Aroma Meja Makan

Nurfaizah
Chapter #3

BAB 3: Takaran Bumbu yang Hilang

Suara gesekan sapu lidi yang menyapu daun-daun mangga kering di halaman samping akhirnya berhenti, menandakan Ibu sudah menyelesaikan ritual paginya yang sunyi. Namun bagi Bumi, keheningan yang menyusul setelahnya justru terasa lebih mengintimidasi. Ia masih terpaku di kursinya, tidak bergeser satu inci pun sejak fajar menyingsing. Jari-jarinya yang terbiasa mengetik laporan analitis di papan ketik mekanis yang mahal kini terasa dingin dan kaku, bertumpu di atas permukaan luar buku agenda bersampul kulit imitasi yang mulai mengelupas di bagian sudutnya.

Di dalam kepala Bumi, deretan angka pengeluaran, coretan kalkulasi kalkulator kuno, dan catatan-catatan pendek almarhum ayahnya berputar-putar seperti badai pasir yang membutakan. Ada rasa sesak yang aneh dan pekat di dadanya sebuah amalgamasi antara rasa bersalah yang menusuk, ketidakpercayaan, dan penolakan yang keras kepala.

Selama hampir satu dekade, Bumi telah menginvestasikan begitu banyak energi emosional untuk membangun dinding pertahanan diri yang kokoh. Ia memahat sebuah narasi di dalam kepalanya, sebuah keyakinan yang ia pelihara mati-matian tiap kali ia merasa kesepian di perantauan: bahwa Baskoro adalah pria egois, seorang patriark yang kaku, dingin, dan memandangnya tak lebih dari sekadar investasi sosial atau pajangan gengsi di depan para tetangga kampung. Narasi itu adalah bahan bakarnya untuk sukses di Jakarta. Dendam itu adalah kompasnya untuk membuktikan bahwa ia bisa berdiri tegak tanpa perlu restu yang tulus dari sang ayah.

Namun pagi ini, hanya dalam hitungan menit, fondasi dinding itu retak hebat. Retakan itu dipicu oleh goresan tinta bolpoin murah berwarna hitam yang tintanya sempat meluber di beberapa bagian gaya menulis khas orang tua yang menekan kertas terlalu kuat.

Bumi menarik napas dalam-dalam, aroma rumah tua yang khas campuran bau kayu jati lembap, minyak kayu putih, dan sisa tumisan bawang putih dari dapur merayap masuk ke paru-parunya. Ia membuka kembali lembaran agenda itu, matanya terpaku pada salah satu catatan bertahun-tahun lalu, tepat pada tahun di mana ia pertama kali menginjakkan kaki di bangku SMA.

Di sana, di bawah tabel pengeluaran bulanan yang mencantumkan tagihan listrik, iuran rukun tetangga, dan belanja pasar Ibu, ada sebuah sub-catatan kecil yang ditulis miring:

“Bumi ranking 3 semester ini. Anaknya murung karena tidak dapat ranking 1. Saya tahu dia belajar sampai jam dua malam. Tapi kalau saya puji sekarang, dia akan cepat puas. Anak laki-laki tidak boleh dimanjakan dengan pujian kosong. Dunia di luar sana tidak akan pernah memujinya jika dia melakukan kesalahan sekecil apa pun. Dia harus punya mental baja. Anggaran rokok saya potong setengah mulai bulan depan. Dialihkan ke tabungan buku persiapan UMPTN Bumi. Dia harus masuk universitas terbaik.”

Bumi meraba kertas yang agak menguning itu dengan ujung telunjuknya. Permukaan kertas itu terasa bergelombang, seolah-olah pernah terkena tetesan air yang mengering bertahun-tahun lalu. Apakah itu keringat ayahnya saat menghitung uang di larut malam? Atau hal lain yang tak pernah Bumi bayangkan sebelumnya?

Dada Bumi berdenyut nyeri. Ia teringat dengan sangat jelas hari di mana rapor itu dibagikan. Ia pulang dengan dada membusung, memamerkan peringkat tiga besar di sekolah favorit kepada ayahnya yang sedang duduk di kursi rotan ruang tengah sambil membaca koran. Respons Baskoro kala itu hanyalah sebuah lirikkan dingin dari balik kacamata bacanya.

“Hanya peringkat tiga? Berarti ada dua anak lain yang lebih pintar dan disiplin daripada kamu di kelas itu. Jangan bangga dulu. Peringkat tiga tidak akan menjamin kamu lolos ujian masuk perguruan tinggi negeri,” tutur kalimat Baskoro kala itu, tajam dan dingin seperti mata pisau yang langsung mengempiskan seluruh balon kebanggaan di dada Bumi muda.

Malam itu, Bumi menangis di balik bantal, merutuki nasibnya yang memiliki ayah yang begitu mustahil untuk dipuaskan. Sejak hari itu, Bumi berhenti berharap. Ia berhenti mencari binar bangga di mata ayahnya. Ia bertransformasi menjadi robot akademis, lalu menjadi robot korporat di Jakarta. Namun kini, setelah pria itu telah membusuk di bawah gundukan tanah merah selama hampir seratus hari, Bumi baru mengetahui bahwa di balik ketajaman lisan itu, ada jemari yang dengan gemetar mencoret anggaran rokoknya sendiri demi membelikan buku-buku tebal yang bahkan sebagian besar berakhir hanya menjadi pajangan di rak kamarnya.

