Keira terbangun di sebuah ruangan serba putih. Napasnya tersengal-sengal. Kilasan mengenai peristiwa kecelakaan yang menimpa Alan serta merta melintas di kepalanya sesaat setelah ia membuka mata. Dengan panik dan sambil menangis, Keira meneriakkan nama Alan. Ia juga menanyakan bagaimana kondisi Alan kepada seorang dokter berwajah tidak asing yang sedang memeriksa keadaannya.
“Dokter, gimana keadaan suami saya? Dia selamat, kan?”
Dokter yang bingung itu pun hanya bisa balik bertanya. “Suami Anda? Maksudnya?”
“Iya, suami saya yang mengalami kecelakaan berhasil diselamatkan, kan?” tanya Keira lagi. Ia sampai memaksakan tubuhnya yang lemah untuk duduk di tepi ranjang perawatan. Keira ingin cepat-cepat bangkit dan mencari tahu di mana Alan dirawat.
Karena kebingungan, dokter tersebut meminta seorang perawat yang sedari tadi membantunya mencatat semua hasil pemeriksaan, untuk memanggil seseorang di luar ruangan. Seorang perempuan bertubuh agak berisi masuk. Keira mengenalinya sebagai Erni, tetangga apartemen tempatnya tinggal.
“Dia menanyakan suaminya,” ujar sang dokter.
“Tolong ... siapa pun, jelaskan gimana kondisi suami saya!” Keira sedikit membentak. Sebab, ia memang begitu mengkhawatirkan kondisi suaminya yang terakhir kali ia ingat telah mengembuskan napas penghabisan di dalam pelukannya dengan tubuh bersimbah darah. Keira harap dokter dapat melakukan prosedur resusitasi dan pacu jantung hingga nyawa suaminya itu tertolong.
Tetangga apartemennya itu pun mencoba menenangkan Keira. “Maaf, Mbak. Memangnya Mas Alan kenapa? Bukannya Mas Alan lagi di kantor, ya?”
Kemarahan Keira mulai memuncak. “Dia tadi tertabrak mobil di depan jalan apartemen sebelum ... aku pingsan.”
Wajah Erni berubah bingung. “Maaf, Mbak. Mbak tadi pingsan di lobi apartemen. Enggak lama sebelum Mbak bilang lagi enggak enak badan dan pengin berobat.”