Aroma Meja Makan

Nurfaizah
Chapter #5

BAB 5: Jejak Karat di Laci Meja Kerja

BAB 5: Jejak Karat di Laci Meja Kerja

Matahari sudah tergelincir jauh ke barat, menyisakan semburat jingga keunguan yang pucat di langit ketika Bumi akhirnya memarkirkan kembali mobil sewaannya di halaman samping rumah nomor 14. Ban mobil berdecit pelan di atas rumput liar dan tanah yang agak becek, sebelum akhirnya mesin mati dengan satu batukan halus yang kaku. Sunyi seketika mengepung kabin. Bumi tidak langsung turun. Ia tetap duduk diam di balik kemudi, menatap kosong pada setir hitam di depannya sebelum perlahan mengangkat pandangan ke arah spion tengah.

Pantulan wajahnya di kaca kecil itu tampak begitu lelah; matanya masih menyisakan rona merah yang kentara di sepanjang tepian kelopak, ada bayangan abu-abu di bawah kantung matanya, dan bercak tanah kuburan yang mengering membentuk garis samar di dahinya serta di ujung lengan kaus oblong flanelnya. Sisa tangis yang tumpah di pemakaman umum tadi siang benar-benar telah menguras habis sisa energi fisiknya. Namun, ada sesuatu yang aneh. Rasa sesak beracun yang biasanya menyumbat ulu hatinya setiap kali ia menginjakkan kaki di pekarangan rumah ini, sore ini terasa sedikit melonggar, seolah beban berton-ton yang mengikat pundaknya telah terkikis sebagian kecil oleh air mata yang diserap tanah kuburan tadi.

Bumi membuka pintu mobil, menghirup udara sore kota kecil yang mulai mendingin dan membawa aroma sisa hujan. Ia melangkah masuk melalui pintu samping rumah, pintu kayu jepret yang langsung menembus ke area dapur semen. Begitu kakinya melewati ambang pintu, bau menyengat dari bumbu opor mentah yang digoreng ibunya tadi pagi telah menguap, berganti dengan aroma gurih yang sudah matang sempurna wangi pekat yang lahir dari perpaduan santan encer yang menyusut, minyak kelapa alami, serta wangi khas daun serai, jahe, dan kunyit yang mengendap lama di udara dapur. Di atas kompor gas dua tungku yang permukaannya sudah dibersihkan, sebuah panci enamel besar berwarna putih dengan motif bunga-bunga biru tua tampak bertutup rapat, sesekali mengeluarkan desis uap tipis dari celah pinggirannya yang menandakan kuah di dalamnya masih menyimpan panas yang awet.

"Mas Bumi sudah pulang?"

Suara Mentari terdengar memecah keheningan dari arah ruang tengah yang remang. Adiknya itu berjalan mendekat ke area dapur sambil membawa selembar kain lap belacu bersih yang biasa dipakai untuk mengeringkan piring. Langkah kaki Mentari yang tadinya rigap mendadak terhenti di batas ubin dapur. Sepasang matanya yang cerdas dan ekspresif menatap kakaknya lekat-lekat, menyapu seluruh penampilan Bumi yang acak-acakan dari rambutnya yang berantakan karena angin bukat makam, hingga noda tanah cokelat yang mengotori lutut celana kainnya.

Mentari membaca rona merah dan sembap di sekitar kelopak mata Bumi dengan saksama. Namun, kedewasaan emosional gadis yang tumbuh di bawah bayang-bayang konflik dua pria keras itu membuatnya memilih untuk tidak melontarkan satu pun pertanyaan menyelidik tentang apa yang terjadi di pemakaman tadi siang. Ia paham betul kapan harus mendesak dengan pertanyaan, dan kapan harus mundur memberikan keheningan yang menghormati privasi.

"Pak Tulus sudah mulai mengerjakan pesanan batu nisannya, Tari," kata Bumi mendahului, mencoba menetralkan suaranya yang masih terasa agak serak dan pecah di ujung kalimat agar tidak terdengar terlalu rapuh di depan adiknya. Ia berjalan menuju wastafel, memutar kran air, lalu mulai menggosok telapak dan sela-sela jarinya yang masih berbau tanah kering dengan sabun batangan. "Besok sore pengerjaannya selesai dan langsung dipasang ke makam oleh timnya. Saya pilih bahan yang granit hitam."

Mentari tersenyum tipis, sebuah binar lega yang tulus terpancar dari wajahnya yang polos tanpa riasan. Ia menyodorkan kain lap kering kepada Bumi setelah kakaknya mematikan kran air. "Makasih banyak ya, Mas. Berarti sebelum hari keseratus besok lusa, rumah baru Ayah sudah rapi. Oh ya, Mas... Ibu sekarang sedang mandi di kamar mandi belakang. Tadi setelah selesai mengaduk opor dan mengangkat panci, Ibu sempat mengeluh kepalanya agak pusing karena tensinya sepertinya naik lagi, jadi langsung aku minta istirahat sebentar di kamar. Tapi sebelum Ibu memejamkan mata, Ibu titip pesan penting... kalau Mas Bumi sudah pulang dari luar, Ibu minta tolong kamu menengok kamar kerja Ayah."

