Aroma Meja Makan

Nurfaizah
Chapter #10

BAB 10: Doa di Singgasana Kayu Jati

Matahari sore akhirnya tenggelam sepenuhnya di balik cakrawala kota kecil itu, meninggalkan semburat warna merah lembayung yang bergradasi ungu tua di langit barat. Perlahan namun pasti, kegelapan malam yang dingin mulai turun menyelimuti kompleks perumahan dinas lama. Tepat ketika jarum jam dinding kuno bermerek Seiko yang tergantung di pilar utama ruang tengah berdentang sebanyak tujuh kali menandakan waktu salat Isya telah usai dan gema pujian di masjid terdekat mulai surut, pagar besi di depan rumah nomor 14 mulai dipenuhi oleh derap langkah kaki yang riuh.

Satu per satu, para tetangga sekitar, pemuka agama kampung, kerabat jauh yang datang mengendarai mobil sewaan dari desa seberang, serta jajaran pria paruh baya mengenakan baju koko dan sarung bermotif kotak-kotak mulai melangkah masuk melewati pintu depan. Karpet-karpet kain beludru berwarna hijau tua yang tebal dan beraroma kapur barus telah digelar memanjang sejak sore. Karpet itu menutupi seluruh permukaan lantai ubin semen, membentang dari ruang tamu, melintasi ruang tengah yang luas, hingga menjalar keluar memenuhi area teras depan guna menampung lautan manusia yang datang memenuhi undangan pengajian seratus hari wafatnya Pak Baskoro Adi Nugroho.

Suasana di dalam rumah tua itu mendadak berubah menjadi sangat khusyuk, khidmat, sekaligus sarat akan getaran spiritual yang menekan udara. Udara yang hangat di dalam ruangan mulai dipenuhi oleh perpaduan berbagai aroma: wangi minyak wangi cendana yang kental dari pakaian para sesepuh, kepulan asap tipis dari pembakaran kayu gaharu yang ditaruh di dalam mangkuk kuningan di sudut ruangan, serta wangi pekat nan gurih dari kuah Rawon daging sapi yang menguar hangat dari arah dapur belakang, menyelinap di antara sela-sela kerumunan. Puluhan jemaah pria kini telah mengambil posisi duduk bersila secara rapi, membentuk saf-saf yang rapat dan saling berhadapan. Mereka memenuhi setiap jengkal ruang tengah yang malam itu terasa jauh lebih benderang dan luas setelah Bumi mengganti seluruh bohlam lampu lama dengan lampu putih yang baru.

Namun, di mana Bumi berada di tengah keramaian yang kian memadat itu?

Pria berusia tiga puluh tahun itu memilih untuk berdiri menyendiri di area halaman belakang, tepat di bawah naungan bayangan pohon mangga arumanis yang gelap dan dingin. Angin malam berembus pelan, menggoyang dedaunan dan menjatuhkan beberapa butir air sisa gerimis siang tadi ke atas pundaknya. Bumi mengenakan kemeja koko berwarna putih bersih milik mendiang ayahnya yang ia temukan tersimpan rapi di dalam lemari pakaian tua berbau kayu jati. Ketika pertama kali memasukkan lengannya ke dalam kemeja itu sore tadi, Bumi sempat tertegun lama di depan cermin dapur; ukuran bahu, panjang lengan, dan potongan kain kemeja itu ternyata pas dan melekat dengan sangat sempurna di tubuh tegapnya. Seolah-olah baju itu memang sengaja dijahit dan dipersiapkan untuk hari ini, untuk dirinya.

Di bawah kepungan kegelapan malam, jantung Bumi kembali berdegup dengan sangat kencang. Detak dadanya terasa repetitif dan bergaung di telinganya sendiri. Namun, debaran di dadanya kali ini sama sekali bukan lahir dari sisa rasa takut, kecemasan, atau trauma psikologis masa lalu yang biasa mengurungnya. Debaran itu adalah manifestasi dari sebuah kesadaran akan tanggung jawab besar yang kini diletakkan tepat di atas pundaknya sebagai seorang anak laki-laki sulung. Ia bisa mendengar sayup-sayup suara dengung mikrofon dari dalam rumah saat pemuka agama desa, seorang ustaz sepuh dengan sorban hijau yang melingkari lehernya, mulai membuka acara dengan membacakan mukadimah, puji-pujian kepada pencipta, dan selawat berirama lambat.

