Dua puluh lima tahun kemudian …
Keira sedang duduk di atas kursi goyang, di tepi sebuah jendela kaca yang tirainya terbuka lebar. Kerutan-kerutan di wajah Keira yang hanya dibedaki tipis itu terlihat begitu jelas. Seperti halnya uban yang telah menyepuhi seluruh permukaan rambutnya yang dulu legam. Usianya sudah lebih dari setengah abad. Sepasang kantung matanya juga mulai melorot dan kendur. Meski demikian, masih tampak sisa peninggalan kecantikan di wajahnya yang sudah tidak muda lagi itu.
Dari tempatnya berada, Keira terus memperhatikan seorang perempuan muda yang sedang berjalan anggun ke arahnya sambil mengenakan gaun pengantin berwarna putih yang dulu juga Keira kenakan saat pernikahannya dengan Alan. Nyatanya, meski sudah cukup berumur, gaun pengantinnya itu masih tampak seperti baru dan terjaga. Hanya perlu sedikit sentuhan ornamen tambahan agar gaun tersebut tampak lebih kekinian.
“Kamu cantik sekali, Ran,” puji Keira pada perempuan muda di hadapannya.
Gadis bernama Rania itu tersenyum simpul. Ia lalu berlutut di depan kursi goyang yang Keira duduki. “Gimana aku enggak cantik, lihat aja mamanya,” godanya.
Mendengar itu, Keira langsung tersenyum lebar. Sejak dulu, putri semata wayangnya itu memang pandai sekali mencuri hati. Persis seperti Alan, sang ayah, dulu.
Keira lantas meletakkan sepasang tangan yang jari-jarinya mulai keriput itu ke pundak Rania. “Kamu sudah yakin dengan pemuda pilihanmu, kan, Ran?”
Rania mengangguk, lalu memeluk tubuh mamanya erat. “Bulan depan, Rania bakal nikah. Rania mau setelah nikah nanti, Mama tinggal sama Rania, ya?”
Namun, Keira hanya tersenyum tipis dan berusaha memberi pengertian pada putrinya itu kalau ia tidak perlu mencemaskan hal tersebut. “Sampai kapan pun Mama akan selalu ada di dekat kamu, Ran. Tapi, kita juga harus bisa ikhlas menyerahkan semuanya pada takdir. Meskipun menurut kita itu bukanlah hal yang terbaik, tapi percayalah, apa-apa yang sudah digariskan Tuhan adalah sebenar-benarnya kebaikan.” Sengaja Keira mengutip kalimat yang pernah Alan tuliskan dalam surat peninggalannya untuk sang buah hati. Surat yang Keira bacakan ketika Rania berulang tahun yang ketujuh belas.