Kerikil-kerikil tajam di sepanjang jalan desa yang berdebu berderak keras di bawah gilasan ban mobil sewaan Bumi, menciptakan irama konstan yang berisik dan bergetar halus hingga ke dalam kabin yang senyap. Pendingin ruangan mobil sudah diatur pada suhu paling rendah hingga embun tipis mulai mengumpul di sudut-sudut kaca jendela, namun telapak tangan Bumi yang mencengkeram lingkar kemudi tetap saja terasa basah oleh keringat dingin. Di sampingnya, di atas kursi penumpang berbahan kulit sintetis, ponsel pintarnya sesekali bergetar pendek, menampilkan deretan pesan teks dari Mentari yang berisi tautan peta lokasi digital dan nomor kontak seorang pengrajin batu nisan lokal bernama Pak Tulus.
Bumi sengaja tidak menyalakan radio ataupun memutar musik dari ponselnya. Ia membutuhkan keheningan yang absolut ini untuk meredam gemuruh kecemasan yang mendidih di dalam kepalanya. Namun, keputusan itu justru menjadi bumerang; ingatan akan cerita ibunya di dapur tadi justru terdengar semakin lantang, bergema bolak-balik di tengah kesunyian kabin. Bayangan tentang ayahnya yang menerobos gerimis malam dengan motor bebek tua yang berasap demi menjual tanah pensiun di desa, slip pembayaran lunas universitas swasta yang dilempar dengan ketus ke meja belajar, hingga rahasia kelam bahwa pria itu adalah produk dari cambukan sabuk kulit kakeknya di masa lalu semuanya mengkristal menjadi sebongkah rasa sesak yang menyumbat dadanya hingga ia harus beberapa kali menarik napas dalam-dalam.
Mobil akhirnya berbelok patah ke sebuah kawasan gersang di pinggiran desa yang berbatasan langsung dengan area persawahan kering. Di sana, di bawah sebuah peneduh raksasa yang dibangun dari tiang-tiang anyaman bambu yang mulai melapuk dan atap terpal biru yang sudah robek serta pudar di beberapa sudutnya, puluhan balok batu marmer, granit hitam, dan batu kali berjejer berantakan seperti barisan nisan tak bernama yang menunggu takdir. Udara di tempat itu terasa sangat berat dan kering, dipenuhi oleh kepulan debu putih halus sisa penggilingan batu yang beterbangan seperti kabut musim dingin, langsung menyelinap masuk melalui celah pintu begitu Bumi mematikan mesin dan melangkah keluar.
Saat kaki Bumi memijak tanah yang berlapis bubuk putih, bau tajam belerang, adonan semen basah, dan aroma besi terbakar dari mata bor yang bergesekan ekstrem dengan batu langsung menyengat indra penciumannya. Bunyi melengking berfrekuensi tinggi dari mesin gerinda yang sedang memotong lempengan marmer terdengar memekakkan telinga, bersahut-sahutan dengan ketukan palu besi pada mata pahat yang ritmis dan monoton. Tempat ini adalah hulu dari hilir kesedihan orang-orang; sebuah tempat di mana kematian dipahat menjadi sebuah pengingat yang abadi.
Seorang pria paruh baya dengan kaos oblong longgar yang warnanya telah memudar menjadi abu-abu semen karena tertutup debu batu tebal bangkit dari duduknya di atas sebuah ban bekas. Wajahnya yang legam terbakar matahari dipenuhi oleh kerutan-kerutan dalam, dan sepasang matanya menyipit ramah di balik kacamata pelindung plastik bening yang dipenuhi goresan garis rambut.
"Mas Bumi, putranya Pak Baskoro?" tanya pria itu dengan logat Jawa yang kental. Ia menyeka tangan kasarnya yang putih berlapis bubuk marmer ke sisi celana kainnya yang longgar sebelum mengulurkan tangan untuk menjabat Bumi.
Bumi menerima jabat tangan itu. Kulit telapak tangan pria itu terasa sangat keras, bersisik, dan sekasar ampas kopi yang mengering di dasar cangkir. "Iya, Pak. Saya Bumi. Adik saya, Mentari, tadi sudah telepon ke sini?"
