Aroma Kematian

Alfian N. Budiarto
Chapter #14

Bab 14

Keira panik bukan main. Aroma yang ia takutkan itu nyatanya masih saja datang menghantui, membuat sepasang mata perempuan itu kembali berkabut. Ia merasa harus bisa menyelesaikan semuanya dengan sesegera mungkin. Jika tidak, kurir kue tetap akan meneleponnya menjelang pukul sembilan dan tentu itu akan memaksa Keira untuk turun ke lobi. Keira khawatir jika demikian Alan akan kenapa-kenapa karena mengekorinya dari belakang. Maka, sebelum meninggalkan apartemen, Keira sengaja meminta Alan untuk jangan ke mana-mana. Ia meminta Alan mengendap saja di dalam apartemen. Apa pun alasannya. Keira juga bertekad untuk membatalkan saja rencananya membeli lilin. Toh, mereka masih tetap bisa melakukan perayaan tanpa ritual tiup lilin.

“Jangan keluar apartemen, jangan ke lobi, ataupun ke toko retail di seberang jalan. Pokoknya jangan! Aku hanya akan ke lobi, menunggu kue pesanan dari Tante Sisil,” larang Keira sekali lagi, yang membuat Alan semakin merasa aneh karena Keira terus-terusan mengulang peringatan tersebut.

“Aku ikut.”

Keira yang merasa telah kehabisan akal, mengancam akan membatalkan pesanan tersebut kalau Alan tidak mau mendengar ucapannya. Syukurlah, Alan yang diancam begitu, tidak lagi mampu berkutik.

“Jangan dibatalkan, Sayang. Kasian kurir itu,” bujuk Alan. “Kalau gitu, aku akan di sini aja.”

Sejenak Keira memandangi wajah Alan yang pasrah. Setidaknya ancamannya kali ini kembali berhasil. Meski dalam hati Keira masih menyimpan rasa was-was. Ia khawatir semua tidak akan berjalan sesuai rencana dan Alan akan kembali kehilangan nyawanya dengan cara yang sedemikian tragis.

“Aku cuma ke lobi untuk nunggu kurir antar kue. Ingat janjimu, Mas, jangan keluar dari pintu apartemen ini.” Keira memperingatkan dan mulai menarik buka gagang pintu.

Keira yang baru saja keluar, tiba-tiba saja terlihat oleng. Barangkali karena tadi malam ia tidak sempat makan akibat perdebatannya dengan Alan, Keira jadi lemas dan kepalanya sedikit berdenyut. Pun roti isi selai cokelat buatan Alan tadi belum disentuhnya sama sekali.

“Kamu kenapa, Kei? Enggak enak badan?”

“Aku enggak apa-apa, Mas.” Keira mencoba berbohong, meski pandangannya kini sedikit berkunang-kunang.

Lihat selengkapnya