Aroma Matahari di Pagi yang Cerah

Rafael Yanuar
Chapter #6

Alamat-Alamat Puisi

Seperti biasa Rosemary bangun pagi-pagi sekali. Kamar Lily masih gelap. Lily memainkan gitarnya hingga jauh malam, mungkin baru berhenti pada dini hari yang sembap. Ia bermain dengan sangat lembut. Suara gitarnya pun teredam guguran hujan sehingga tidak mengganggu siapa pun. Tak ada pula yang mendengar isaknya sepanjang malam. Karena tidak ingin membangunkannya, Rosemary melangkah pelan-pelan saja, bahkan tanpa menyalakan lampu lorong terlebih dahulu. Di luar gerimis, tidak deras, tetapi rapat. Rasa letihnya masih tersisa, jadi ia tidak langsung memanggang roti. Ia duduk sebentar di beranda, memandang hutan yang masih gelap dan berkabut. Ia berharap dapat berjumpa dengan Edelweiss lagi, tapi sepertinya hanya ada kabut. Ia bersandar pada lengannya. Di pangkal matanya, pohon-pohon lampu jalan menyala terang. Pohon-pohon itu berbentuk seperti lampu jalan tua, dengan putik menyerupai bola lampu—fungsinya pun layaknya lampu—bisa menyala. Tetapi dengan cahaya yang redup saja seperti kunang-kunang.

Ia masih tidak menyangka akhirnya memiliki teman serumah. Senyumnya mengembang tanpa dapat ditahannya.

Jauh di relung hutan, ada suara bambu yang bergeseran, dan burung-burung mematuki pepagan. Ia mendengar deru langkah seperti rusa melesat di redup jalan, yang disusul kersik daun-daun.

Ketika Lily terjaga, ia mendapati Rosemary sudah sibuk di dapur. Ia ingin membantu, dan berkata kepada Rosemary, barangkali ada yang ia dapat kerjakan, tapi ketika Rosemary bertanya kepadanya, apakah ia pernah membuat kue sebelumnya, Lily menggelengkan kepalanya dengan malu-malu. Aku hanya suka menyantapnya, katanya. Akhirnya, Rosemary menugaskannya menunggu panggangan, dan ia cukup cekatan untuk memasukkan dan mengeluarkan adonan pada saat yang tepat sehingga hasilnya memuaskan. Ia juga membantu Rosemary memajang kue-kue itu di etalase. Hanya ada sedikit kue dan etalasenya pun tidak besar, tetapi baunya harum sekali. Sepanjang bekerja, Lily tidak berhenti bernyanyi, terkadang juga menari-nari. Ia mengenakan baju poncho berwarna putih dan membiarkan hoodie-nya menjuntai di belakang. Rambutnya ternyata cukup panjang, dan ia membiarkannya tergerai, tidak disembunyikan di balik poncho-nya. Pelanggan pertama yang datang, dan Rosemary sudah menantikannya sejak ia mengunjungi Bintang Utara pada Sabtu kemarin, adalah pemilik Bengkel Malaikat. Rosemary segera menghampirinya, dan menceritakan tentang Aurel. Tetapi pemilik Bengkel Malaikat, yang kemudian diketahui bernama Freesia, berkata bahwa ia sama sekali tidak mampu mengobati sayap malaikat yang rusak—dan nama Bengkel Malaikat juga salah kaprah.