"Sudah, sudah. Pak RT juga tadi subuh sempat mampir ke sini sebelum pergi ke balai desa," Pak Tulus mengangguk berulang kali, lalu memberikan isyarat dengan lambaian tangannya agar Bumi mengikutinya berjalan ke bagian belakang bengkel terbuka itu, menjauhi kebisingan mesin potong yang semakin memekakkan telinga. "Mari lewat sini, Mas Bumi. Nisan sementara untuk Bapak sudah saya siapkan polanya di belakang, tinggal menunggu kepastian dari pihak keluarga untuk pilihan jenis batu dan guratan tulisannya."
Di sudut belakang yang terlindung oleh rimbunnya pohon talas liar dan lebih teduh, aroma debu batu yang menyesakkan dada perlahan berganti dengan bau kayu jati basah, cairan tiner, dan pelitur kayu yang menyengat. Pak Tulus menunjukkan dua buah balok batu masif berbentuk persegi panjang yang sudah dipotong dan dihaluskan bagian tepinya dengan sangat rapi. Satu balok berwarna putih gading dengan urat-urat keabu-abuan halus yang estetik marmer lokal dari Citatah dan satu balok lagi di sebelahnya berwarna hitam pekat, mengilap seperti cermin dari bahan granit impor.
"Ibu Astri semalam sempat titip pesan lewat Mentari, katanya dicarikan yang bahan marmer putih saja yang harganya tidak terlalu memberatkan tabungan rumah tangga. Tapi karena Mas Bumi sendiri yang datang langsung..." Pak Tulus menggantung kalimatnya sejenak. Ia menurunkan kacamata pelindungnya ke leher, menatap Bumi dengan pandangan menyelidik yang teduh, khas orang tua di desa yang tahu banyak hal tentang sejarah keluarga di daerah tersebut. "Ayahmu itu orang yang sangat lurus semasa hidupnya, Mas. Kaku, disiplin, bicaranya memang sering bikin telinga merah, tapi beliau tidak pernah mau berutang budi atau menyusahkan orang lain. Dulu, waktu saya baru merintis usaha bengkel batu ini belasan tahun lalu dan kekurangan modal serta diancam digusur, Pak Baskoro yang membantu mengurus seluruh administrasinya di kantor kecamatan sampai tuntas tanpa mau menerima imbalan sepeser pun. Beliau cuma minta dibuatkan secangkir kopi hitam tanpa gula setiap kali mampir ke sini untuk sekadar mengecek keadaan saya."
Bumi tertegun di tempatnya berdiri. Detak jantungnya serasa melambat. Pandangannya terpaku pada kedua balok batu di hadapannya, namun pikirannya melayang jauh kembali ke meja makan mahoni di rumah mereka. Meja yang masih menyisakan sebuah cangkir keramik putih tua berpola garis hijau, cangkir yang sampai detik ini masih menyimpan sisa ampas cairan hitam dingin milik ayahnya. Pahit, pekat, pekat, tanpa pemanis apa pun. Cara ayahnya menjalani hidup dan memperlakukan orang-orang di sekitarnya ternyata persis seperti granit hitam di sebelah kanan ini: keras, gelap dari luar, menuntut ketahanan tinggi, namun solid di bagian dalamnya.
"Saya ambil yang granit hitam ini, Pak Tulus," kata Bumi. Suaranya terdengar berat, rendah, namun ada ketegasan mantap yang tidak bisa diganggu gugat. Ia mengulurkan tangan, menyentuh permukaan batu granit hitam yang terasa sangat dingin, licin, dan halus di bawah telapak tangannya yang hangat. "Gunakan bahan yang paling bagus, potongan yang paling presisi. Berapa pun total biayanya termasuk ongkos pasang di pemakaman, nanti saya yang transfer langsung seluruhnya siang ini juga. Saya mohon... jangan bilang ke Ibu atau Mentari soal harga aslinya. Bilang saja ini diskon dari Pak Tulus."