“Mas... belum sarapan?”

Suara Mentari memecah lamunan Bumi. Adiknya itu muncul dari arah koridor samping, rambutnya yang acak-acakan diikat asal-asalan ke atas. Mentari mengenakan kaus kedodoran bermotif pudar, memegang sebuah gelas jepret berisi teh manis hangat yang asapnya masih mengepul tipis.

Bumi buru-buru menutup buku agenda tersebut, seolah-olah baru saja tertangkap basah mencuri sesuatu yang terlarang. “Belum. Ibu di dapur?”

Mentari menyesap tehnya, matanya melirik buku agenda hitam di atas meja, namun ia cukup bijak untuk tidak langsung menginterogasi kakaknya. Kecerdasan emosional Mentari selalu selangkah lebih maju, barangkali karena ia tumbuh tanpa tekanan ekspektasi yang destruktif dari sang ayah.

“Ibu dari tadi di dapur, Mas. Lagi bersiap. Sejak subuh sudah bolak-balik ngecek persediaan bumbu. Kamu tahu sendiri kan, kalau urusan ritual seratus harian begini, Ibu tipe orang yang enggak mau ada cela sedikit pun. Semua harus sempurna, mirip banget sama... ya, kamu tahu sendirilah siapa yang nurunin sifat begitu,” Mentari memutus kalimatnya sendiri, tersenyum kecut sambil mengedikkan bahu ke arah kursi kosong di ujung meja kursi yang dulu selalu diduduki oleh ayah mereka.

Bumi berdiri, membiarkan kursinya berdecit pelan di atas lantai tegel abu-abu yang dingin. “Aku ke dapur dulu.”

“Jangan galak-galak sama Ibu, Mas. Semalam Ibu nangis lama banget di kamar. Aku bisa dengar suaranya dari kamarku,” bisik Mentari, langkah kaki Bumi sempat tertahan sejenak mendengarnya, namun ia tidak berbalik. Ia hanya mengangguk samar dan melanjutkan langkahnya menuju ruangan yang menjadi jantung dari segala aroma di rumah itu.

Dapur rumah Nomor 14 tidak pernah berubah sejak Bumi masih mengenakan seragam putih-merah. Dindingnya yang bercat putih gading kini dipenuhi jelaga tipis di bagian atas kompor, membentuk gradasi abu-abu yang artistik namun muram. Rak gantung berisi stoples-stoples kaca kuno berisi ketumbar, merica, kayu manis, dan cengkih berjejer rapi seperti barisan serdadu tua. Di tengah ruangan, sebuah meja kayu jati berkaki pendek dipenuhi oleh tampah bambu dan baskom plastik beraneka warna.

Ibu Astri sedang berdiri membelakangi pintu, tubuhnya yang kian ringkih terbungkus daster batik motif parang yang sudah memudar warnanya. Tangannya yang dipenuhi urat-urat menonjol sedang sibuk memilah-milah bumbu di atas tampah. Suara rintik minyak yang mulai memanas di atas wajan cekung berbahan aluminium tebal mengisi latar belakang suara, menciptakan atmosfer yang intim sekaligus menyesakkan.

“Ibu mau masak apa hari ini?” tanya Bumi, memecah kesunyian yang sempat membeku di antara mereka sejak pertengkaran hebat semalam. Suaranya terdengar lebih pelan, kehilangan intonasi bariton yang kaku dan defensif yang biasa ia gunakan sebagai tameng profesionalnya di Jakarta.

Astri sedikit terlonjak, bahunya bergidik pelan sebelum ia menoleh. Seulas senyum tipis yang sarat akan kelelahan emosional muncul di wajah tuanya. Matanya yang agak sembap membuktikan kebenaran ucapan Mentari beberapa menit lalu.

“Eh, Bumi. Sudah bangun, Le? Ini... Ibu mau bikin opor ayam tanpa santan. Persiapan buat menu pengajian seratus harian minggu depan. Ibu mau coba takarannya hari ini dulu,” Astri berbicara sambil tangannya kembali bergerak memilah kemiri yang bagus. “Mentari bilang, tetangga-tetangga sekarang kalau pengajian lebih suka makanan yang enggak terlalu pekat atau berat. Katanya... orang-orang zaman sekarang banyak yang takut kolesterol dan darah tinggi. Jadi Ibu coba modifikasi resepnya pakai susu rendah lemak atau kemirinya agak dibanyakin biar tetap gurih.”

Bumi menatap ibunya, lalu pandangannya turun ke sebuah bakul anyaman bambu berukuran sedang yang diletakkan di sudut meja kayu. Di dalamnya bertumpuk beberapa bongkah bawang merah dan bawang putih yang masih kotor oleh sisa-sisa tanah kering.

Lihat selengkapnya