Aroma Matahari di Pagi yang Cerah

Rafael Yanuar
Chapter #7

Gula-Gula Peri

Musim apel sudah tiba di desa dan Lily sudah terbiasa tinggal di rumah roti Rosemary—ia tidak menyebutnya Aroma Matahari, sebab katanya terlalu puitis; terlalu canggung untuk diucapkan. Lagipula,Rumah Roti Rosemary punya rima yang bagus—Ketika Rosemary berkata bahwa ia setuju dengan kata-katanya, Lily tertegun. Adakalanya, aku sendiri merasa nama itu terlalu lewah, berlebihan. Aku ingin nama yang jauh lebih sederhana, dan Rumah Roti Rosemary—atau RRR—adalah pilihan yang bagus. Tetapi Lily buru-buru menjawab, Tidak—sama sekali tidak. Aroma Matahari terasa sedap sekaligus puitis jika kau tahu maknanya.

Lily juga mulai membuat rotinya sendiri. Hasilnya tidak seenak roti buatan Rosemary—atau, lebih tepatnya tidak semanis roti-roti yang biasa dijual di RRR, tetapi ada juga yang menyukainya. Beberapa pembeli, bahkan Freesia dan Lilac, yang memang tidak terlalu menyukai makanan manis, berkata roti-roti buatan Lily selaras dengan selera mereka. Setiap kali mengunjungi RRR, Freesia selalu bertanya, kapan kalian akan datang ke rumah kami. Rosemary dan Lily sangat ingin mengunjungi Bengkel Malaikat, tapi esok selalu datang dan datang lagi, hingga akhirnya sudah berbulan-bulan berlalu dan rencana tinggal hanya rencana.

Awalnya, Lily hanya menambahkan sedikit gula pada roti adonannya, semata sebagai teman minum kopi, tapi kata Rosemary dijual saja. Ia berkata, bahwa gula di desa hutan tidak seperti gula di dunia kita yang lama. Gula ini terbuat dari apel—kami menyebutnya gula apel—dan manisnya pun tidak membuat tubuh menjerit. Katanya, para perilah yang pertama kali membuatnya. Gula-gula di dunia lama pun awalnya terbuat dari apel, tapi semenjak manusia memisahkan diri—kau tahu lanjutannya, bukan?—para peri menghilang, tetapi manusia yang sudah kadung mengenal manisnya gula, mencoba menirukannya. Sayang tidak berhasil. Tetap manis, tapi tidak semanis gula apel.Singkatnya, aku hanya ingin berkata, gula apel tidak berbahaya untuk kesehatanmu.

Tetap saja, Lily lebih suka yang tidak terlalu manis. Kopinya pun kopi hitam biasa. Rosemary akhirnya membuatkan Lily roti sourdoughyang prosesnya tidak singkat dan tidak pula mudah, tetapi pasti disukai Lily—sebab rasanya yang gurih dan cenderung tawar.

Tapi—apakah aku sudah menyebutkannya?—musim apel sudah tiba di desa hutan, dan, seperti biasa, seperti tahun-tahun sebelumnya, Rosemary mendapatkan banyak sekali apel.Dan, seperti biasa, seperti tahun-tahun sebelum dan sesudahnya, Rosemary tidak kuasa menolak apel-apel yang diberikan tetangga-tetangganya yang baik. Setiap hari, ada saja yang mengantar sekantung apel dan membuat ruangan yang harusnya disediakan untuk menyimpan roti, jadi penuh dengan apel. Dan apel-apel itu bukan produk yang mungkin akan laku di musim apel, sebab, siapa pun dapat memakan apel.Jika apel-apel di rumahmu habis, kau bisa memintanya kepada tetangga—yang akan dengan senang hati memberimu sekantong apel. Dan kalau tetanggamu juga kehabisan apel—yang tidak mungkin—kau bisa berjalan atau bersepeda ke kebun apel dan memetik apelmu sendiri. Tak ada yang marah. Tak ada yang meneriakimu pencuri. Semua apel di kebun itu adalah milik semua orang. Musim apel juga adalah musim rusa, sebab rusa-rusa kelaparan itu akan mencari apel-apel yang ranum—yang sudah agak busuk—dan menyantapnya dengan nikmat. Rosemary memandang putus asa, tapi juga dengan sedikit gemas, pada etalase rotinya yang tak lagi dipenuhi roti. Hanya ada apel. Setiap hari datang yang baru. Setiap jenis tersedia. Dari apel fuji, apel lokal, Red Delicious yang enak untuk dimakan langsung, dan apel Golden yang cocok untuk dijadikan pai. Rosemary harus memutar otak dan mengolah apel-apel itu agar laku terjual.

