Aroma Matahari di Pagi yang Cerah

Rafael Yanuar
Chapter #1

Prolog: Kenang-kenangan Hidup

Setelah meninggal, Rosemary akhirnya memiliki pondok kecil yang didambakannya sepanjang hidup. Letaknya di pinggir hutan, dekat sungai. Ia biasa mencelupkan kaki ke dalam air, duduk di atas batu sebesar anak domba, menikmati matahari yang tidak terlalu terik—tak pula redup—pada siang yang sunyi.

Sambil mengayun-ayunkan kaki, ia mengenang hari-hari saat masih tinggal di ladang tebu bersama ayah dan ibunya.

Ayah dan ibunya mencari nafkah dengan membuka toko material di desa Kalayangan. Kamar Rosemary terletak di lantai dua, menghadap jalan raya yang tidak terlalu padat. Sepulang sekolah, masih dengan seragam putih-merah, ia biasa duduk di samping jendela, memandangi lalu lalang di depan toko.Nama tokonya Mawar—seperti namanya—tetapi agar terdengar lebih meyakinkan sebagai toko bangunan, ayahnya menambahkan “Jaya Abadi” di belakangnya.

Mawar Jaya Abadi.

Belakangan, ia tahu bahwa meski mengandung kata rose, Rosemary sama sekali bukan mawar, melainkan tanaman lain yang tak ada hubungannya dengan mawar. Bahkan warnanya pun bukan merah, melainkan ungu.

Ia sempat kecewa.

Ia sering membayangkan dirinya sebagai mawar yang dicintai Pangeran Kecil di planet kecilnya—menunggu dengan setia, memandang langit, seolah kekasihnya akan pulang suatu hari nanti.

Tetapi ia bukan mawar. Ia hanya setangkai rosemary yang bersahaja.

Namun, setelah mengetahui manfaat rosemary bagi kesehatan, ia tidak lagi kecewa. Ia justru menjadikannya semacam tekad.

Aku ingin seperti rosemary, pikirnya.

"Mami, ketika menamaiku Rosemary, apakah tidak tahu apa artinya?"

Ibunya tertawa dengan rasa bersalah, "Mami menemukan namamu di buku dongeng favorit Mami ketika kecil. Salah satu tokohnya bernama Rosemary. Tapi Mami heran, ia selalu mengenakan baju berwarna ungu. Padahal mawar umumnya berwarna merah, bukan? Ternyata, Rosemary memang seharusnya berwarna ungu."

Lihat selengkapnya