Aroma Matahari di Pagi yang Cerah

Rafael Yanuar
Chapter #2

Di Bawah Sinar Bulan Purnama

Rosemary berhenti melamun ketika ia mendengar kicau burung di seberang jendela, seolah burung-burung yang sebagian besar sudah dikenal dan mengenalnya itu hendak mengingatkannya, bahwa hari telah dimulai dan matahari sudah membuka matanya—sekalipun sebenarnya ia masih terkantuk-kantuk di ufuk—bagaimanapun, itu matahari yang sama jua, yang selama ini menghangatkan hatinya. Ia membuka pintu, kemudian menyebarkan setangkup beras di bawah pohon besar berdaun lebar yang selalu membawa aroma hujan dan menaungi pondok kecilnya. Burung-burung segera menghampirinya, dan berebut makan yang diletakkan di telapak tangannya. Kemudian, ia kembali masuk ke dalam rumah dan duduk di samping jendela.

Tak seperti di rumah masa kecilnya, pondok Rosemary tidaklah besar, hanya terdiri dari dapur tempatnya biasa memanggang kue—terkadang ia suka tidur di sana juga—kamar kecil, kamar tidur, dan ruang tamu kecil dengan rak buku besar yang tingginya mencapai langit-langit. Ia sepertinya sudah meninggal. Ia sepertinya sudah di surga, tetapi bukan Surga dengan S besar. Ia berkata sepertinya sebab apa yang dialaminya di tempat ini sama nyatanya dengan kehidupan yang dulu dijalaninya. Terkadang, ia dapat merasakan hatinya menghangat dengan cepat dan rasanya nyaman sekali. Kata para malaikat yang dikenalnya, itu tanda bahwa namanya telah disebut oleh ibunya dalam doanya. Doa itu ajaib.

Di depan jendela, jalan setapak masih gelap dan sepadam ruangan saat nyala lilin terakhir menjadi asap. Namun, setelah membiasakan diri, ia dapat menemukan secercah sinar ungu setipis kabut yang menyelinap di antara dedaunan. Ah, sudah pagi rupanya. Ia harus segera bekerja, menyiapkan roti, dan memberikannya kepada para penghuni hutan.

Roti adalah satu-satunya yang menghubungkannya dengan kehidupannya yang lalu—dengan rumahnya yang dulu. Ia mempelajari resep-resep itu dari ibunya. Dan sekarang, ia berusaha sekuat tenaga agar hasilnya mirip dengan roti-roti buatan ibunya, sehingga saat ia menyantapnya, ia dapat merasakan kehadirannya dalam hatinya—seolah ia memang sedekat itu. Ia bersyukur semasa hidup ia adalah murid yang rajin. Ia menghapal seluruh resep—hampir seluruh tepatnya—andalan ibunya, dan rutin mempraktikkannya. Ia membawa roti-roti itu ke sekolah dan menitipkannya ke kantin yang menjualnya dengan harga terjangkau. Syukurlah, para guru yang biasanya melarang siswanya berjualan, mendukung Rosemary, sehingga ia mempunyai lebihan uang untuk ditabung. Ia bahkan sudah membuat merek sendiri, Rosemary Cake&Bakery.

Sesampainya di surga—atau di mana pun ia berada sekarang—sebelum melupakannya, ia menulis resep-resep itu di buku harian. Tetapi itu bukan hal yang mudah, sebab ada beberapa bahan yang ia takar secara insting, tidak dalam takaran pasti. Jadi, ia sering menguji resep-resep itu hingga takarannya benar-benar pasti—berapa kilogram tepung yang dibutuhkan, berapa liter susu, dan berapa sendok gula, atau berapa tetes pewarna. Ia juga mencatat merek-merek yang biasa digunakan ibunya, padahal merek-merek itu tidak bisa ditemukannya di sini. Pada akhirnya, ia hanya punya ingatan, dan ia cukup menyesal di akhirat tidak ada Buku Hidup seperti yang dibayangkannya ketika masih hidup. Ia mengira, setelah meninggal, manusia akan diberikan buku yang mencatat semua kenangan semasa tinggal di dunia atau mempunyai ingatan yang mampu mengakses segala waktu dan pengalaman dari kelahiran hingga kematiannya, tapi ternyata tidak. Ia harus membeli buku kosong di kota terdekat, yang ditempuhnya dengan sepeda, dan mencatat apa pun yang diingatnya dengan sedetail mungkin. Ia punya banyak waktu di surga. Hanya sedikit yang harus dikerjakannya. Menulis menjadi pengisi kekosongan harinya. Ia menulis entah untuk apa atau siapa—selain dirinya sendiri.

