Blurb
Bagi banyak orang, aroma bawang goreng dan kaldu sapi pekat yang mengepul dari dapur adalah sebuah undangan pulang. Namun bagi Bumi, aroma rawon buatan Ibunya adalah sebuah mesin waktu mekanis yang memaksanya kembali menghadapi luka yang belum sembuh.
Setelah dua tahun menghindar, Bumi terpaksa pulang ke rumah masa kecilnya. Di sana, sebuah meja makan kayu mahoni tua telah menanti. Meja yang seharusnya menjadi tempat menyatukan yang retak, justru menjadi saksi bisu bagaimana dinginnya dendam Bumi terhadap almarhum ayahnya berbenturan dengan harapan tulus sang Ibu, Astri, serta keceriaan adik bungsunya, Mentari.
Bumi menolak hadir di peringatan seratus hari kematian pria yang sepanjang hidupnya hanya memberikan tuntutan dan makian. Namun, sebuah cangkir kopi tua yang tersisa di meja makan dan sebuah buku agenda usang bersampul kulit hitam mengubah segalanya.
Di balik aroma masakan rumah yang familier, ada rahasia-rahasia kecil yang tak pernah terucap semasa sang ayah hidup. Bab demi bab masa lalu mulai terbuka, memaksa Bumi memilih: tetap mengunci diri dalam ruang dendam yang pekat, atau membiarkan kehangatan meja makan membasuh lukanya yang paling dalam?
"Karena terkadang, cinta yang paling besar justru disembunyikan di tempat yang paling bising: di balik denting sendok dan aroma masakan Ibu."