Keira kembali terbangun di ruang perawatan klinik yang sama di dekat apartemennya. Keira melirik kalender sobek yang menempel di dinding dekat nakas. Tanggal 2 Juli. Perempuan itu hanya bisa mengembuskan napas panjang ketika menyadari bahwa waktu lagi-lagi kembali terulang satu minggu ke belakang. Meski perasaannya masih hancur ketika sekali lagi harus menyaksikan bagaimana Alan tewas, namun Keira masih bisa mensyukuri satu hal: semesta memberinya kesempatan ketiga kalinya untuk menyelamatkan nyawa Alan.
Di atas ranjang klinik, sembari mengamati langit-langit, Keira mencoba berpikir dalam diam. Jika memang Alan harus terus-terusan mengalami kematian yang mengenaskan, mengapa semesta seolah-olah berbaik hati padanya untuk memberikan kesempatan mengulang waktu. Kesempatan yang nyatanya datang hanya untuk mempermainkannya. Walau sudah berusaha menghindarkan Alan dari kecelakaan, faktanya semesta seolah punya caranya sendiri untuk kembali mengarahkan suaminya itu menuju malaikat maut. Seolah-olah kematian memang tidak bisa dicurangi. Keira bahkan berprasangka kalau jangan-jangan semua ini bukanlah sebuah anugerah yang diberikan semesta untuknya menyelamatkan Alan, melainkan kutukan agar Keira berkali-kali merasakan rasa kehilangan yang teramat perih.
Di ruangan beraroma obat-obatan itu, dokter akhirnya menyadari kalau Keira sudah siuman dari pingsannya. Dokter mulai memaparkan hasil pemeriksaan yang telah ia lakukan pada Keira. Namun, perempuan dua puluh delapan tahun itu sama sekali tidak memedulikan ucapan sang dokter.
“Di minggu awal kehamilan, Mbak enggak boleh kecapekan ....”
Belum selesai dokter menerangkan, Keira memotong cepat. “Enggak boleh banyak pikiran juga. Karena bisa mengganggu kesehatan janin.” Keira menjeda sejenak ucapannya, sekadar menghela napas singkat. “Nanti dokter bakal nulisin resep vitamin yang mesti saya konsumsi rutin, kan?”
Dokter klinik itu pun kaget karena Keira seperti bisa menebak dengan tepat kalimat yang akan ia sampaikan. Si dokter mencoba menanyakannya, tapi Keira justru tidak peduli akan hal itu. Seperti sebelum-sebelumnya, setelah menyelesaikan semua biaya administrasi klinik, Keira pun berjalan menuju ke apartemennya dengan didampingi Erni di belakangnya.
“Seandainya waktu terus berulang, apa yang akan kamu lakukan dan ubah dari hidupmu sekarang, Ni?” tanya Keira pada si tetangga ketika mereka hendak menyeberang jalan.
“Memangnya bisa, Mbak?”
“Aku, kan, bilang ‘seandainya’, Ni.”
“Hmm, apa, ya. Mungkin aku bakal terus ngejalanin kehidupan yang begini-begini aja. Enggak ada yang pengin aku ubah dari hidupku yang sekarang. Memang, sih, hidupku sekarang enggak bahagia-bahagia amat. Di usia segini masih belum juga dapat jodoh. Tapi, namanya hidup, pasti ada pahit sama manisnya. Meskipun pahit itu enggak enak, tapi kalau manis terus malah bisa bikin diabetes, kan?” Erni mengakhiri jawabannya dengan sebuah tawa kecil. Namun, ketika melihat wajah lawan bicaranya hanya datar, Erni berhenti tertawa.
“Kalau misalnya hari ini ada orang terdekatmu yang meninggal karena kecelakaan dan kamu tahu hal itu, apa yang bakal kamu lakuin?”
“Mungkin aku akan berusaha menyelamatkannya.”
“Kalau usahamu gagal?”
“Mau gimana lagi. Akan aku ikhlaskan. Sebab, bisa jadi itu memang sudah takdirnya.”