Bumi menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengeringkan sisa air dengan kain lap. Ia mengernyitkan keningnya dalam-dalam, menatap Mentari dengan pandangan tidak percaya. "Kamar kerja Ayah? Emang ada apa di sana? Kenapa harus mas?"

"Ibu bilang, ada beberapa dokumen lama, kartu taspen, dan buku tabungan pensiun yang harus dicari untuk kelengkapan administrasi pengurusan santunan kematian sekaligus berkas pengajian besok," Mentari menjelaskan sambil berjalan menuju meja dapur, menata beberapa cangkir teh kosong ke atas nampan plastik. "Ibu bilang dia sudah enggak kuat kalau harus masuk dan bongkar-bongkar lemari pakaian atau meja kerja Ayah sendirian. Atmosfer di dalam sana masih terlalu berat buat Ibu, bikin dadanya sesak dan memorinya kembali berputar. Kunci kamarnya sudah diambil Ibu dari lacinya, sekarang diselipkan di bagian belakang bingkai foto keluarga yang besar di ruang tamu. Mas Bumi saja yang masuk dan cari ya? Aku mau fokus bantu Ibu menyiapkan meja makan untuk makan malam kita nanti."

Bumi berdiri mematung di dekat wastafel semen itu selama beberapa menit setelah Mentari berlalu membawa nampannya ke ruang tengah. Kamar kerja Ayah. Sebuah ruangan berukuran tiga kali tiga meter yang terletak di sudut paling belakang rumah tua ini, dekat dengan gudang penyimpanan barang bekas dan sumur pompa tua. Semasa Pak Baskoro hidup, ruangan itu adalah sebuah wilayah terlarang yang memiliki hukum tidak tertulis bagi Bumi dan Mentari. Tidak ada yang boleh masuk ke sana tanpa izin eksplisit dari sang pemilik, bahkan Ibu sekalipun jarang mengusik tata letak barang-barang di dalamnya.

Di ruangan itulah ayahnya menghabiskan malam-malam panjang yang sunyi setelah pulang kerja dari kantor dinas kecamatan duduk di depan sebuah mesin tik manual tua merk Brother yang suaranya selalu berdentang keras membelah malam, sebelum akhirnya digantikan oleh sebuah komputer tabung berspesifikasi rendah yang layarnya berkedip-kedip hijau. Ayahnya biasa memeriksa berkas-berkas laporan keuangan dinas, anggaran proyek desa, atau laporan pajak dengan kening yang berkerut dalam, ditemani cangkir kopi hitamnya yang pekat dan asbak seng yang dipenuhi puntung rokok cengkeh yang abunya menumpuk tinggi. Bagi Bumi kecil hingga remaja, ruangan itu adalah episentrum dari segala hawa dingin, kekakuan, dan ketegangan psikologis yang menguasai seluruh rumah nomor 14 ini. Setiap kali pintu kayu itu tertutup rapat dari dalam, seluruh rumah seolah-olah dipaksa berjalan berjinjit agar tidak memicu amarah pria di dalamnya.

Dengan langkah kaki yang dirasa seberat timah panas, Bumi berjalan melintasi koridor tengah rumah yang mulai remang karena gelap malam mulai jatuh. Ia berhenti di depan ruang tamu yang sepi, menatap sejenak sebuah bingkai foto keluarga berukuran besar yang dipasang miring di dinding di atas sofa beludru merah yang sudah mengempis bantalannya. Foto itu diambil belasan tahun lalu di sebuah studio foto lokal yang murahan menampilkan sosok Ayah yang berdiri tegak lurus tanpa senyuman dengan setelan safari PNS-nya yang kaku, Ibu yang duduk di kursi dengan kebaya kutubaru sambil memangku Mentari yang masih balita, dan Bumi remaja yang berdiri di samping kanan Ayah dengan wajah tegang dan bahu yang canggung. Warna foto itu sudah memudar, didominasi warna kecokelatan dan kekuningan akibat jamur kelembapan.

Bumi mengulurkan tangannya ke balik bingkai kayu itu, meraba-raba permukaan tripleks belakang yang kasar hingga jarinya menyentuh sepotong besi dingin: sebuah anak kunci kuningan kuno berukuran kecil yang diikat dengan pita kain merah yang sudah dekil.

Setelah menggenggam kunci itu, Bumi membalikkan badannya dan melangkah menuju pintu kamar kerja di sudut paling belakang rumah. Pintu kayu jati itu tampak kusam, lapisan vernis cokelat madunya sudah mulai mengelupas di bagian bawah, menyisakan serat-serat kayu kasar yang mencuat. Bumi memasukkan anak kunci kuningan itu ke dalam lubang kunci yang sudah agak longgar. Ia memutarnya ke kanan dengan satu sentakan telapak tangan. Suara klik yang nyaring, tajam, dan mekanis seketika menggema di sepanjang koridor rumah yang sepi, seolah-olah pintu itu adalah gerbang waktu yang siap membukakan kembali lembar-lembar luka lama.

Begitu daun pintu didorong perlahan ke dalam, pintu itu mengeluarkan suara derit panjang yang memilukan dari engselnya yang kekurangan minyak pelumas. Detik itu juga, aroma masa lalu yang sangat spesifik langsung menyergap masuk ke dalam indra penciuman Bumi, menyentak pusat memorinya dengan paksa.

Lihat selengkapnya