Keira dan Alan telah berdiri di depan kampus mereka dulu. Kemarin, keduanya telah bersepakat untuk mengulang kembali momen-momen terindah kebersamaan mereka. Universitas Nusantara, menjadi lokasi yang kemudian mereka sepakati sebagai tempat untuk bernapak tilas.
Tidak banyak yang berubah dari kampus mereka kini. Halamannya masih saja asri dengan dua batang pohon angsana rindang di sisi kiri dan kanan. Seolah-olah menjadi penjaga yang begitu kokoh. Alan dan Keira lalu duduk di salah satu bangku kayu panjang yang ada di bawahnya. Di bawah teduh naungan angsana itu, keduanya mengamati para mahasiswa yang tengah beristirahat. Sebagian dari mereka tampak menghafalkan sesuatu. Barangkali mereka akan menghadapi kuis mingguan dari sang dosen.
“Kamu ingat enggak kalau dulu kita sering ngabisin waktu di sini?” tanya Keira sambil menggenggam tangan Alan erat.
“Tentu aja. Mana mungkin aku bisa lupa kebersamaan kita itu, Kei. Kan, kamu yang maksa aku buat ke sini tiap ada jam istirahat dan jam kosong.”
“Oh, jadi kamu terpaksa?”
“Sedikit,” jawab Alan jujur.
“Kenapa?”
“Kan kamu tau sendiri kalau dulu aku enggak pernah nyaman jika harus jadi pusat perhatian orang-orang.”
“Oiya, kamu dulu, kan, mahasiswa populer yang terkenal dingin.” Keira tergelak. Suara tawanya terdengar renyah. “Siapa suruh milih aku jadi pacarmu. Aku yang suka pamer ke orang-orang. Ini, loh, Alan, si populer yang hatinya berhasil aku dapetin.” Keira sengaja menjeda kalimatnya, lalu melingkarkan tangannya di pinggang Alan. “Kalau sekarang? Masih ngerasa enggak nyaman?”
Mendapati hal demikian, Alan malah balas memeluk Keira erat-erat. “Ya, enggak, dong. Sekarang, kan, kita udah suami istri. Udah jadi pasangan yang sah.”
Apa yang Alan dan Keira lakukan itu ternyata berhasil menarik perhatian para mahasiswa yang ada di sekitar mereka. Cepat-cepat Keira melepaskan pelukan Alan.
“Kenapa? Sekarang gantian kamu yang malu jadi pusat perhatian?” Alan balas terkekeh. Sementara Keira langsung mencubit gemas pinggang Alan.
Keira mencoba berkilah. “Aku cuma enggak mau para jomlo ngenes lihat kemesraan kita, Mas.”
“Halah, alasan,”
Karena masih dilirik beberapa mahasiswa, Keira pun menarik pergelangan tangan Alan. Perempuan itu mengajak Alan beranjak ke kantin. “Mas, aku haus. Kita ke kantin, yuk.”
Alan tak membalas. Ia hanya mengikuti setiap langkah Keira yang terburu-buru. Sepanjang langkah kaki istrinya itu, Alan terus saja mengagumi segala yang ada pada diri Keira: kecantikannya, matanya yang indah, rambutnya yang tergerai dan diterbangkan angin, hingga bagaimana cara perempuan itu memandang balik kepadanya.
“Mas. kok, bengong. Mau minum apa?”
Pertanyaan Keira itu mampu membuyarkan lamunan Alan.
“Es jeruk aja, Kei. Pas untuk hari yang panas ini.”
Setelahnya, Keira langsung meminta Alan untuk duduk di bangku kosong di sudut kantin. Sementara ia yang akan memesankan minuman untuk mereka.
Sembari menunggu pesanan mereka datang, Alan dan Keira memperhatikan suasana di sekitar kantin. Lapangan basket tempat Alan dulu kerap berolahraga ternyata sudah dipindah ke bagian utara gedung perkuliahan.
“Mas, aku pengin kita bisa kayak gini terus,” ujar Keira tiba-tiba.
Mendengar itu, Alan langsung menggenggam erat sepasang tangan Keira. Sebab, ia tahu ke mana arah pembicaraan istrinya itu. “Kita akan terus begini, sampai kapan pun.” Alan menjeda sejenak kalimatnya. “Dan aku juga akan selalu ada buat kamu, apa pun yang terjadi.”
Keira menghela napas pasrah. “Iya, Mas. Iya.”
Di tengah sepasang matanya yang berkabut, Alan mendekap tubuh Keira hangat. “Kamu sudah tau anak kita nantinya laki-laki atau perempuan?” Alan mencoba memecah suasana.
Keira menggeleng pelan. “Belum, Mas. Usia kandunganku juga masih terlalu muda.” Setelah berkata demikian, Keira mendongak. Ia tatap sepasang mata Alan yang tidak kalah hangat. “Gimana kalau kamu pilihkan nama untuk anak kita nantinya?” Keira melontarkan sebuah saran yang tentu saja mampu menghadirkan senyum rekah di bibir sang suami.
“Ide bagus.” Alan lalu tampak kembali berpikir. Lelaki itu terlihat mengelus-elus dagunya untuk beberapa saat. “Gimana kalau anak kita laki-laki, kita kasih dia nama Keilan?” ujar Alan kemudian.
Keira menimbang-nimbang. “Keilan?”
“Iya. Singkatan nama kita: Keira dan Alan.”
“Setuju!’ Keira langsung semringah. “Tapi, kalau anak kita perempuan?”