Untuk sementara waktu, setidaknya sampai musim apel sedikit berkurang, toko Aroma Matahari yang seharusnya menjual roti, jadi menjual berbagai olahan apel. Pai apel, applecrisp, saus apel, hingga roti keju apel. Ia bisa bereksperimen sepuasnya—memanggang hingga menggoreng apel-apel itu hingga jadi kerupuk yang lezat, atau membuat pai apel dengan apel yang matang—dan ternyata justru hasilnya sempurna, sebab apel-apel itu membentuk kulitnya sendiri. Ia juga membuat minuman-minuman berbahan dasar apel, seperti jus dan sari apel yang dicampur dengan—apalagi kalau bukan—gula apel.

Tahun lalu, Rosemary berkenalan dengan Kara yang datang melancong dari jauh. Ia sangat menyukai pai apel buatan Rosemary. Kau beruntung, tidak setiap hari aku membuat pai. Hanya pada musim apel. Kara tersenyum dan berkata—dan Rosemary mendapati nada jenaka dalam balasan yang dikatakannya—Ya, kamu benar, aku beruntung. Pada dasarnya, aku orang yang beruntung. Dan hanya orang yang beruntung yang dapat menjadi pengelana.Kara berkata bahwa ia berasal dari negeri yang jauh, tapi ia menghabiskan hampir separuh hidup di jalanan, berkelana dari satu tempat ke tempat yang lain. Nama panjangnyaadalahKaraniya, seperti doa yang diajarkan Buddha. Karena Kara berkata akan mencari penginapan di alun-alun kota, Rosemary segera menawarkan kamar yang saat ini dipakai Lily sebagai tempat menginap, dan selama menetap di desa ini, ia boleh tinggal bersamanya. Kamu mengatakan itu—apa kamu tidak takut kalau aku menjadi betah dan menginap selamanya di tempatmu? Itu pun tak masalah—Rosemary tertawa. Sebagai gantinya—kalau aku boleh sedikit serakah—aku ingin mendengarmu menceritakan pengalamanmu selama ini. Semenjak aku mat—maksudku, semenjak aku pindah rumah, aku hanya tinggal di tempat ini. Aku tak tahu ada negeri-negeri lain atau tempat-tempat yang lebih jauh daripada alun-alun kota ini. Dan sembari mendengarmu bercerita, aku akan menyeduhkanmu teh—atau kau lebih suka kopi?—dan roti.

Rosemary mendapati cerita yang hampir-hampir tak masuk akal, tetapi ia sudah terbiasa menerima hal-hal yang menantang logika, terutama sejak ia tinggal di desa—di tepian akhirat yang tenang ini. Kara berkelana dengan menumpang kendaraan-kendaraan umum, tapi jika tidak ada kereta, bus, becak, atau delman yang dapat ditumpanginya, ia memutuskan untuk jalan kaki saja. Dalam perjalanannya yang panjang dan tanpa tujuan, ia kerapmendapat tawaran untuk menginap di rumah-rumah masyarakat—singgah selama sehari dua—seperti yang saat ini aku lakukan di rumahmu—atau di penginapan kecil di dekat pasar dan alun-alun. Setelah lelah berkelana, ia berbaring di kasur dan memejamkan mata sejenak, lalu membantu-bantu pemilik rumah, atau, jika ia menginap di rumah tamu, berlama-lama duduk di dekat jendela untuk memandangi orang-orang berlalu lalang. Saat mendengarnya, Rosemary hampir saja memekik dan berkata aku juga! Aku juga suka duduk di jendela. Tetapi mengurungkan niat agar Kara dapat menyelesaikan ceritanya. Rupanya, Kara pun terbiasa bangun pada pagi belia seperti Rosemary dan bukan tanpa sebab. Ia menanti-nantikereta fajar yang melintas menebas senyap. Tapi di sini tidak ada stasiun, kecuali dermaga-stasiun di pinggir hutan purba, tempat kami datang pada mulanya, kata Rosemary, dan suaranya tidak seperti kereta pada umumnya. Tidak ada peluit yang terlampau kencang untuk sampai ke tempat ini, dan dogleg-dogleg-nya pun terlalu jauh untuk terdengar. Namun, rupanya kereta yang dimaksud Kara bukanlah kereta biasa (Rosemary berpikir, kereta yang aku maksud juga bukan kereta biasa), tapi kereta langit—dan Rosemary tersenyum, lalu dengan lembut berkata, apa pula itu?Tahukah kamu—dan ketika mendengar kata tahukah kamu yang diucapkan Kara, Rosemary langsung membuka telinganya lebar-lebar dan mengambil posisi senyaman mungkin, sebab ia akan mendengar sebuah dongeng yang terlalu aneh untuk jadi kenyataan. Tentu tidak seaneh—dan semenawan—petualangan Alice di Negeri Ajaib—novel yang mengajarinya untuk mendaftar enam kemustahilan sebelum sarapan—tapi adakalanya ia menulisnya setelah sarapan—tapi tetap saja aneh, bahkan untuk ukuran desa kecil di ujung dunia ini. Atau mungkin Rosemary saja yang belum terbiasa. Ia toh belum berkelana terlalu jauh.  

