Aroma Meja Makan

Nurfaizah
Chapter #11

BAB 11 : Hidangan yang Merdeka

Malam kian melarut menuju ujungnya ketika para tamu pengajian terakhir melangkah keluar melewati pintu pagar besi rumah nomor 14. Suara deru mesin mobil sewaan kerabat jauh dan motor para tetangga perlahan-lahan menjauh, lenyap ditelan keheningan malam kota kecil yang damai. Udara dingin luar rumah kembali merayap masuk melalui pintu depan yang sengaja dibuka lebar untuk mengalirkan sisa asap kayu gaharu dan minyak cendana yang menumpuk selama acara berlangsung.

Di dalam ruang tengah, suasana tampak begitu tenang dan lengang kembali. Kesibukan fisik pasca-acara telah selesai dilakukan dengan bantuan beberapa pemuda karang taruna kompleks sebelum mereka pamit pulang. Karpet-karpet hijau tua yang tebal telah digulung kembali, diikat rapi, dan ditumpuk di sudut dekat laci bawah tangga, menyisakan lantai ubin semen yang kini tampak bersih mengkilap setelah disapu dan dipel menggunakan cairan beraroma pinus yang segar.

Di tengah ruangan yang lapang itu, suasana terasa begitu damai tanpa ada lagi sisa-sisa ketegangan. Bumi, Ibu Astri, dan Mentari kini duduk berkumpul kembali, membentuk formasi melingkar mengelilingi meja makan kayu mahoni tua yang letaknya sudah dikembalikan oleh Bumi ke posisi semula tepat di tengah ruangan, di bawah jatuhnya pendar lampu gantung kuno. Di atas permukaan meja kayu yang dipenuhi goresan sejarah itu, piring-piring porselen besar yang sebelumnya berisi sisa kuah Rawon hitam pekat sisa sajian para tamu pengajian telah dibersihkan dan dibawa ke dapur belakang oleh Mentari. Wadah-wadah porselen itu telah dicuci bersih dan disimpan ke dalam lemari kaca.

Sebagai gantinya, di atas meja makan malam ini, tersaji menu makan malam keluarga yang sangat sederhana namun disiapkan secara bergotong-royong oleh mereka bertiga beberapa jam sebelum acara pengajian dimulai. Di tengah meja, terletak sebuah piring besar berisi potongan ayam goreng kampung yang digoreng garing hingga kulitnya berwarna kuning keemasan kecokelatan, ditaburi oleh remahan bumbu lengkuas yang gurih dan harum. Di sampingnya, berdiri sebuah mangkuk kaca bening yang berisi tumis kangkung pedas yang warnanya masih tampak hijau segar dengan potongan cabai merah dan aroma bawang putih tumis yang kuat menguar ke udara.

Menu makan malam keluarga mereka kali ini sama sekali bukan merupakan hidangan kesukaan almarhum Pak Baskoro di masa lalu. Sebaliknya, tumis kangkung pedas dan ayam goreng kampung garing adalah menu masakan favorit Bumi sejak ia masih kecil sebuah menu yang di masa lalu sangat jarang sekali diizinkan untuk disajikan di atas meja makan ini karena dianggap oleh sang ayah sebagai hidangan yang kurang memiliki nilai gizi tradisi keluarga yang kuat dan terlalu kasual untuk sebuah makan malam formal.

Penyajian menu favorit Bumi malam ini merupakan sebuah simbol kemerdekaan emosional yang baru bagi mereka bertiga. Ini adalah sebuah tanda penanda yang kasat mata bahwa rumah nomor 14 kini telah melangkah maju, keluar dari bayang-bayang aturan kaku masa lalu, dan memasuki sebuah era baru yang penuh dengan kebebasan memilih, penerimaan yang tulus, serta kasih sayang tanpa tekanan psikologis yang mengikat.

Lihat selengkapnya