Jarum jam dinding kuno bermerek Seiko yang tergantung di pilar ruang tengah rumah nomor 14 berdentang sebanyak tiga kali. Suaranya yang berat, mekanis, dan sedikit bergetar memecah kesunyian malam yang pekat dengan ritme yang lambat. Gema dentang itu merambat menyusuri koridor-koridor rumah yang lengang, memantul di langit-langit kayu yang mulai lapuk, lalu lenyap ditelan keheningan dini hari yang menggigit. Di luar, sisa-sisa hujan deras yang mengguyur kota kecil itu sejak sore tadi kini telah sepenuhnya reda, menyisakan suara tetesan air yang jatuh satu-suku dari ujung talang seng, mengetuk permukaan tanah basah di pekarangan dengan irama yang monoton.
Namun, Bumi tidak bergeming sedikit pun dari posisinya. Pria berusia tiga puluh tahun itu masih terduduk kaku di atas kursi kayu jatinya, menopang dagu dengan kedua tangan yang saling mengunci erat. Siku-sikunya menekan permukaan meja makan kayu mahoni tua yang terasa dingin menembus kulit lengannya. Di hadapannya, diterangi oleh pendar cahaya kuning redup dan sedikit bergoyang dari lampu gantung kuno di atas meja, terhampar dua buah benda yang baru saja menjungkirbalikkan seluruh dunia batinnya: sebuah buku agenda tahunan bersampul kulit hitam yang sudut-sudutnya telah mengelupas kasar, dan selembar surat perjanjian penjualan tanah warisan bermaterai lama yang warnanya sudah mulai kecokelatan.
Satu jam yang lalu, Ibu Astri dan Mentari akhirnya kembali ke kamar mereka masing-masing setelah mendampingi Bumi melewati puncak tangisnya yang paling hebat. Tubuh tua ibunya yang sempat gemetar karena haru kini butuh istirahat, dan Bumi dengan lembut mendesak mereka untuk meninggalkan dirinya sendirian di ruang tengah. Kini, di bawah kepungan malam yang kian melarut menuju pagi, tersisa Bumi seorang diri bersama sunyi yang merayap lambat. Sunyi yang kali ini tidak lagi terasa mencekam atau mengintimidasi seperti malam-malam sebelumnya, melainkan sebuah sunyi yang intim, sebuah ruang pengadilan batin di mana Bumi bertindak sekaligus sebagai hakim, jaksa, dan terdakwa atas egonya sendiri.
Sebagai seorang manajer audit senior di sebuah firma hukum dan keuangan terkemuka di Jakarta, Bumi adalah manusia yang dibentuk dan dilatih untuk selalu mencari kepastian mutlak di atas kertas. Di dunia profesionalnya, emosi adalah cacat produksi yang harus dieliminasi. Baginya, angka tidak pernah berbohong; sebuah neraca keuangan harus seimbang, hitam harus didefinisikan sebagai hitam, dan putih adalah putih. Selama dua tahun terakhir melarikan diri dari rumah ini dan menolak untuk pulang, Bumi telah membangun sebuah kesimpulan logis yang sangat kokoh di dalam kepalanya: Ayah adalah seorang pria tirani yang egois, didikan kerasnya adalah bentuk pelampiasan frustrasi, dan aroma Rawon hitam pekat di meja makan ini adalah simbol dari kekejamannya yang tidak beralasan.
Namun malam ini, lembaran-lembaran kertas usang yang terserak di hadapannya baru saja meruntuhkan seluruh struktur logika yang selama ini ia bangga-banggakan di ibu kota. Dengan cara yang paling menyakitkan, Bumi disadarkan bahwa ia telah melakukan kesalahan fatal yang teramat memalukan dalam mengaudit sejarah masa lalunya sendiri. Ia telah salah membaca angka-angka emosional di dalam rumah ini.
Bumi mengulurkan tangan kanannya yang terasa agak kaku, jemarinya bergerak perlahan menyentuh pinggiran cangkir keramik putih dengan pola garis hijau pudar yang tergeletak di dekat tepi meja dapur, tak jauh dari tempat duduknya. Di dalam cangkir tua itu, sisa ampas kopi hitam terakhir milik ayahnya telah mengering, meninggalkan noda melingkar yang pekat, kaku, dan berkerak di dasar keramik. Bumi memandangi noda hitam itu dengan tatapan mata yang kosong namun sarat akan kepedihan. Noda ampas kopi itu persis seperti rasa dendam, amarah, dan benci di dalam hatinya yang selama belasan tahun ini sengaja ia biarkan mengering, mengeras, dan mengerak tanpa pernah mau ia bersihkan dengan aliran pengampunan.
Bumi menarik napas panjang, sebuah helaan napas yang begitu dalam hingga rongga dadanya yang terasa sesak memunculkan rasa nyeri yang nyata. Ia memalingkan wajahnya dari cangkir kopi, menatap lurus ke arah jendela kaca besar yang menghadap ke halaman samping rumah. Kaca jendela itu kini mulai dipenuhi oleh uap air kondensasi, buram berembun karena perbedaan suhu antara kehangatan ruang tengah dan dinginnya hawa subuh di luar. Di balik kaca yang samar itu, langit malam yang pekat perlahan-lahan mulai memudar, bergeser menjadi warna abu-abu kebiruan yang menandakan fajar akan segera menyemburat di ufuk timur.