Perlahan-lahan, ia jadi memahami mengapa ada sebahagian orang yang menganggap bahwa kenangan adalah harta yang berharga, yang tak ternilai. Ia menjadi berharga—sebab kita memberinya kilau, kita menghiasnya dengan emas permata, sehingga pengalaman-pengalaman yang biasa saja saat kita mengalaminya, menjadi begitu indah seolah-olah segala sesuatunya disinari cahaya yang indah dan keperakan. Kenangan menjadi berharga sebab ia mengekalkan sesuatu yang tak kekal.

Awalnya, ia memanggang roti hanya untuk mengurangi rasa rindu kepada orang tuanya, tapi para penghuni hutan yang setiap hari melewati rumahnya terpaku saat mencium harum panggangan yang manis, yang entah bagaimana sangat cocok disandingkan dengan aroma pagi yang segar. Mereka pun mengetuk rumah Rosemary dan berharap dapat mencicipi beberapa buah roti yang dipanggangnya. Rosemary menyambut mereka dengan hangat, malah kegirangan, sebab ia suka memanggang roti, tetapi menghabiskannya adalah perkara lain. Ia hanya sanggup menyantap sedikit saja. Dan begitulah, setiap pagi, rumahnya dipenuhi pembeli yang datang dengan keranjang jinjing, berharap mendapat beberapa buah roti. Siapa sangka, hasil kreasi orisinalnya yang memadukan roti dan jeruk menjadi primadona di tempat itu. Kelak, para penghuni hutan menamai rumah Rosemary sebagai Aroma Matahari, sebab rotinya selalu sudah jadi dan hangat saat cahaya pertama matahari menyentuh jalan setapak.

Tapi pagi ini ia tak harus buru-buru, ia bisa sedikit bersantai. Sekarang hari Sabtu—hari liburnya—dan ia berencana mengunjungi panti asuhan Bintang Utara—sebuah bangunan tua yang disediakan untuk menampung anak-anak yang meninggal mendahului orang tuanya. Tak ada yang tahu siapa yang membangunnya. Mungkin Sang Jiwa. Atau Malaikat (dengan M besar). Bangunan panti asuhan itu terlihat sudah sangat tua—barangkali juga setua waktu—dengan tembok-tembok yang menguning karena terlalu banyak menyerap unsur hara dari dalam tanah dan jendela-jendela yang sebahagian tertutup tanaman merambat. Tetapi ketika engkau memasukinya, ada perasaan damai yang menyentuh benakmu, yang tak akan kaurasakan di tempat lain.

Di dalam pondok itu, para penghuninya masih bersayap. Sayap itu akan hilang saat mereka dewasa—mungkin sekitar usia lima belas atau enam belas. Semakin kecil usia mereka, semakin besar sayap mereka. Dan semakin besar usia mereka, semakin kecil sayap itu. Seorang bayi dapat memiliki sayap yang sebesar tubuhnya yang dapat dijadikannya kasur bulu yang lembut sekaligus selimut yang nyaman, sebagai ganti kehangatan pelukan ibu—yang bagaimanapun, tak terganti. Selain sayap, mereka juga mempunyai lingkaran halo di atas kepala mereka, yang terang-benderang tetapi tidak terik atau menyilaukan, yang akan meredup seiring bertumbuhnya usia, dan hilang saat mereka—lagi-lagi—menyentuh usia dewasa.

Rosemary sudah tidak memiliki sayap di punggungnya atau lingkaran halo di atas kepalanya sebab saat ia bertemu dengan Maut, ia telah hampir berusia dua puluh tahun—tepatnya tiga bulan sebelum merayakan kepala dua pertamanya. Ia mengembuskan napas terakhir pada tanggal 9 Januari, sementara ulang tahunnya yang kedua puluh jatuh pada tanggal 9 April. Ia tidak ingat bagaimana ia meninggal. Ia hanya tahu ketika terjaga, ia sudah ada di samping Maut, di dalam kereta yang berlayar di atas lautan yang jernih tetapi kelam, sebab malam sudah menjelang, di bawah langit malam penuh bintang-gemintang. ia tertegun menghadap langit, seolah juga ada samudra di antara gemawan, yang misteri. Angin membawa aroma sejuk yang menenangkannya—yang menghapus segala penyesalan dan kekecewaannya. Jadi, aku sudah mati, ya? Ia bertanya kepada Maut yang duduk di sampingnya. Gaun hitamnya menyentuh lantai yang dipenuhi kabut. Maut hanya menjawab dengan anggukan singkat.

Lihat selengkapnya