Rosemary mendengar kicau burung di seberang jendela. Ia membuka pintu dan menyebarkan setangkup beras di bawah pohon kamper raksasa yang menaungi pondok kecilnya. Burung-burung menghampirinya.
Tak seperti rumah masa kecilnya, pondok Rosemary tidaklah besar. Isinya hanya dapur tempatnya biasa memanggang, kamar kecil, dua kamar tidur, dan ruang tamu dengan rak buku yang tingginya mencapai langit-langit. Ia sepertinya sudah di surga, tetapi bukan Surga dengan S besar. Ia berkata sepertinya sebab apa yang dialaminya di sini sama nyatanya dengan di sana. Terkadang, hatinya terasa hangat. Kata para malaikat, hangat yang nyaman, yang memeluk jantung hatinya ketika sendiri, berarti namanya telah disebut dalam doa.
Doa ibunya.
Mami.
Di depan jendela, jalan setapak masih gelap. Namun, ada sinar nila setipis kabut yang menyelinap di antara dedaunan.
Ah, sudah pagi rupanya.
Ia harus segera bekerja, menyiapkan roti, dan memberikannya kepada para penghuni hutan.
Rotilah satu-satunya yang menghubungkan dengan kehidupannya yang lalu—dengan rumahnya yang dulu. Ia mempelajari resep-resep itu dari ibunya. Dan ia berusaha sekuat tenaga supaya hasilnya mirip dengan roti-roti ibunya, sehingga saat ia menyantapnya, ia dapat merasakan ibunya hadir di sisinya. Ia bersyukur semasa hidup ia murid yang rajin. Ia menghapal seluruh resep—hampir seluruh tepatnya—andalan, dan rutin mempraktikkannya. Ia membawa roti-roti buatannya ke sekolah dan menitipkannya di kantin yang kemudian menjualnya dengan harga terjangkau.
Syukurlah, para guru yang biasanya melarang siswanya berjualan, mendukung Rosemary, sehingga ia mempunyai lebihan uang untuk ditabung. Ia bahkan sudah membuat merek sendiri, Rosemary Cake & Bakery.
Sesampainya di surga, ia mencatat resep-resepnya di buku harian. Tidak selalu mudah, sebab ada beberapa bahan yang mengandalkan insting, tidak dalam takaran pasti. Jadi, ia sering menguji resep-resep hingga takarannya benar-benar pasti—berapa gram tepung yang dibutuhkan, berapa liter susu, berapa sendok gula, berapa tetes pewarna. Ia juga mencatat merek-merek yang biasa digunakan ibunya, padahal tidak dapat ditemukannya di sini.
Pada akhirnya, ia hanya punya ingatan, dan ia cukup menyesal, bahkan setelah meninggal pun, tidak ada Buku Hidup seperti yang dibayangkannya ketika masih hidup. Sebaliknya, ia harus membeli buku kosong di kota terdekat, yang ditempuhnya dengan bersepeda, kemudian mencatat apa pun yang diingatnya, serinci mungkin.
Ia punya banyak waktu di surga. Hanya sedikit yang harus dikerjakannya. Menulis menjadi pengisi harinya.