Kemarin, Rosemary terjaga sebelum tengah malam untuk menyiapkan adonan rotibluder – yang membutuhkan waktu kurang lebih empat hingga lima jam sebelum mengembang. Ia berharap saat pagi datang, adonannya sudah siap. Jadi ia pun berjalan menuju dapur untuk mengeceknya, dan rupanya adonannya sudah mengembang sempurna. Meski begitu, setelah memasukkannya dalam mangkuk-mangkuk kertas, ia masih harus menunggu sekitar satu sampai dua jam lagi agar rotinya siap dipanggang. Karena udara di surga sangat dingin, pengembangan itu jadi lebih lama dibanding dengan di rumahnya dulu—di desa Dana, yang udaranya sangatlah panas dan lembap.Beberapa jam kemudian – yang ia sendiri tak tahu, hanya mengandalkan perkiraan, ketika ia membuka selimut yang menutupi loyang, ternyata adonannya sudah sempurna. Ia langsung memanaskan oven dan memasukkan sepuluh wadah. Ia sudah menyiapkan tiga puluh kue, tetapi karena oven yang dimilikinya kecil, ia mencicilnya sepuluh-sepuluh.
Sebenarnya penghuni panti asuhan hanya dua belas orang, tapi dia mengantisipasi jika berjumpa dengan yang lain ketika berjalan ke sana. Ia juga berencana melewati pondok Celestine si penjual permen, dan barangkali juga berpaspasan dengan Edelweiss si penjaga hutan. Setelah semua rotinya jadi, ia memasukkannya satu per satu dalam kantung kertas, kemudian mengambil keranjang punggung yang digantungnya di belakang pintu masuk. Ia menyimpan sebagian roti dalam keranjang itu – sisanya ia letakkan di keranjang sepeda. Ia heran, padahal sudah memilih hari Sabtu dan Minggu sebagai hari istirahat, tapi kenapa ia masih hibuk menjajakan kue atau roti. Tetapi mengapa adalah pertanyaan yang sulit dijawab, yang jika dipikirkan akan menguras energi paginya. Bagaimanapun, ia senang melakukannya. Ini lebih menarik daripada menunggu pelanggan datang di balik meja kasir.
Dan ia menyukai pagi di surga.
Ia tak tahu bahwa ia mencintai pagi. Seingatnya, ia membenci pagi sebab mengharuskannya bangun dari kasurnya yang nyaman, tetapi setelah sampai di surga, ia menyadari pagi menawarkan begitu banyak keindahan. Ia suka ketika satu per satu disentuh cahayanya, seolah alam semesta mewarnai seluruh Bumi yang tadinya gelap semata. Dan ia menyukai suara burung-burung yang saling berkicau di ranting-ranting pepohonan—kicaunya bergema, memantul-mantul di udara. Ia mengayuh sepedanya dengan perlahan saja. Sebenarnya, ia ingin berjalan kaki saja, tetapi ia tinggal di satu sudut surga yang jauh dari mana-mana. Ia bisa saja pindah ke tempat yang lebih strategis, tapi ia sudah kadung mencintai pondok kecilnya. Ia penasaran di mana nenek tinggal, ya.
Sesampainya di sempadan hutan, ia memarkir sepedanya di halaman rumah Celestine yang sebahagian besar terbuat dari gelondong-gelondong kayu. Di depan pintunya ada tulisan OPEN, pertanda toko permennya sudah buka—padahal matahari belum benar-benar terbit. Ia melihat Celestine duduk di kebunnya sambil memberi makan burung-burung. Rasanya, di surga semua punya kebiasaan yang sama. Saat Celestine melihat Rosemary, ia segera berdiri dan menyambut temannya itu. Ia girang ketika Rosemary memberinya kue bluder kepadanya, dan segera memasuki tokonya untuk menyajikan teh hijau yang aromanya lumayan semerbak tetapi tidak tajam. Di halaman rumah Celestine, ada pohon cemara besar yang tingginya seolah mampu menyentuh langit, dan di bawahnya ada dua batu gelondong beralas datar yang beberapa bagiannya sudah diselimuti lumut. Di sanalah keduanya duduk. Awalnya tidak ada yang memulai percakapan. Saat ada beberapa anak yang datang untuk membeli permen—atau kembang api—Celestine meninggalkan Rosemary sendirian, terkadang untuk waktu yang lumayan lama.
