Pagi ini Keira bangun jauh lebih awal. Meski dirinya tidak mahir memasak, Keira selalu memesan makanan kesukaan Alan melalui pesanan online sebagai menu sarapan. Keira sungguh ingin memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Ia ingin menunjukkan baktinya sebagai seorang istri. Maka, ketika Alan bangun dan beranjak ke ruang makan, ia menemukan Keira sudah menunggunya di sana.
“Akhir-akhir ini kenapa kamu jadi rajin sekali, Kei?” tanya Alan ketika ia mulai menyantap ayam kecap kesukaannya yang telah Keira sajikan di atas piring.
“Itu karena aku mencintaimu.”
Alan tersenyum. “Terima kasih untuk cintamu yang sedalam ini, Kei.”
Keira diam. Ia terus mengamati Alan yang sarapan di meja makan. Meski suaminya itu memuji cintanya yang sedalam samudra, tapi Keira jauh lebih tahu bahwa justru cinta Alan kepadanyalah yang melebihi segala. Suaminya itu rela mengorbankan nyawa untuknya. Dan itu terbukti. Keira sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri.
Dalam diamnya itu, Keira juga masih berusaha memahami kenapa semesta begitu baik telah memberikan kesempatan kedua untuknya bisa hidup lebih lama bersama sang suami. Bahkan sejak beberapa hari lalu, setiap kali ia terbangun dari tidurnya saban pagi, Keira selalu berusaha mencari aroma kematian dari tubuh Alan. Namun, nihil. Aroma itu belum juga menguar. Artinya, Alan tidak akan celaka di hari itu. Meski demikian, tetap saja Keira takut kehilangan suaminya. Nyatanya, mengetahui waktu kematian orang terdekatnya, tidak lantas membuat perempuan itu tenang. Keira terus saja dibayang-bayangi rasa takut. Ibarat jam pasir, ia seakan-akan terus menghitung mundur waktu kematian Alan. Tujuan Keira hanya satu, di jam nahas itu, ia hanya perlu mencegah Alan menyeberang jalan di depan apartemen. Sesederhana itu. Meski sekali lagi Keira berpikir ulang apakah semuanya akan dapat dibereskan dengan semudah itu. Kegagalannya tempo dulu saat berusaha mencegah kematian Airani telah menjadi momok tersendiri bagi Keira.
Saking mencemaskan keselamatan Alan, Keira menjadi sangat over protective. Apa-apa yang dirasanya akan membahayakan nyawa Alan, Keira larang dengan beragam wanti-wantinya. Bahkan sejak waktu kembali berulang, besoknya Keira meminta Alan untuk mengajukan cuti tahunan lebih awal.
“Mas, bisa enggak kalau minggu ini kamu ambil cuti tahunanmu?” ujar Keira ketika Alan sedang mengikat tali sepatunya. Seperti biasanya pula, Keira memastikan kalau dirinya belum menemukan aroma kematian dari tubuh sang suami. Ia dekatkan indra penciumannya ke kemeja kerja Alan. Hasilnya, Keira hanya menemukan aroma parfum milik sang suami.
“Lho, memangnya kenapa, Kei? Kan jatuh tempo cutiku masih lama.”
Keira mencoba memikirkan alasan yang paling masuk akal. Sebab, tidak mungkin pula ia menuturkan rencananya agar sang suami terus berada dalam pengawasan dan terhindar dari segala bahaya yang berada di luar kendali Keira. Perempuan itu sungguh tidak mau menyia-nyiakan kesempatan kedua.
“Gimana kalau kita pergi liburan? Aku mau kita lebih banyak menghabiskan waktu bersama.” Keira memberikan isyarat dalam kalimatnya tersebut. Sebab, ia tahu jika beberapa hari lagi malaikat maut sedang mengintai nyawa suaminya tersebut. “Aku kangen masa-masa kita pacaran dulu,” sambungnya lagi.
Namun, karena menganggap permintaan sang istri tidak ada urgensinya, Alan tetap bersikukuh menolak. Sebab, ada pekerjaan dan rapat penting yang mesti ia ikuti di kantor. Rapat sekaligus persiapan presentasi laporan yang akan menjadi acuan bagi perusahaan untuk meningkatkan produktivitasnya, sehingga Alan tak bisa begitu saja mengambil rehat.
“Jadwalku lagi padat-padatnya, Kei. Mana bisa cuti mendadak. Lagian ngapain juga, sih, harus cuti sekarang?”
“Aku bener-bener pengin habisin lebih banyak waktu bareng kamu.”
“Tiap hari juga kita bareng terus,” sahut Alan. “Kalau kamu mau jalan-jalan, abis aku pulang kerja bisa, kok. Kamu mau ke mana? Nonton? Dinner? Bakal aku turutin. Asal jangan minta aku buat enggak kerja. Pekerjaan yang kali ini, penting banget buat karier aku ke depannya.”
“Kok kamu jadi lebih mentingin karier ketimbang aku, Mas?”
“Bukan begitu, Kei.”
“Terus tadi apa?”