Rumahku ada di dekat air terjun, dan aku tidak memiliki pekerjaan apa pun selain menyembuhkan hewan-hewan yang terluka, terutama burung yang sayapnya patah. Hampir setiap hari, ketika aku membuka pintu pada pagi belia, aku mendapati seekor burung sudah berbaring di depan pintu. Aku membawanya masuk dan mengobatinya semampuku. Aku seperti asisten pribadi Penjaga Hutan—Edelweiss. Tetapi kemudian datang malaikat yang sayapnya tinggal separuh, namanya Lilac. Aku berusaha mengobatinya dengan berbagai metode. Tetapi sayap malaikat selalu seringan cahaya, sehingga benda apa pun yang aku gunakan sebagai penyangga, hanya membuatnya berat sebelah. Aku sudah menggunakan batang buluh seperti layang-layang, juga benang—banyak sekali, pokoknya—tetap saja berakhir gagal. Tapi Lilac dan aku akhirnya jadi sahabat, dan lama-lama sayapnya sembuh sendiri. Bukan dengan perlahan-lahan, melainkan seketika saja. Berita itu menyebar di seantero kota—dan mereka menjuluki pondok kecilku sebagai Bengkel Malaikat. Aku yakin bukan aku yang menyembuhkan, melainkan suasana di rumahku. Kau pasti suka kalau bertamu sesekali, rasanya benar-benar hening, seperti meditasi.

Rosemary rasa seluruh tempat ini sudah dipenuhi keheningan yang muskil ia temukan di dunia yang lama, ia tidak dapat membayangkan suatu daerah yang bisa lebih hening lagi. Tetapi, setelah mendapat alamat Freesia—bukan dengan nama jalan dan nomor rumah, melainkan sesuatu yang lebih romantis (rumahkukecil, terletak di balik kabut air terjun, tempat pelangi selalu singgah.Pintu kayunya menghadap jalan setapak yang basah, berhadapan langsung dengan nyanyian air yang jatuh.Pondokkubergenting hitam, dindingnya berlumut hijau, berdiri tak jauh dari batu besar yang dilumuri percikan air.Beranda bambuku menghadap ke tirai putih jatuh dari tebing, di mana suara malam bercampur dengan gemuruh.Pondok sederhana di lembah, ditandai oleh lentera yang bergoyang setiap kali embun tertiup angin)—iaberkata ingin mengajak Aurel mengunjungi Freesia. Freesiamembeli dua bungkus roti jeruk dan mengucapkan terima kasih berkali-kali sebelum berjalan menyusuri hutan dan menghilang ditelan kabut. Ia berkata bahwa ia sangat senang dan menantikan kedatangan Rosemary dan Aurel, ia juga menyukai suara Lily yang menurutnya indah sekali. Aku ingin mendengarnya bernyanyi lebih lama lagi, tetapi di rumah sudah menunggu seekor burung yang harus diobati. Lilac ada di rumahku juga. Aku harap kalian dapat berjumpa dengannya.

Hampir sepanjang hari, Rosemary dan Lily bekerja sama memanggang adonan—sedikit demi sedikit—sehingga setiap roti yang disajikan di Aroma Matahari selalu empuk dan baru matang. Meski udara di sekitar terasa dingin, dan angin membawa sejuk pegunungan, bagian dalam ruangan sebaliknya, justru, hangat dan beraroma manis. Pengunjung yang datang tidak seberapa. Adakalanya hingga berjam-jam tidak ada satu pun yang datang, seolah hendak mengizinkan mereka beristirahat dan menghabiskan waktu dengan mengerjakan hal-hal lain—Rosemary dengan bukunya, Lily dengan gitarnya. Terkadang mereka memanfaatkan waktu senggang dengan memanggang lebih banyak roti agar etalase tidak terlalu kosong. Kalau tidak habis, bagaimana? Kita bisa membagi-bagikannya.

Apa kau tidak cemas kalau dalam sehari tidak ada satu pun yang beli?

Tidak. Sama sekali tidak. Lagi pula, aku tidak menjualnya seperti kita menjual sesuatu di dunia yang lama. Aku membuat kue karena aku ingin, bukan karena harus. Saat melihat seeorang menyantap kue buatanku dengan bahagia pun, aku sudah senang. Aku sendiri tidak mengerti mengapa aku dapat berpikiran seperti ini—atau bagaimana seisi surga punya pemikiran yang sama. Setelah kita meninggal, kita diberi buku amal yang dapat kita gunakan sebagai ganti pembayaran, tapi sepertinya seluruh surga tidak mengindahkan itu dan malah saling memberi. Terkadang, saat aku termenung-menung sendiri, aku merasa cara hidup kita di dunia sebenarnya konyol juga.

