Setelah mengembuskan napas terakhirnya, sesosok malaikat yang sudah sejak lama dikenalnya, tetapi lama pula dilupakannya, menjemput Rosemary. Dengan lembut ia berkata, "Ayo, pulang." Seketika saja, Rosemary melupakan rasa takutnya dan menyambut uluran tangannya. Mereka berjalan di lorong cahaya nan panjang dan tidak berdinding—tapi tetap terasa seperti lorong—lalu menaiki sebuah kereta yang berlayar di permukaan laut, menuju surga, dengan s kecil, yang terletak di ujung fajar. Tetapi laut selamanya malam. Fajar baru akan menyingsing setelah mereka melampauinya.
Semasa hidup, Rosemary mendambakan sebuah pondok yang dibangun di ceruk hutan, di antara pohon pinus dan cemara—dengan bata dan genting seperti rumah indah berbata merah muda di dalam cerita Pangeran Kecil. Di sanalah ia tinggal sekarang. Di sungai berair jernih yang terletak tepat di seberang pondoknya, ia duduk di batu sebesar anak domba dan memain-mainkan air dengan kakinya—memutus aliran air, atau mendorongnya justru—sembari menikmati matahari yang tidak terlalu terik—tak pula redup—pada siang yang sunyi.
Ia mengenang hari-hari saat masih tinggal di ladang tebu bersama ayah dan ibunya.
Ayah dan ibunya mencari nafkah dengan membuka toko material di desa Kalayangan. Kamar Rosemary terletak di lantai dua, menghadap jalan raya yang tidak terlalu padat. Sepulang sekolah, masih dengan seragam putih-merah, ia biasa duduk di samping jendela, memandangi lalu lalang di depan toko.Nama tokonya Mawar—seperti namanya—tetapi agar terdengar lebih meyakinkan sebagai toko bangunan, ayahnya menambahkan “Jaya Abadi” di belakangnya.
Mawar Jaya Abadi.
Belakangan, ia tahu bahwa meski mengandung kata rose, Rosemary sama sekali bukan mawar, melainkan tanaman lain yang tak ada hubungannya dengan mawar. Bahkan warnanya pun bukan merah, melainkan ungu.
Ia sempat kecewa.
Ia sering membayangkan dirinya sebagai mawar yang dicintai Pangeran Kecil di planet kecilnya—menunggu dengan setia, memandang langit, seolah kekasihnya akan pulang suatu hari nanti.
Tetapi ia bukan mawar. Ia hanya setangkai rosemary yang bersahaja.
Namun, setelah mengetahui manfaat rosemary bagi kesehatan, ia tidak lagi kecewa. Ia justru menjadikannya semacam tekad.
Aku ingin seperti rosemary, pikirnya.
"Mami, ketika menamaiku Rosemary, apakah tidak tahu apa artinya?"