BAB 7: Catatan di Balik Malam yang Sunyi (Sisi Lain Meja Makan)
Malam hari, medio Juli dua belas tahun yang lalu.
Jarum jam dinding kuno merk Seiko yang tergantung di ruang tengah rumah nomor 14 baru saja berdentang sebanyak sebelas kali. Suaranya yang berat, monoton, dan sedikit bergetar menggema dengan lambat di sepanjang koridor rumah yang sepi, seolah-olah menegaskan bahwa seluruh isi kampung telah lama terlelap dalam pelukan malam yang dingin. Di luar, sisa hujan deras yang mengguyur sejak sore tadi kini menyisakan rintik-rintik kecil yang mengetuk atap seng dengan irama yang konstan, menciptakan sebuah melodi sunyi yang kian menambah keheningan malam yang mencekam. Angin malam sesekali berembus kencang, menggoyang dahan pohon mangga di pekarangan samping dan melemparkan tetesan air ke kaca jendela yang buram.
Namun, di dalam kamar kerja berukuran tiga kali tiga meter di sudut paling belakang rumah tua itu, sebuah lampu meja model jepit besi berwarna hijau tua masih menyala dengan terang. Di bawah pendar cahayanya yang kekuningan dan sedikit temaram, Pak Baskoro duduk dengan punggung tegak di atas kursi kerjanya yang anyaman rotannya sudah mulai melar di bagian tengah. Wajah pria paruh baya itu yang biasanya kaku, tegas, dan tanpa ekspresi, malam ini tampak luar biasa kusam dan dipenuhi oleh kelelahan yang teramat sangat. Gurat-gurat kerutan di dahinya tercetak jauh lebih dalam dari biasanya, menggambarkan dengan jelas bahwa sebuah badai besar yang tidak kasat mata sedang berkecamuk dengan hebat di dalam isi kepalanya.
Di atas meja kaca yang dingin dan dilapisi taplak plastik bening yang sudah buram, terserak beberapa lembar kuitansi bermaterai lama yang warnanya sudah mulai kecokelatan, sebuah buku tabungan perbankan daerah berwarna hijau tua yang terbuka tepat di halaman transaksi paling terakhir, dan selembar surat keputusan (SK) pengangkatan dinas sipil miliknya yang sudah mulai menguning di bagian sudut-sudutnya. Di sudut meja yang lain, sebuah cangkir seng berlogo toko kelontong lama berisi kopi hitam tanpa gula yang sudah mendingin dan mengental dibiarkan begitu saja tanpa pernah disentuh, sementara asbak seng di sampingnya sudah dipenuhi oleh tumpukan abu abu-abu dan belasan puntung rokok cengkeh yang dimatikan dengan paksa hingga ujungnya penyok.
Pak Baskoro menarik napas panjang, sebuah helaan napas yang begitu berat hingga membuat bahunya yang biasanya tegap dan kokoh tampak sedikit merosot ke bawah. Beberapa jam yang lalu, di atas meja makan kayu jati di ruang tengah, ia baru saja menyelesaikan salah satu "sandiwara" paling kejam dan menyiksa batin yang harus ia mainkan di depan anak sulung laki-lakinya, Bumi.
Ia masih ingat dengan sangat detail bagaimana tatapan sepasang mata Bumi remaja malam itu, sebuah tatapan yang dipenuhi oleh kombinasi antara rasa takut yang mencekam, kemarahan muda yang tertahan di balik rahang yang mengeras, dan kekecewaan yang sangat mendalam kepada sosok seorang ayah. Bumi baru saja menunjukkan lembar kertas putih berisi pengumuman resmi bahwa dirinya gagal dalam seleksi masuk universitas negeri jalur reguler, dan hanya berhasil diterima di sebuah universitas swasta ternama namun berbiaya sangat mahal yang terletak di jantung kota Jakarta.
Dan apa yang dilakukan oleh seorang Baskoro Adi Nugroho saat itu di depan meja makan, di hadapan istri dan anak perempuannya? Ia tidak memeluk anaknya, ia tidak memberikan kata-kata penghibur yang menenangkan. Sebaliknya, ia malah melempar lembaran kertas pengumuman itu ke atas permukaan meja makan yang dingin, membiarkannya mendarat di dekat mangkuk sayur, lalu mengucapkan kalimat-kalimat ketus berkadar racun tinggi yang sengaja ia rancang untuk menusuk dalam-dalam harga diri anak laki-lakinya yang baru beranjak dewasa:
“Gagal? Sudah habis uang berapa banyak yang Bapak keluarkan untuk membiayai kelas kursus dan buku-buku bimbingan belajarmu bulan-bulan lalu, tapi hasilnya cuma begini? Kalau kamu keras kepala mau kuliah di swasta mahal di Jakarta sana, dari mana bapakmu yang cuma PNS kecil ini punya uang untuk membayarnya? Kamu pikir uang kuliah di kota besar itu tinggal memetik begitu saja di pohon mangga depan rumah kita?”
Baskoro memejamkan matanya rapat-rapat di balik meja kerjanya yang sunyi. Kenangan akan wajah Bumi yang seketika pucat, menunduk dalam-dalam untuk menyembunyikan tetesan air mata yang tertahan, sebelum akhirnya bangkit berdiri dengan kasar dan mengunci diri di dalam kamar tidur belakang, membuat dada pria tua itu mendadak terasa seperti diremas oleh sepasang tangan besi yang sangat kuat. Rasa sakitnya begitu nyata, menghunjam dalam ke ulu hatinya, hingga ia harus mencengkeram pinggiran meja kerja jatinya dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih hanya untuk menjaga tubuhnya tetap tegak berdiri.
"Maafkan Bapak, Bumi... Maafkan Bapak yang tidak berguna ini," bisik Baskoro dengan suara yang sangat pelan, serak, dan bergetar di ujung kalimat, sebuah suara yang sarat akan kerapuhan seorang manusia biasa, suara yang tidak akan pernah ia izinkan untuk terdengar oleh siapa pun di luar ruangan kerja ini, bahkan oleh telinga istrinya, Astri, sekalipun.
Kenyataan yang sesungguhnya terjadi malam itu, yang tersimpan rapat di balik dinding kamar kerja yang dingin ini, adalah sebuah kebenaran yang teramat pahit. Beberapa menit setelah suara pintu kamar Bumi berdentum keras karena dikunci dari dalam, seorang pria paruh baya mengenakan jaket parasit basah dari desa seberang datang dengan langkah mengendap-endap melalui pintu dapur belakang rumah nomor 14. Pria itu adalah seorang makelar atau perantara jual beli tanah yang sudah ditunggu oleh Baskoro dengan kecemasan yang memuncak sejak seminggu yang lalu.