Pada zaman dahulu kala, beberapa jenak setelah Sang Jiwa menarikan Tarian Penciptaan, hiduplah seorang perempuan yang tinggal di suatu tempat yang dipenuhi pepohonan rindang. Ketika itu, manusia belum menarik garis yang memisahkan milikku dan milikmu dan miliknya, belum pula menentukan tanah mana yang milik siapa dan mana yang milik negara mana. Hanya ada satu Bumi dan itu lebih dari cukup—jauh lebih dari cukup. Penghuni Bumi belum sebanyak sekarang, bahkan sejauh mata memandang, hanya ada pohon-pohon, dan jika kau berhasil melewati baris pepohonan itu, yang tersisa tinggal lautan. Perempuan ini—yang konon bernama Lalita—sering menghabiskan waktunya dengan memandang langit dan membayangkan diri menjadi burung-burung yang dapat terbang melampaui udara. Sang Jiwa baru saja menciptakan bayangan, sehingga bayangan-bayangan itu belum melekat kuat pada objeknya.Begitupun bayangan Lalita, yang pada suatu senja, karena tak ingin mengganggu Lalita yang bermesraan dengan cahaya, memutuskan pamit dan meninggalkannya sendirian. Tanpa bayangan, tubuhnya jadi seringan cahaya dan ia perlahan-lahan terangkat oleh angin—naik dan terus naik hingga menemukan samudra awan yang kosong. Karena hatinya lembut, ia merasa awan itu terlalu sunyi. Ia pun menanam benih-benih yang dibawanya dari Bumi—benih dari pohon Fhana yang terletak di selatan hutan yang buah-buahnya bercahaya terang-benderang. Ia begitu terkesima ketika melihat benih itu langsung memanjangkan akarnya dan seketika saja tumbuh menjulang dan menjadi pohon pertama yang tumbuh di langit. Lalita kemudian menanam lebih banyak benih pohon cahaya hingga jadilah hutan yang setiap malam dapat kita lihat cahayanya sebagai bintang-gemintang. Tentu bintang-gemintang yang berasal dari hutan itu tidak sebanyak bintang-bintang yang ada di angkasa, tapi di antara bintang-bintang itu, ada yang berasal dari hutan di langit.

Nah, untuk mengunjungi hutan itu, ada lokomotif tua yang bisa mengantarkan kita ke sana. Sayangnya, aku tidak tahu asal-usul lokomotif itu. Aku tidak tahu apakah lokomotif itu sudah ada bahkan sebelum lokomotif pertama diciptakan, tapi aku selalu merasa benda itu sudah sangat tua—bahkan mungkin sudah setua waktu, tetapi bukan berarti keadaannya memprihatinkan atau rusak di sana-sini. Catnya masih mengilap, dan tidak ada satu pun bagiannya yang terlalu rusak, tapi memang tidak sempurna. Di bagian dalam, ada beberapa interior yang catnya mengelupas, rodanya pun berderit ketika menggelinding di ata udara sunyi. Loko itu hanya memiliki tiga gerbong tetapi biasanya hanya memuat tidak sampai selusinorang.Ia berangkat saat malam masih berada di antara tidur dan mimpi. Ketika ia bergerak, asapnya bukan asap hitam, melainkan gulungan awan tipis yang berpendar. Pada pagi belia, saat kau terjaga dari tidurmu yang panjang, dan di depan jendela kau memandang, begitu banyak awan yang menaungi kota—ah, itulah tanda kotamu baru saja dilewati Kereta Langit.