Setiap kata yang diucapkan sang ustaz terdengar seperti hitungan mundur bagi Bumi. Ia memandangi telapak tangannya sendiri yang mulai berkeringat dingin. Di Jakarta, ia adalah pria yang sanggup berdiri di ruang rapat korporat, menatap tajam mata para direksi, dan mencecar mereka dengan pertanyaan audit yang dingin tanpa mengedipkan mata. Di Jakarta, ia menguasai keadaan. Namun di sini, di halaman belakang rumah masa kecilnya, mengenakan baju milik pria yang pernah ia benci setengah mati, Bumi merasa telanjang. Ia merasa seperti anak kecil berusia belasan tahun yang sedang menunggu hukuman di sudut ruangan.

"Baiklah, bapak-bapak, para sesepuh, alim ulama, serta segenap hadirin jemaah sekalian yang dirahmati Allah," suara berat dan agak serak sang ustaz sepuh kembali menggema melalui pengeras suara kecil yang dipasang di sudut langit-langit ruang tengah, memutus rantai lamunan Bumi. "Sebelum kita bersama-sama memulai pembacaan surah Yasin, tahmid, tahlil, serta doa keselamatan yang dikhususkan untuk almarhum Bapak Baskoro Adi Nugroho, alangkah baiknya dan afdalnya jika pembacaan doa pembuka dan pelafalan niat dihadiahkan dan dipimpin langsung oleh perwakilan dari keluarga inti almarhum. Oleh karena itu, kami persilakan dengan segala hormat kepada ananda Bumi Adi Nugroho, sebagai anak sulung laki-laki dari almarhum, untuk maju ke barisan depan, mengambil tempat, dan memimpin jalannya doa di hadapan kita semua."

Seketika itu juga, suasana di dalam ruang tengah yang semula dipenuhi oleh gumaman zikir halus dan bisik-bisik rendah langsung berubah menjadi sangat hening. Sunyi tanpa suara. Ketegangan yang tak kasat mata mendadak merayap di antara saf-saf jemaah. Puluhan pasang mata para tetangga, kerabat tua, dan teman-teman sejawat almarhum yang duduk bersila mulai berputar, mengedarkan pandangan mereka ke kanan dan ke kiri, mencari-cari di mana keberadaan sosok Bumi. Sejak sore tadi, Bumi memang sengaja membatasi diri dan jarang menampakkan diri di barisan depan jemaah, memilih bekerja di balik layar atau berdiri di kegelapan.

Di sudut ruangan yang berbatasan langsung dengan pintu kayu dapur, Ibu Astri dan Mentari duduk bersimpuh di atas kain jarik mereka yang bermotif klasik. Sepasang tangan kedua wanita itu saling menggenggam dengan sangat erat, jari-jemari mereka dingin dan sedikit gemetar. Mata mereka yang sembab dan dikelilingi lingkaran hitam karena kurang tidur menatap lurus ke arah koridor belakang yang gelap, mengarah pada posisi di mana Bumi berada. Ada sebuah ketakutan yang terselip di hati Ibu Astri ketakutan jika anak sulungnya tiba-tiba berubah pikiran, berbalik arah, berjalan melewati pintu pagar, dan kembali melarikan diri ke Jakarta menggunakan taksi malam. Mereka tahu, ini adalah momen penentuan, sebuah titik krusial apakah luka di rumah ini akan mengering atau justru kembali berdarah.

Bumi menarik napas panjang di bawah kegelapan pohon mangga. Udara malam yang dingin terasa membakar paru-parunya. Ia mengembuskannya perlahan, mencoba mengusir getaran di lututnya, memantapkan hatinya yang sempat goyah oleh ego yang mencoba bangkit kembali. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa pembatalan tiket kereta subuh tadi bukan sebuah kesalahan. Pria itu kemudian mulai melangkah maju.

Lihat selengkapnya