Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah-celah ventilasi udara di atas jendela kamar Bumi, membentuk garis-garis debu yang melayang di udara kamar yang pengap. Bumi terbangun dengan kepala yang terasa pening luar biasa. Denyut di pelipisnya terasa seirama dengan detak jarum jam dinding yang berdetik monoton di atas meja belajarnya.
Ia melirik jam tangan pintarnya yang diletakkan di atas nakas. Pukul 06.15 WIB. Di Jakarta, jam segini biasanya Bumi sudah berada di dalam taksi daring atau mengantre di peron stasiun komuter, berdesak-desakan dengan ribuan manusia subuh demi mengejar absen pagi di lantai dua puluh empat gedung pencakar langit. Namun di sini, di rumah masa kecilnya, satu-satunya suara yang terdengar adalah kokok ayam jantan milik tetangga sebelah rumah dan suara sapu lidi yang bergesek dengan permukaan semen di halaman samping. Ibu sedang menyapu halaman, rutinitas yang tidak pernah berubah sejak Bumi masih berseragam SD.
Bumi bangkit dari kasurnya, duduk di tepi tempat tidur sambil memijat batang hidungnya yang terasa kaku. Rasa bersalah yang sempat ia abaikan semalam kini mulai merayap naik, memenuhi rongga dadanya seperti kabut pagi yang dingin. Ia tahu ia telah keterlaluan semalam. Membentak ibunya yang sudah tua di meja makan bukanlah tindakan yang bisa dibenarkan oleh alasan apa pun, bahkan oleh trauma masa lalu sekali pun. Namun, setiap kali nama 'Ayah' disebut dengan nada pengagungan, ego Bumi otomatis membangun barikade pertahanan yang kokoh.
Setelah mengumpulkan sisa-sisa energinya, Bumi mengganti kaus tidurnya dengan kaus oblong bersih, lalu melangkah keluar kamar. Rumah terasa sangat sepi, menyisakan gema perdebatan semalam yang seolah masih menempel di dinding-dinding rumah.
Bumi berjalan menuju dapur, berniat mengambil segelas air putih untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering kerontang. Namun, langkahnya terhenti ketika ia melewati meja makan kayu mahoni tempat pertempuran emosi semalam terjadi.
Meja itu sudah bersih. Mangkuk rawon ayam jago, piring-piring kondimen, sambal terasi, dan telur asin yang semalam tersaji melimpah kini telah lenyap tanpa bekas. Permukaan meja kayu itu mengilap, bersih dari noda minyak setelah dilap berulang kali oleh tangan ibunya. Di atas meja itu kini hanya tersisa sebuah cangkir keramik putih tua dengan pola garis hijau di bagian pinggirnya—cangkir kopi milik almarhum ayahnya.
Di dalam cangkir itu, masih ada sisa cairan hitam pekat yang sudah dingin, menyisakan ampas kopi yang mengendap di dasar cangkir. Di sebelah cangkir itu, terdapat sebuah buku catatan kecil berwujud agenda tahunan bersampul kulit imitasi hitam yang sudut-sudutnya sudah mengelupas.
Bumi mendekati meja makan itu dengan langkah ragu. Ia menatap buku agenda tua itu. Di sampulnya yang usang, tertulis angka tahun yang merujuk pada tahun-tahun awal saat Bumi mulai merantau ke Jakarta untuk kuliah.
"Ibu yang sengaja taruh di situ."
Suara lembut Mentari mengejutkan Bumi. Adiknya berdiri di dekat dispenser, memegang gelas kosong dengan mata yang masih sedikit sembap. Rupanya, Mentari juga tidak bisa tidur nyenyak semalam.
"Ibu enggak mau membuang sisa kopi terakhir yang dibuat Ayah sebelum masuk rumah sakit," lanjut Mentari, melangkah mendekat dan duduk di salah satu kursi kayu. "Sudah hampir seratus hari, dan cangkir itu enggak boleh digeser satu sentimeter pun oleh Ibu. Dan buku agenda itu... Ibu menemukannya di laci lemari kerja Ayah dua hari lalu."
Bumi terdiam. Ia menarik kursi di hadapan Mentari, lalu duduk. Pandangannya masih tertuju pada buku agenda hitam tersebut. "Kenapa Ibu enggak mengasihkannya ke kamu? Kenapa ditaruh di meja makan?"
"Karena nama yang paling banyak ditulis Ayah di buku itu bukan namaku, Mas. Bukan juga nama Ibu," Mentari menatap kakaknya lekat-lekat. "Tapi namamu."
Jantung Bumi berdegup sedikit lebih kencang. Dengan tangan yang sedikit bergetar, Bumi mengulurkan tangan, meraih buku agenda itu. Permukaan kulit imitasinya terasa kasar dan dingin. Ia membuka halaman pertamanya. Di sana tertulis nama lengkap ayahnya dengan tanda tangan yang kaku dan tegas, ciri khas seorang pria yang tidak pernah membiarkan adanya kesalahan.
Bumi membalik halaman demi halaman. Di dalamnya tidak ada puisi, tidak ada kalimat bijak, ataupun curahan hati layaknya sebuah diari. Buku itu murni berisi catatan keuangan bulanan, ditulis dengan pulpen tinta hitam yang goresannya sangat rapi. Angka demi angka berjejer, mencatat pengeluaran rumah tangga yang sangat detail, mulai dari biaya listrik, iuran kebersihan RT, hingga harga beras per kilogram.