Ada yang berkata bahwa Celestine adalah anak yang terlahir di surga. Ia tidak pernah mengalami kehidupan di dunia seperti malaikat lain, tidak pernah mengalami kematian juga. Tapi beberapa kali ia berjumpa dengan Maut, yang keluar dari hutan purba untuk mengantar anak-anak yang baru datang dari dunia sana, dan ia tidak takut sama sekali. Maut selalu ramah, dan ia selalu tersenyum ketika berpapasan dengannya. Maut tidak banyak bicara, selalu diam dengan tongkat panjangnya. Padahal ia ingin bertanya banyak hal kepadanya, ia ingin Maut menceritakan seperti apa dunia yang lain itu. Apa yang membedakan surga dan dunia? Dan hampir tak ada satu pun yang sanggup menjawab, tetapi hampir semuanya menjawab, udaranya. Di sini udaranya bersih, begitu? Bukan, di sini udaranya membawa damai. Orang tua Celestine telah lama pergi. Ia merindukan mereka, tetapi tidak terlalu sedih, sebab ia tahu—bukan sekadar percaya—bahwa mereka telah berada di tempat yang lebih baik. Lagi pula, ia memiliki semua orang sebagai keluarganya.
"Mereka—maaf—meninggal?"
Celestine menggeleng. Mereka diangkat.
Diangkat?
Ya, mereka pergi begitu saja, menjadi cahaya yang menyatu dengan matahari.
Itu indah, Rosemary mengatakannya dalam hati. Ia terlalu takut mengucapkannya, ia takut menyakiti hati Celestine.
Tapi, dengan senyumnya yang secerah pagi, Celestine berkata, Itu indah, bukan? Dan Rosemary mengangguk pelan.
Terkadang, Rosemary memandang matahari dan bertanya-tanya, apakah matahari yang dipenuhi cahaya kebaikan hati itu, sebenarnya adalah Tuhan, dan kita semua—yang hidup di bawah cahayanya—adalah mimpi-mimpinya belaka—mimpi yang indah, semoga? Ia menyukai pemikiran itu, tetapi ia tidak terlalu ingin membicarakannya. Alih-alih, ia membicarakan tentang neneknya, yang pagi tadi begitu ia rindui.
Ia menceritakan betapa neneknya menyukai puisi. Ia memiliki satu lemari—tidak satu lemari tepatnya, tapi hanya beberapa buah rak—berisi puisi-puisi yang ditulisnya (ditulis di komputer dan dicetak, kemudian dijilid di toko fotokopi terdekat), dan satu lemari lagi—kali ini benar-benar lemari—yang berisi buku-buku hariannya. Mungkin, rasa cintanya pada dunia tulis-menulis menurun dari neneknya. Ia tidak mengenal kakeknya, yang meninggal jauh sebelum ia lahir. Jika mengunjungi rumah neneknya, Rosemary selalu tertarik menelusuri rak bukunya yang luar biasa besar. Kata Nenek, ia maupun Kakek tidak memiliki pendidikan yang tinggi—hanya setamat sekolah menengah—tetapi mereka sama-sama suka baca. Dan, beginilah kata-kata mereka, Selama engkau suka membaca buku—banyak buku—kau akan baik-baik saja. Neneknya juga menganjurkan Rosemary untuk membelanjakan uangnya untuk membeli buku. Jika ada sisa, barulah membeli makan dan pakaian. Rosemary yakin kata-kata neneknya itu meresap kuat di alam bawah sadarnya. Setiap kali hendak memanjakan diri, ia selalu memikirkan toko buku, dan setiap kali ingin membeli yang bukan-buku, ia selalu berpikir, Mending uangnya untuk beli buku. Tapi saat ia masuk SMP, buku harus berbagi ruang dengan kaset dan CD. Ia menjadi mengganderungi musik, seperti ayahnya, dan setiap kali keluarganya mengajaknya ke Jakarta, sebagian besar uang ia belanjakan untuk membeli album-album yang tidak ada di toko musik di kotanya. Walkman atau Discman selalu ia bawa ke mana-mana. Ia juga mempunyai tas khusus untuk membawa kebutuhan-kebutuhan primer-nya: berbagai kaset dan CD yang akan didengarnya dalam perjalanan. Ia jadi merindukan kamarnya di rumah orang tuanya.
Nenek Hora? Itulah yang dikatakan Celestine setelah ia mendengar cerita Rosemary. Celestine memberikannya secangkir teh hangat yang rasanya pahit sekali, seperti obat, tetapi juga sangat disukainya. Ia heran, padahal Celestine mempunyai toko permen, tapi ia malah keranjingan teh pahit.
Celestine hanya tertawa, "Kamu juga penjual roti tapi menyukai bunga-bunga!"