik.

“Tentu boleh,” jawab Alan kemudian. “Tanyakan aja, Kei.”

Keira mengedikkan bahu. “Berapa lama Airani sakit?”

Alan langsung melemparkan tatapannya ke dalam sepasang manik mata Keira yang bulat. “Bukannya katamu dulu kalian berteman?”

Keira hampir lupa kebohongan yang dulu sempat ia ucapkan pada Alan. Untuk menutupi hal tersebut, Keira mencoba membuat alibi. “Aku baru mengenalnya sebentar. Itu pun saat kami sama-sama dirawat di rumah sakit. Jadi, aku belum sempat nanya banyak hal ke Airani, selain dia yang bilang kalau sakitnya sudah makin parah.”

Lihat selengkapnya