Aku menemukannya secara tidak sengaja. Ketika itu, aku baru saja terjaga dari tidurku yang dangkal, dan saat memandang ke arah jendela, aku mendapati suasana kota yang sunyi, dengan lampu-lampu yang meredup. Salju berjatuhan tetapi tidak memutihkan seluruh jalan, hanya seperti genangan-genangan beku. Udara berwarna cokelat dan jingga, tidak gelap sama sekali, padahal malam sudah larut. Saat aku menengok jam, rupanya sudah pukul dua. Aku mengambil mantelku dan berjalan menuruni tangga. Aku menginap di sebuah rumah tamu kecil yang terdiri dari dua lantai, di sudut alun-alun kota Lotus. Tak seperti alun-alun di kota lain, tak ada satu pun orang atau delman yang terlihat, hanya jalan yang ditutupi paping blok dan lampu-lampu yang menemani salju berjatuhan. Aku merapatkan mantel dan berjalan tanpa tentu arah. Aku mungkin saja tersesat, sebab itulah kali pertama aku mengunjungi kota Lotus, tetapi aku tidak keberatan, aku sudah terbiasa tersesat, dan terkadang, saat aku mengikuti langkah, di ujung perjalanan aku justru menemukan sesuatu yang lebih indah daripada yang selama ini kucari—tetapi malam itu, aku tidak sedang mencari apa-apa, hanya ingin menikmati malam sembari merintang-rintang waktu, siapa tahu kantuk datang kembali. Dan tahu-tahu aku sudah memasuki hutan pinus yang setiap pohonnya begitu tinggi. Aku terus saja berjalan—dan ketika aku memasuki hutan yang cukup dalam, aku mendapati pepohonan di sekitarku jadi bertambah sunyi dan baunya pun berbeda—seolah berasal dari masa lalu—dan kabut yang tadi hanya setipis bayang-bayang, semakin lama semakin tebal sehingga aku tidak lagi punya pijakan yang kokoh. Aku ingin kembali, hanya saja aku juga merasa sayang sebab sudah berjalan sejauh ini. Saat pagi datang menjelang, dan langit dipenuhi semburat matahari, barulah pikirkan tentang pulang. Aku agak menyesal tidak membawa botol minum, sebab kerongkonganku terasa kering, dan kakiku mulai lelah. Udara di sini dingin, tapi tidak ada salju yang turun. Saat aku mendengar suara sungai, aku mengikuti jejaknya dan sampai di sebuah sungai kecil berair jernih. Segera saja aku menenggak setangkup air dan beristirahat sejenak. Aku memutuskan untuk mengambil jalan memutar dan pulang. Seingatnya, jalan setapak yang aku lalui tidak bercabang, jadi mungkin akan mudah menemukan jalan kembali. Saat itulah aku mendengar suara kereta. Dan asalnya dari dalam hutan. Aku penasaran dan mengejar arah suara, lalu sampai di sebuah padang luas yang diterangi rembulan. Lokomotif tua yang entah dari mana asalnya—tidak ada rel di depan ataupun di belakangnya—parkir begitu saja di tengah padang. Lampu depannya menyala terang. Ia seperti menunggu seseorang. Saat aku mendekat, pintu gerbongnya pun terbuka, dan aku dipersilakan masuk. Aku mulai tak yakin lagi apakah aku berada di alam mimpi ataukah nyata, tetapi karena aku yakin ini mimpi, aku memasukinya saja. Sesaat kemudian, kereta itu menutup pintunya dan bergerak menuju langit. Aku terkejut, tetapi tidak terlalu. Aku bertanya kepada gadis kecil yang duduk di sampingku—ke mana kita akan pergi? Ia hanya menjawab, Pulau Langit! Ya—itu agak mengada-ngada, tetapi aku berada di dalam kereta yang bisa terbang seperti pesawat, jadi aku rasa Pulau Langit itu memang ada. Lagi pula, padahal kereta ini tidak bergerak di atas rel, tetapi kenapa terdengar bunyi seperti roda yang menggelinding di atas permukaan datar. Ya, sudahlah. Aku memandang jendela dan menikmati panorama yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Kota Lotus perlahan-lahan mengecil dan mengecil dan akhirnya aku tahu mengapa kota itu dinamai Lotus, sebab jika dilihat dari kejauhan, bentuknya memang menyerupai lotus. Bahkan dari kejauhan pun, kota itu terlihat sunyi seperti tengah bermeditasi. Aku bersyukur kereta itu tidak langsung menembus awan, sehingga aku dapat melihat samudra dan memandangi beberapa buah kereta berjalan di atas air. Aku dulu ada di salah satu kereta itu, seperti pula engkau dan sebahagian besar orang di dunia ini.

