Besoknya, pagi-pagi sekali Alan membangunkan Keira yang masih tertidur pulas dengan lembut. Ia usap-usap bahu istrinya itu agar segera terjaga dari tidurnya. Terlihat Keira mulai menggeliat kecil sebelum kemudian sepasang mata perempuan itu terbuka sempurna.
“Kei, bangun. Ayo temani aku pagi ini ke suatu tempat.”
Keira menatap penampilan Alan yang sudah rapi. Lelaki itu mengenakan sebuah kemeja yang Keira ingat sebagai hadiah ulang tahun darinya tahun lalu yang dipadukan dengan celana jeans biru dongker. Rambut Alan yang masih basah itu pun tampak telah disisir rapi.
“Mau pergi ke mana, Mas, pagi-pagi begini?” tanya Keira sambil mengucek matanya yang masih ngantuk.
Alan tersenyum. “Mau ke makam Airani dan kedua orang tuaku.”
Mendengar jawaban itu, Keira langsung bangkit. Ia tidak lagi memedulikan rasa kantuk yang sesungguhnya masih menggelayuti matanya. “Kalau begitu tunggu sebentar. Aku mau siap-siap dulu.” Keira segera mengambil handuk yang menggantung di balik pintu kamar. “Abis dari makam mereka, kita mampir ke makam orang tuaku juga, ya, Mas.”
“Pasti.”
Keira tersenyum sebelum kemudian tubuh perempuan itu menghilang di balik pintu kamar mandi yang tertutup. Terdengar bunyi percikan air shower ketika Alan mencoba mencarikan Keira pakaian di dalam lemari. Pelan-pelan lelaki berkulit kuning langsat itu memilah pakaian Keira yang sekiranya senada dengan kemeja yang tengah ia kenakan.
Sejak dulu, Keira sering sekali memaksa Alan untuk mengenakan pakaian yang senada setiap kali mereka jalan berdua: ke mal, ke bioskop, atau dinner di luar. Biar couple, katanya. Awalnya Alan sering menolak dengan berbagai alasan. Menurut lelaki itu, unsur terpenting dari sebuah pakaian adalah bisa membuatnya nyaman ketika dipakai. Bukan perkara matching atau tidaknya dengan pasangan. Namun, hari ini, begitu tahu kalau usianya tidak akan lama lagi, Alan sengaja memilah warna pakaian yang persis sama untuk Keira demi untuk membuat istrinya itu bahagia.
“Pakaianmu sudah aku pilihkan,” kata Alan begitu Keira keluar dari kamar mandi.
Keira yang baru pertama kali ini dipilihkan pakaian oleh sang suami, segera mengalihkan pandangannya ke arah tempat tidur. Begitu sadar dengan pakaian pilihan suaminya, Keira langsung tersenyum. “Hari ini kita couple, ya?”
“Bukan cuma hari ini, tapi juga besok dan seterusnya.”
Senyum Keira semakin lebar. “Kalau besok aku mau pakai warna pink, memangnya kamu mau ikutan?”