Ketika senja sudah menjelang, Rosemary memandang Bintang Utara dan berharap dapat berjumpa dengan satu-dua malaikat—mungkin Aya atau Arunika—tetapi ketika ia mendekat, ia tidak mendengar satu pun suara. Ia menceritakan kepada Lily yang duduk di sadel belakang, siapa yang menempati bangunan tua itu, Di sana tinggal anak-anak yatim piatu yang meninggal lebih dulu daripada orang tua mereka. Setelah mendengarnya, Lily bingung, Bukankah kita juga? Rosemary mengangguk. Kalau mau, kau juga boleh tinggal di sana—atau di mana pun—tapi aku memilih buka toko roti. Sama sepertimu yang merindukan musik, panggilan hidupku adalah hidup sesantai mungkin. Lily terkekeh. Panggilan yang hebat. Santai, kalau dilakoni sungguh-sungguh, hasilnya lumayan. Ya, kau benar. Ketika mereka tiba di Bintang Utara, ia membunyikan lonceng sepeda, tapi tak ada satu pun anak yang terlihat—seperti dugaannya. Mungkin mereka berkumpul di lantai atap, memandang matahari yang terbenam perlahan. Sehabis hujan, senja terasa lebih indah dan hangat. Di lantai langit, ia dapat memperhatikan matahari yang kemerahan itu perlahan-lahan terbenam di bukit. Rosemary ingin ikut juga, tetapi tubuhnya mulai terasa lelah. Lily kembali menawarkan diri untuk menggantikan Rosemary—dan kali ini ia menyanggupinya.
Aku sudah lama tidak mengayuh sepeda, katanya jujur, tetapi saat masih kecil, aku lumayan suka bertualang. Aku suka bersepeda hingga batas desa bersama teman-temanku, atau menuju danau yang terletak di belakang perumahan yang belum selesai dibangun. Kami pulang saat kunang-kunang mulai bermunculan. Aku bukan anak yang benar-benar sehat, tetapi aku punya semangat—seolah ada api yang selalu hangat di hati.
Rosemary tersenyum dan berkata, aku percaya. Aku ingin mendengar ceritamu—dan kalau boleh, aku ingin mencatatnya di buku harian.
Ah, buku harian. Aku punya satu lemari buku harian. Aku tak ingin ada yang membacanya, beberapa halamannya terasa gelap, tetapi sekarang—barangkali itulah satu-satunya yang tersisa dari diriku yang dulu.
Tidak. Kau punya musik juga, bukan? Tetapi, lebih daripada itu, kenangan tentangmu pasti masih ada di hati orang-orang yang menyayangimu.
Lily tersenyum dan berkata terima kasih. Kau benar. Ia sempat cemas, tetapi ternyata kaki-kaki kecilnya masih mengingat caranya mengayuh. Dengan lincah ia mengikuti jalan dan arah yang ditunjuk Rosemary.
Untuk perempuan berperawakan kecil, Lily memiliki tenaga yang kuat. Ia mengayuh seperti tanpa beban. Awalnya, kayuhannya terasa terburu-buru, tapi lama kelamaan, ia mulai mengendurkan kaki dan membiarkan kecepatannya melambat—bukan karena capai, melainkan karena langit mulai menggelap dan ia mengalami semacam rabun senja yang membuatnya khawatir menabrak lubang. Tak ada lubang kok, kata Rosemary, tetapi memang bergelombang. Jalanan di tempat ini hidup.
Rosemary teringat jalan di rumahnya yang dulu—di desa Dana—yang berkali-kali pun diaspal, tetap saja kembali bergelombang. Para masyarakat berkata bahwa jalan raya yang dibangun di pinggir sawah memang adakalanya hidup. Ia tidak akan rata selamanya. Cepat atau lambat pasti mengombak. Dan jika sudah mengombak, tinggal menunggu waktu untuk retak. Apalagi truk-truk besar pembawa pasir kerap melewati jalan desa, ditambah truk-truk beras jika musimnya tiba.
Jadi, perlahan saja, menikmati setiap kayuhan. Lily mengangguk setuju. Tetapi, ketika Rosemary memuji napasnya yang stabil—tidak terengah-engah sepertinya—Lily justru berkata, yang sebenarnya terjadi justru sebaliknya. Dulu, aku harus membawa inhaler ke mana-mana, sebab sering sekali kelelahan, dan jika sudah capai, bernapas jadi sulit. Tapi sepertinya, penyakit-penyakitku ikut mati saat aku mati.
Saat aku masih kecil, untuk mengobati sesak napasku, selain dengan obat-obatan yang Ibu beli dari dokter, Ibu juga suka berdiri lama saban senjadi lantai atas toko kelontong kami—mungkin pemandangannya sama dengan lantai langit Bintang Utara, tetapi aku hampir tidak mengingatnya. Ia akan menerbangkan layang-layang untuk memancing kalong yang mulai beterbangan pada bakda magrib. Kalong-kalong hasil tangkapan Ibu akan jatuh di hutan dan anak-anak atau penduduk setempat akan mengambilnya, lalu menjualnya kepada Ibu. Biasanya mereka datang pukul delapan malam. Kelak, dengan menggunakan kalong-kalong itu, Ibu memasak sop untukku. Ibu bilang, daging kalong bagus untuk asma. Rasanya seperti ati ayam, tapi aku tidak ingat apakah aku menyukainyaatautidak. Dan adakalanya aku merindukannya—bagaimanapun, itu makanan masa kecilku. Sudah lama aku tidak memakannya lagi—apalagi semenjak pandemi yang terjadi beberapa tahun lalu, kalong yang dulunya dianggap obat sesak, malah jadi penyebab—jadi aku tidak terlalu yakin lagi, apa kesanku terhadap makanan yang dulu aku santap setiap hari itu. Setelah jalan ini belok ke mana—lurus, kiri, atau kanan?
Kiri, jawab Rosemary. Hati-hati, sesampainya di sawah, jalannya agak menanjak. Lily mengangguk.
Mungkin asmaku sudah sembuh. Aku seperti mampu mengayuh selamanya.
Rosemary berkata amin. Aku tidak sepertimu. Aku meninggal karena kecelakaan. Aku tidak ingat detailnya, tahu-tahu aku sudah di kereta bersama Maut di sampingku. Mungkin saat aku naik motor, sehabis bekerja. Aku ingat aku kelelahan—dan aku bukan pengendara motor yang lincah juga. Aku rasa, itu ingatan terakhirku.
Aku turut berduka.
Terima kasih.
Omong-omong, baru pertama kali aku dibonceng dengan sepeda, bukan motor. Jadi begini rasanya, ya. Saat melewati sawah sengkedan, Rosemary takjub memandang pemandangan hijau yang membentang sejauh mata memandang dan menyatu dengan panorama. Senja sebentar lagi menjadi malam. Langit memiliki tiga warna,—merah, jingga, dan ungu. Tak ada satu pun suara yang terdengar, selain angin di sela-sela bulir padi dan rantai sepeda yang dikayuh perlahan. Meski tidak selalu mulus, Lily seolah sudah mengenal betul jalan itu.
Kau penyanyi, bukan? Aku ingin mendengarmu bernyanyi!
Tapi Lily malah tertawa. Kau benar-benar tega, katanya, aku sudah capai mengayuh, kau suruh menyanyi juga. Kaulah yang harus bernyanyi—menyemangatiku agar tidak capai.
Ia tahu Lily bermaksud bercanda, tapi kata-katanya benar juga. Jadi Rosemary memutuskan untuk bernyanyi.