Pagi di tanggal 9 Juli itu pun akhirnya tiba. Keira bangun dengan perasaan yang bercampur aduk. Meski Keira tahu kalau hari ini adalah hari terakhirnya bersama Alan, tapi Keira tetap tidak mampu menutupi kegelisahannya. Demikian pula dengan Alan. Lelaki itu sedari tadi hanya mampu memandangi wajah sang istri berkali-kali. Seolah-olah sedang mengumpulkan sebanyak-banyaknya kenangan sebelum nyawanya sebentar lagi akan tercerabut. Berkat mengetahui kapan waktu kematiannya, Alan jadi jauh lebih bijaksana dalam mempersiapkan segalanya. Hal yang mampu ia syukuri hingga detik ini.
Di meja kerja yang menghadap ke arah luar jendela apartemen, Alan sedang mengetikkan sesuatu di laptopnya. Beberapa kali terdengar bunyi mesin printer yang mencetak hasil ketikan Alan tadi. Keira menghampiri Alan sembari membawakan suaminya itu secangkir teh hangat dan menanyakan apa yang sedang suaminya itu lakukan.
“Lagi apa, Mas?”
Alan tersenyum. Semringah. “Lagi nyiapin surat-surat untuk buah hati kita kelak. Aku ingin ... setiap kali buah hati kita kelak ulang tahun, kamu bacakan surat-suratku ini untuknya. Aku mau ... meski enggak bisa membersamai anak kita tumbuh, dia enggak akan pernah merasakan kehilangan sosok papanya. Kecuali kalau kamu nantinya mau nikah lagi. Aku ikhlas.”
Keira menggeleng. “Enggak, Mas. Aku yakin enggak bakal ada sosok laki-laki yang lebih baik dan bisa gantiin posisi kamu di hati aku.”
Alan mengulas senyum. “Kalau memang nantinya kamu merasa ada yang cocok jadi penggantiku, jangan ragu. Jangan terlalu egois. Mungkin aja kelak anak kita itu butuh sosok ayah pengganti. Aku juga bahagia apa pun keputusanmu nantinya,” ujar Alan sambil mulai melipat satu per satu lembaran-lembaran surat di atas meja dan memasukkannya ke dalam masing-masing amplop yang sudah ia nomori bagian sudutnya.
“Mas, kok, ngomongnya begitu?”
Alan tersenyum. “Aku hanya mencoba realistis, Kei. Gimana kalau suatu saat nanti anak kita butuh teman bermain, butuh adik? Kamu enggak bisa memaksakan kehendakmu untuk terus sendiri, kan, Kei? Lagi pula hidupmu masih panjang. Jadi, kamu harus tetap bahagia meski tanpa aku di sisimu.”
“Akan aku ajarkan pada anak kita nanti apa arti kesetiaan yang sebenarnya. Toh, bahagia bukan berarti aku harus mencari pasangan baru, kan?” Keira menjeda sejenak kalimatnya. “Kamu enggak usah khawatir, Mas. Percayalah, aku dan anak kita kelak akan bisa hidup bahagia meski hanya berdua.”
Keira menutup ucapannya dengan sebuah senyuman simpul paling manis. Senyum yang begitu menunjukkan ketulusan cintanya buat Alan.
Putaran jam terus bergulir ke arah kanan. Menjelang menit kematiannya, Alan menyampaikan keputusannya untuk pergi menjauh dari apartemen mereka agar Keira tidak lagi melihat kematiannya yang tragis. Alan juga tidak ingin jika berada di dekat Keira, istri dan anak dalam rahim perempuan itu akan terkena imbas dari petaka yang akan menimpanya. Keira pun tak bisa menolak. Dengan kelapangan hati dan keikhlasan, Keira melepas kepergian Alan yang menuju mobilnya di parkiran apartemen. Untuk kali terakhir, keduanya saling berpelukan. Erat sekali. Pelukan yang akan selalu Keira kenang ketika kelak ia merindukan Alan.