Tapi akhirnya kereta itu menembus awan—yang begitu tebal sehingga pemandangan di depan jendela seperti hujan yang deras. Rasanya cukup lama kereta itu menembusi awan ini—dan aku terkejut manakala mendapati ada akar-akar pohon yang melayang-layang di bawah permukaannya. Ada pula ikan-ikan yang melewatiku. Ikan-ikan pusparona. Apakah ini bukan benar-benar awan, melainkan samudra? Aku menikmati setiap pemandangan, begitupun gadis kecil yang duduk di sampingku. Dia ingin bertukar tempat denganku agar dapat duduk di samping jendela, dan aku mengiakannya. Dia—gadis kecil itu—berdiri memandang jendela dengan tangan memegang kusen jendela, matanya tak henti-henti memandang apa yang terlihat di depannya. Aku tidak tahu apa yang dipandangnya, sebab memilih menikmati perjalanan dengan sebentar memejamkan mata. Aku tidak bisa tidur, mungkin karena aku sebenarnya berada di alam tidur. Ketika kereta akhirnya tiba di permukaan, aku mendapati sebuah hutan lebat di depan jendela dan kereta pun mendarat di padang.

Padang itu terlihat sama dengan padang yang aku datangi saat sebelum aku menaiki Kereta Terbang, tetapi tak dapat dimungkiri bahwa rembulan yang bersinar di atas sana terlihat jauh lebih terang, dan bentuknya pun seperti tiga kali lebih besar daripada yang biasa aku lihat—dan ini sudah cukup menjadi bukti bahwa tempat ini tidak berbeda di atas Bumi melainkan di awan, sebuah negeri nun jauh di angan-angan. Bahkan, saking besar rembulan itu, aku seolah dapat menjangkaunya dengan jemari. Cukup dengan memanjat pohon, barangkali, dan duduk di salah satu cabangnya yang tertinggi. Para penumpang lain pun turun, jumlahnya ada dua belas—tapi aku tidak terlalu yakin. Di tengah padang, ada menara yang sepertinya adalah bekas mercusuar, tapi sudah terbengkalai dan tidak berfungsi lagi. Aku tidak tahu harus berbuat apa di sini. Tapi sayang juga kalau sekadar duduk-duduk. Jadi aku berjalan memasuki jalan setapak dan—seperti yang aku lakukan beberapa saat lalu—mengikuti ke mana kaki ini melangkah. Tetapi aku tidak seberani itu, rupanya. Sebelum sempat berjalan jauh, aku memutuskan pulang dan berjalan mendekati kereta. Aku memasuki gerbong yang tadi aku tumpangi dan duduk di samping jendela, memandang langit yang terasa dekat—dan menikmati udara yang anehnya tidak terasa tipis. Seorang perempuan berbusana biru tua memberiku segelas besar teh. Butuh waktu cukup lama bagiku untuk menyadari bahwa akulah yang dimaksud ketika ia menyodorkan gelas itu. Aku tidak dapat melihat wajahnya, sebab wajah itu tertutup tudung mantilla yang cukup tebal, sementara di sini juga hampir-hampir segelap pejam. Aku menerima pemberiannya dan mengucapkan terima kasih. Meski tidak melihatnya, aku dapat merasakan senyumnya. Ia berjalan menjauh, padahal aku berharap ia mau duduk di sampingku—setidaknya sampai kereta ini bergerak dan gadis kecil yang sejak tadi duduk di sampingku, kembali.

Setelah menerima segelas teh itu, barulah aku menyadari betapa kering kerongkonganku. Ketika aku menyentuh badan gelas, aku merasakan kehangatannya dan uapnya masih menguarkan harum teh yang seperti melati, tetapi ada wangi apel di belakangnya—gula peri. Aku sudah lama ingin mencicipi gula ini, sebab di kotaku tidak ada—kalaupun ada, jumlahnya sangat sedikit. Aku agak sedikit kecewa karena rasanya tidak seistimewa yang aku nanti-nantikan, tapi bukan berarti tidak enak. Aku pun memilih duduk di pintu gerbong–membiarkan angin membelai pucuk-pucuk rambutku yang akhirnya aku keluarkan dari tudung jaket. Kemudian, aku meminum teh itu lagi—dan semakin sering aku menenggaknya, semakin aku yakin bahwa teh itu bertambah enak—bahkan hampir-hampir memabukkan.

Lihat selengkapnya