Lily teringat pada Freesia ketika ia memberi tahunya alamat rumahnya. Ia tidak menyebutkan nama jalan dan nomor rumah, melainkan deskripsi yang hampir-hampir puitis. Apakah tidak ada sesuatu yang dapat dijadikan patokan agar kita tidak tersesat? Rosemary menjawab, mungkin ada, tetapi entahlah—kami lebih suka merepotkan diri dengan menggunakan nama-namaseperti yang dilakukan Freesia, bahkan saat menulis surat pun, alamatnya yang tertulis di muka surat biasanya sama ambigunya—

Untuk Nyonya Lembayung yang rumahnya di bawah pohon flamboyan, dekat sungai,

Untuk anak kecil yang suka duduk di batu besar menghadap sawah,

Rumah yang berdiri di antara dua pohon flamboyan, tempat burung-burung singgah setiap pagi,

Rumah beratap genting merah yang jendelanya selalu dipayungi bunga kertas berwarna ungu,

Rumah kayu di tikungan jalan kecil di mana aroma kopi sering bercampur dengan bau tanah basah setelah hujan,

Rumah dengan pagar bambu dan lampu minyak yang selalu menyala di terasnya saat senja,

Rumah yang bersembunyi di balik perdu melati, yang harum bunganya terkadang sampai ke jalan.

Lalu bagaimana orang-orang menggambarkan alamat rumahmu?

Aku ingat mereka menamai pondokku rumah kecil di seberang setapak basah, yang setiap pagi menguarkan aroma hangat matahari.

Padahal mereka bisa menulis Rosemary di Toko Kue Aroma Matahari.

Benar. Rosemary tertawa. Tapi, sebenarnya, alamat itu—Aroma Matahari—lebih dulu ada daripada nama tokonya. Merekalah yang awalnya menyebutkan aroma hangat roti buatanku, yang menguar dari pondok kecil di tepi hutan ini sebagai aroma matahari. Padahal saat aku masih hidup, aku ingin toko rotiku dinamai dengan namaku saja—Rosemary Cake&Bakery.

Padahal pohon flamboyan itu mungkin saja besok gugur, bunga-bunga bisa layu—saat segala sesuatunya berubah, kalimat yang dulu kita jadikan alamat tidak lagi relevan untuk dijadikan petunjuk. Berbeda dengan nomor dan nama jalan yang mungkin bertahan lebih lama—bahkan ratusan tahun, atau lebih daripada itu.

Ya, mungkin kami melakukannya karena kami memeluk ketidakabadian. Kami tahu segalanya akan berubah. Yang timbul akan tenggelam. Yang muncul akan berubah. Bahkan gelas cokelat yang kita pegang saat ini pun sebenarnya sudah rusak bahkan sebelum ia rusak. Dengan menyadari itu, ketika gelas ini benar-benar rusak, kita tidak terkejut atau berlarut-larut dalam penyesalan.

Aku mengerti sekaligus tidak, Lily tertawa. Tapi aku teringat pada novel Pangeran Kecil. Sepertinya, begitulah anak-anak akan menamai rumah mereka jika orang tua mereka mengizinkan. Bagaimanapun, kalau dipikir lagi, rasanya nama-nama itu terdengar jauh lebih baik daripada yang kita pakai di dunia. Jalan Hutan Purba nomor 13, misalnya, itu jauh lebih sederhana, tapi tidak lebih romantis daripada rumah yang tertawa dengan suara angin sebab dindingnya ditutupi bambu berderit atau rumah yang menghadap sawah tempat burung-burung singgah di sore hari.

Lihat selengkapnya