Lamunan Keira mengenai kebersamaannya dengan Alan di masa lalu terpaksa harus buyar ketika ponsel yang tadi ia letakkan di atas meja berdering. Cepat-cepat Keira menyeka sisa air matanya dan menerima panggilan yang ternyata dari seorang kurir pengantar kue. Dari informasi yang Keira dengar dari penuturan si kurir, Sisil yang memesan kue tersebut untuk dirinya dan Alan. Memang, selama ini tantenya tersebut tidak pernah sekali pun melupakan hari ulang tahun Keira maupun Alan. Di setiap hari jadi mereka, selalu ada kiriman kue dengan beragam ucapan kasih sayang di dalamnya.
“Oke, Mas, tunggu di lobi. Sebentar lagi saya turun,” ucap Keira dengan suara yang masih serak.
Keira lalu menutup panggilan telepon tersebut dan menyeka sisa air mata di pipinya. Baru saja Keira hendak beranjak pergi, pertanyaan Alan sejenak menghentikan langkahnya.
“Mau ke mana, Kei?”
Keira menoleh. “Ambil kue kiriman dari Tante Sisil. Katanya untukmu.”
Segera Alan menawarkan untuk menggantikan peran istrinya itu mengambil kue di lantai dasar. “Biar aku saja, Kei, yang ambil. Kamu istirahat aja di sini. Matamu kelihatan bengkak.”
Keira langsung menggeleng cepat. Lagi-lagi ia kepikiran kalau di luar sana nantinya, Alan akan mengalami sesuatu yang berbahaya yang dapat mengancam jiwa lelaki itu. Tidak mau Alan kenapa-kenapa, Keira kembali melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar. “Biar aku aja.”
“Kamu yakin?”
Kali ini Keira mengangguk mantap. Sebelum menutup pintu dan meninggalkan kamar apartemennya, Keira kembali berujar. “Tolong jangan ke mana-mana, tunggu aja di sini, Mas.”
Mau tidak mau Alan hanya bisa mengangguk. Tidak lama setelahnya, terdengar suara pintu apartemen yang ditutup dari luar. Di tempatnya duduk tersebut, Alan mencoba memikirkan ucapan Keira barusan dan mempertanyakan kenapa tiba-tiba Keira se-over protektif ini. Alan jadi khawatir. Ia yakin Keira sedang tidak baik-baik saja. Diam-diam, untuk bisa menjaga perempuan kesayangannya itu dari belakang, Alan malah menyusul Keira ke lobi. Selain itu, Alan juga merasa Keira masih menyembunyikan sesuatu darinya. Seperti sebuah rahasia yang tidak mudah untuk diungkapkan. Padahal selama delapan tahun mereka berpacaran hingga dua bulan lalu menikah, menurutnya istrinya itu selalu jujur dalam segala hal. Namun, tidak hari ini. Keira seperti menyembunyikan kesedihan di belakangnya. Terbukti, sejak tadi, tanpa alasan yang jelas Keira tiba-tiba menangis tanpa mampu menjelaskan apa yang sebenarnya perempuan itu alami dan rasakan.
Di dalam lift yang bergerak turun, Keira masih saja memikirkan beragam kemungkinan maupun penyebab kematian Alan nantinya. Jika dirinya bisa menebaknya, maka setidaknya Keira punya kesempatan untuk bisa mencegah kematian Alan. Ia masih belum rela jika nyawa suaminya itu harus terenggut di hari ini. Keira merasa masih banyak hal yang ingin ia lakukan bersama Alan, masih banyak rencana mereka yang belum sempat terealisasikan, menikmati usia pernikahan yang masih seumur jagung.
Indikator di dalam lift sudah menunjuk huruf “L”, artinya Keira sudah tiba di tujuannya. Pintu lift pun terbuka. Seperti permintaan Keira melalui sambungan telepon tadi, si kurir pengantar kue sudah menunggu di salah satu kursi tunggu lobi.