Ia mengawali Minggu paginya dengan berbaring di samping jendela dalam selimutnya yang nyaman. Ia tak hendak terjaga atau bangkit dari kasurnya—atau berjalan untuk menyalakan lampu atau apa pun. Ia menikmati kegelapan di kamarnya—dan membayangkan bagaimana rasanya kembali ke rahim ibu yang aman. (Surga agak mirip dengan rahim.) Ia memandang jendela yang menghamparkan pemandangan putih hujan yang lebat, begitu lebat, seolah tak ada apa pun di luar sana selain hujan. Langit masih segelap pejam, mungkin masih pukul tiga seperti biasa ia terjaga setiap pagi, dan samar-samar di kejauhan ia mendengar suara burung bercicit-cuit di antara dahan. Di samping rumahnya ada pohon beringin kekar yang usianya mungkin sudah setua waktu, dan sekarang—dalam rimbun hujan—bahkan terlihat lebih tua lagi. Batang-batangnya yang berongga seolah menyimpan sesuatu yang rahasia, dan janggut-janggutnya yang lebat menutupi pandangan. Awalnya Rosemary takut pada pohon beringin itu, sebab sepanjang hidupnya, ia mendapat masukan dari masyarakat desanya bahwa pohon beringin adalah pohon angker. Tetapi, lama-kelamaan ia terbiasa dengan kehadirannya. Di tempat ini, adakalanya ia melihat hantu, dengan tubuh nyaris tembus pandang, berjalan di dalam hutan dengan membawa lentera berwarna merah, tetapi mereka sama sekali tidak menakutkan; mereka menyapa Rosemary jika tak sengaja berpapasan. Tentu, ia juga mengalami hujan di rumahnya yang jauh, tetapi tak pernah seputih ini. Hujan ini seolah menumbuhkan kabut yang menyelinap masuk ke dalam ruangan dan membekukan tulang-tulangnya. Ia menarik selimutnya lebih rapat lagi, hanya saja matanya tak mau lepas dari jendela.
Hari Minggu adalah hari liburnya. Hari Sabat-nya. Ia tidak membuka toko kue atau mengantar kue, ia hanya ingin bermalas-malasan sepanjang hari—entah dengan membaca atau menulis. Atau sekadar berjalan-jalan di sekeliling hutan, menikmati setiap langkah yang terbina. Ia juga bisa tidur sepanjang siang dalam kedamaian, di bawah matahari yang hangat, yang menembusi genting kamarnya—ada satu yang terbuat dari kaca. Ia tidak memiliki rencana apa pun. Buku Rencana-nya tidak mencantumkan apa pun yang harus dilakukannya pada hari Minggu. Ia benar-benar tanpa rencana. Mungkin sudah satu jam lamanya ia memandang hujan di jendela kamarnya, yang tidak berkurang derasnya, tetapi juga tidak bertambah lebat. Sepertinya ia harus pasrah di rumah saja.
Rosemary bangkit dari kasurnya dan berjalan menuruni tangga, kemudian memasuki toko rotinya. Ada seloyang roti yang tersisa, dan ia memilih satu untuk disantap. Di bagian depan toko rotinya juga ada jendela yang mengarah ke halaman, dan pemandangan di jendela itu tidak seperti di kamarnya yang terhalang pohon beringin, ia bisa melihat jalan setapak. Ada dua ekor kunang-kunang hinggap di kaca, kemudian pergi tak lama kemudian menyusul teman-temannya yang sudah lebih dahulu menari di tengah hujan. Rosemary menyeduh cokelat hangat dan meminumnya sembari menyantap rotinya. Ia tidak mengantuk, tapi perasaannya nyaman sekali, jadi ia memutuskan memejamkan mata saja.
Syukurlah, ketika matahari datang menjelang, hujan perlahan-lahan reda, dan udara yang tadinya sepucat kabut mulai memiliki warna. Masih ada gerimis, tetapi seperti akan reda. Jalan setapak dipenuhi genangan, dan rerumputan dipenuhi permata embun. Rosemary membuka pintu dan duduk di beranda. Udara yang dingin sudah tidak mengganggunya. Ia berharap andai ia punya sayap.
Ia memandang sosok putih berkelebat di tengah hutan dan mengenalinya sebagai Edelweiss. Ia adalah penjaga hutan. Konon, sudah lama sekali manusia tidak dipilih untuk mengemban tugas itu. Biasanya Ibu Bumi memilih hewan-hewan—terakhir adalah Rusa Kencana. Tetapi sejak beberapa tahun yang lalu—yang entah sudah berapa lama, sebenarnya, sebab Edelweiss sudah ada sejak lama sekali—yang dipilih adalah seorang gadis kecil bernama Edelweiss. Ia dulu tinggal bersama Roh Pohon bernama Ulfur—artinya serigala—di dunia yang hampir mati.
Edelweiss yang menyadari nyala lampu di beranda rumah Rosemary, datang menghampirinya. Rosemary bernapas lega sebab tidak ada Ulfur di dekatnya. Meski tidak berbahaya—bahkan sangat ramah—Ulfur memiliki wujud yang cukup menyeramkan, dengan kepala yang seperti tengkorak serigala dan pakaian rombeng. Begitulah ia membayangkan Maut dalam hidupnya, syukurlah yang datang kepadanya adalah Maut yang ramah.
