Aroma Meja Makan

Nurfaizah
Chapter #1

BAB 1: Kepulangan yang Asam

Aroma bawang goreng dan kaldu sapi pekat selalu punya cara magis untuk menembus sela-sela pintu kayu jati rumah Ibu. Bagi siapa pun yang berjalan melintasi pagar tanaman teh-tehan di depan rumah nomor 14, aroma itu adalah sebuah undangan tak tertulis yang hangat. Namun bagi Bumi, aroma itu seperti mesin waktu mekanis yang berkarat; memaksanya melangkah mundur dengan ego terluka, kembali ke masa-masa yang paling ingin ia kubur dalam-dalam.

Bumi berdiri di ambang pintu geser berbahan kayu jati yang sudah mulai kusam di beberapa bagian. Ia meraba pegangan pintunya yang dingin, lalu menarik napas panjang, mencoba menstabilkan debar jantungnya sendiri. Ia menyeret koper hitamnya yang beroda sedikit serat akibat tumpukan debu jalanan. Perjalanan lima jam dari Stasiun Gambir menuju kota kecil di Jawa Tengah ini menggunakan kereta eksekutif ternyata tidak mengurangi rasa lelahnya. Ada pegal yang menjalar dari pinggang hingga ke pundak, ditambah noda keringat yang mulai mengering di kerah kemeja flanelnya.

Setiap sudut teras ini masih sama. Kursi rotan tua tempat biasanya koran pagi diletakkan, pot-pot bunga gantung berisi tanaman kuping gajah milik ibunya, hingga lantai tegel abu-abu yang selalu terasa dingin di telapak kaki. Semuanya seolah menolak untuk tumbuh tua, berbeda dengan Bumi yang merasa jiwanya telah terkikis habis oleh kerasnya tekanan di Jakarta.

"Bumi? Ya Allah, anak lanangku!"

Suara itu melengking dari arah dapur, memecah keheningan sore yang mulai temaram. Disusul kemudian oleh derap langkah kaki yang tergesa-gesa, setengah berlari di atas lantai tegel.

Astri muncul dari balik tirai pembatas ruang tengah. Wanita itu mengenakan celemek bermotif bunga yang sudah pudar warnanya, dengan noda kecap di bagian pinggir—bukti kesibukan yang luar biasa di dapur sejak pagi. Tangannya masih basah, buru-buru dilap ke kain serbet belacu yang tersampir di pundak kanannya. Rambutnya yang kini didominasi warna perak digelung asal-asalan dengan jepit badai plastik.

Bumi memaksakan segaris senyum. Di matanya, sang ibu tampak lebih kecil dari terakhir kali mereka bertemu dua tahun lalu saat Lebaran yang berakhir dengan pertengkaran. Bumi membungkuk, meraih tangan ibunya yang terulur, lalu mencium punggung tangan itu. Kulitnya terasa kasar, berkerut, dan menyisakan aroma ketumbar serta kunyit yang pekat. Kulit seorang ibu yang menghabiskan separuh umurnya di depan kompor demi menghidupi anak-anaknya.

"Ibu sehat?" tanya Bumi. Suaranya terdengar berat, serak, dan membawa kecanggungan yang kentara.

"Sehat, Le. Sehat walafiat. Kamu kok kurusan begini?" Astri langsung memegang kedua lengan Bumi, meraba pundaknya, seolah sedang memeriksa apakah ada bagian tubuh anaknya yang hilang di perantauan. "Di Jakarta enggak pernah makan nasi tah? Kerjamu itu apa toh sampai badan tinggal tulang sama kulit begini? Pasti keseringan makan makanan instan!"

Rentetan pertanyaan khas Astri langsung memberondong tanpa jeda, membuat Bumi hanya bisa menarik napas dalam-dalam tanpa berniat menyela. Ia tahu, bagi ibunya, mengkritik fisik adalah cara paling autentik untuk menunjukkan rasa cinta yang meluap-luap.

Sebelum Bumi sempat menyusun kalimat jawaban yang sopan, sebuah teriakan melengking dari arah tangga lantai dua memotong kecanggungan yang mulai merayap di antara mereka.

"Mas Bumi!!!"

Mentari berlari turun dari tangga dengan kecepatan yang membuat Astri berteriak memperingatkannya agar tidak jatuh. Rambut panjangnya dikuncir kuda, bergoyang heboh ke kanan dan ke kiri. Gadis berusia dua puluh empat tahun itu masih mengenakan kaus oblong longgar dan celana jins belel. Tanpa aba-aba atau basa-basi, Mentari langsung menghambur, memeluk tubuh kakaknya dengan erat hingga koper di tangan Bumi terlepas dan berguling sedikit ke samping.

Bumi terhuyung ke belakang, kaki kanannya menahan bobot tubuh mereka berdua agar tidak telentang di lantai. Namun, sudut-sudut bibirnya perlahan terangkat. Sebuah tawa kecil, yang jarang sekali terdengar selama berbulan-bulan di ruang rapat kantornya, akhirnya keluar juga. Hanya Mentari, si bungsu yang keras kepala dengan energi matahari sesuai namanya, yang bisa mencairkan hawa es yang selalu menyelimuti interaksi antara Bumi dan ibunya.

"Bau matahari! Bau kereta!" ujar Mentari sambil melepaskan pelukannya, lalu menutup hidungnya dengan gaya teatrikal yang dilebih-lebihkan. Ia mengerling jenaka ke arah Bumi. "Sana mandi dulu, Mas. Aku sudah lapar banget dari siang ditahan-tahan sama Ibu. Katanya enggak boleh makan sebelum Mas Bumi sampai rumah. Ibu masak rawon kesukaanmu."

Bumi terdiam sesaat. Langkah kakinya yang hendak menarik koper mendadak terpaku di atas lantai. Kata 'rawon' mendarat di telinganya seperti sebuah hantaman palu kecil yang tepat sasaran.

Rawon.

Di dalam benak Bumi, sebuah memori lama berputar otomatis tanpa bisa dicegah. Itu adalah hidangan yang selalu ada setiap tanggal 14 Agustus—hari ulang tahun almarhum ayahnya. Kuah hitam yang berasal dari kluwek itu adalah simbol dari otoritas mutlak di rumah ini. Dulu, jika hidangan itu tersaji, semua orang harus duduk tegak, tidak boleh ada suara dentingan sendok yang beradu dengan piring, dan tidak boleh ada yang selesai makan sebelum sang kepala keluarga meletakkan sendoknya.

Rawon adalah makanan kesukaan Ayah. Bukan kesukaanku. Ibu tahu itu, tapi Ibu selalu memilih untuk mengingatnya sebagai kesukaanku hanya agar masakan itu punya alasan untuk tetap dimasak di rumah ini, batin Bumi, perih.

Kalimat itu tertahan di tenggorokan Bumi, bergumul dengan rasa sebal yang mulai naik ke dada. Namun, melihat binar mata Mentari dan wajah penuh harap dari ibunya, Bumi memilih untuk menelan kembali egonya. Ia tidak ingin memicu badai di lima belas menit pertama kepulangannya.

"Ya sudah, Mas taruh koper dulu ke kamar. Lima belas menit Mas turun lagi," jawab Bumi datar. Ia menarik kembali kopernya dan melangkah menuju kamar lamanya yang terletak di bagian belakang rumah, dekat dengan sumur tua.

Ruang Kamar yang Asing

Lihat selengkapnya