Selamat pagi, sapa Edelweiss.
Rosemary tersenyum. Pagi.
Ia bertanya apa yang Edelweiss kerjakan pagi-pagi benar, tetapi Edelweiss hanya tersenyum dan menjawab, Aku melihat Tuhan bekerja. Aku hampir-hampir pengangguran, tak ada yang bisa aku kerjakan. Alam sangat mandiri. Ia memperbaiki dan memperbaharui diri sendiri, tanpa perlu penjaga. Aku hanya pemerhati—atau lebih tepatnya—penikmat atas apa yang sudah dikerjakan Alam. Aku adalah anak yang beruntung.
Rosemary tersenyum. Ia tahu betapa rajinnya Edelweiss, tapi tak mungkin ia mau mengakuinya. Rosemary menyuguhkan roti kepada tamu paginya. Ini roti kemarin, tapi saya harap Anda berkenan menerimanya.
Terima kasih. Tolong jangan formal-formal, panggil saja aku Edelweiss—atau Bunga Kecil.
Rosemary ingin menyanggah, Tapi kamu lebih tua dari aku!
Dalam dimensi jiwa, semua jiwa sama tuanya. Kita diciptakan dari sumber yang sama—Matahari yang sama—dan pada waktu yang bersamaan juga, Rosemary. Kau dan aku sama tuanya. Kita juga tak lebih muda daripada para Tetua di hutan purba yang sudah hidup selama detik pertama dijatuhkan. Wadah yang kautempati mungkin masih muda, tetapi nyala jiwa yang ada di dalamnya telah ada sejak permulaan waktu.
Ya, aku mengerti.
Edelweiss menyantap roti pemberian Rosemary, juga secangkir cokelat panas yang masih mengepulkan uap. Ia teringat pada masa kecilnya di kota, ketika tinggal berdua saja dengan neneknya. Entah di mana dia sekarang. Tujuannya datang ke tempat ini adalah untuk menjumpai neneknya. Sebagai penjaga hutan, ia dapat berpindah-pindah ke dunia yang lain, asal tidak terlalu jauh dengan dunianya sendiri. Ia yakin neneknya berada di sini, tetapi mungkin sudah diangkat, dan jika sudah begitu ia telah menyatu dengan Matahari, sehingga satu-satunya cara berjumpa dengannya adalah dengan diangkat juga. Seandainya saja ia tahu. Tetapi pertemuannya dengan berbagai macam orang di tempat yang oleh sebahagian orang disebut surga ini cukup membuatnya betah, sehingga ia menempati pondok kecil di tepi sungai yang bentuknya alangkah mirip dengan Pondok Walden di dunianya sendiri. Sepertinya tempat ini adalah surga kecil yang dihuni beberapa orang yang sudah meninggal sebelum akhirnya pergi ke Surga Besar. Bagaimanapun, ini adalah tempat yang nyaman.
Dunianya sendiri sudah lama sunyi, hanya tersisa sedikit manusia, tetapi hewan-hewan justru kembali, bahkan yang telah lama punah—Termasuk dinosaurus? tanya Rosemary—Tidak sepurba itu, Sayang. Edelweiss memperhatikan peninggalan peradaban yang dulu begitu jemawa mengisi seluk kota, satu per satu runtuh, dan hutan yang tersembunyi di dalam lantai beton mulai menampakkan diri. Tahu-tahu, seluruh kota telah kembali menjadi hutan dan tidak ada satu pun bangunan yang selamat dari rambatan daun-daun dan rekahan bunga-bunga. Air yang sempat tertahan mengalir deras mengakibatkan banjir di berbagai tempat.
Begitulah—Edelweiss menghentikan ceritanya.
Karena And—kamu berada di sini, apa berarti kamu sudah meninggal?
Edelweiss menggeleng. Tidak, aku bisa kembali ke tempat asalku dengan meminjam kekuatan kabut.
Kabut?
Ya, di dalam kabut ada dunia-dunia. Untuk kembali, aku tinggal masuk ke dalam dekapannya dan membiarkan ia memulangkanku ke negeriku—di ujung ufuk.
Itu agak mengerikan, bukan?
Tidak juga. Kau hanya perlu percaya. Edelweiss tersenyum. Ketika ia mendekat, barulah Rosemary menyadari, ramnbut Edelweiss tidak putih sepenuhnya, bahkan bukan pula putih keperakan seperti yang diduganya selama ini, melainkan putih kebiruan—biru yang benar-benar lembut dan putih yang tak kalah lembutnya. Beberapa helai yang jatuh di wajahnya ketika merunduk, seperti memancarkan cahaya kebiruan yang tenang.
Itu agak seperti dongeng. Dan karena aku berada di tempat yang gaib ini, aku bisa mempercayai kata-katamu. Selagi hidup, aku meneladani Alice. Setiap pagi, sebelum turun dari kasur, aku harus mempercayai tujuh keajaiban.