Aroma Meja Makan

Nurfaizah
Chapter #12

BAB 12: Lembar Baru di Balik Jendela Sore

BAB 12: Lembar Baru di Balik Jendela Sore

Tiga minggu telah berlalu sejak malam rekonsiliasi yang mengharu biru di atas meja makan rumah nomor 14. Jakarta sore itu disambut oleh langit kelabu yang menggantung rendah di atas cakrawala beton, membawa titikan gerimis tipis yang berjatuhan membasahi aspal jalanan ibu kota yang padat, menciptakan uap panas yang menguar dari sela-sela kemacetan. Di dalam kamar kosnya yang terletak di kawasan bilangan Jakarta Selatan, sebuah ruangan berukuran empat kali empat meter yang tertata rapi. Bumi sedang berdiri diam menghadap sebuah jendela kaca besar yang mulai buram dan berembun oleh uap air kondensasi. Di tangan kanannya, sebuah cangkir keramik hitam berisi kopi hitam tanpa gula yang masih panas mengeluarkan asap tipis yang meliuk-liuk lambat ke udara, menyebarkan aroma pahit yang tajam dan pekat ke seluruh sudut ruangan.

Namun, sore ini, ada sesuatu yang telah bergeser secara mendalam di dalam diri Bumi. Aroma kopi hitam yang pekat itu tidak lagi memicu debar kecemasan yang berlebihan di dadanya, tidak lagi memanggil bayangan-bayangan visual tentang wajah kaku, dingin, dan penuh penghakiman dari mendiang Pak Baskoro di masa lalu. Trauma itu telah luruh, menyisakan sebuah rasa damai yang ganjil namun menetap dengan kokoh di dalam ulu hatinya.

Bumi membalikkan badannya perlahan, menatap area meja kerja minimalis miliknya yang terletak di sudut kamar. Di atas permukaan kayu partikel berwarna putih itu, laptop kerjanya terlipat rapi di samping sebuah benda yang kini menjadi jangkar spiritualnya: kotak kaleng bekas biskuit mentega yang sudut-sudutnya dipenuhi bintik karat kasar, kotak kaleng yang ia bawa dengan penuh kehati-hatian dari laci terdalam meja kerja ayahnya di kampung halaman.

Di samping kotak kaleng tua itu, selembar foto kecil berukuran tiga kali empat centimeter yang menampilkan dirinya yang masih kanak-kanak, berambut cepak, dan tersenyum ompong mengenakan seragam putih-merah, kini tidak lagi tersembunyi di balik kegelapan dompet kulit yang hancur. Bumi telah memindahkannya ke dalam sebuah bingkai kaca kecil bermotif kayu minimalis yang rapi, diletakkan tepat di sebelah tumpukan buku-buku referensi desain dan proyek pekerjaannya. Setiap kali Bumi merasa lelah atau kehilangan arah di tengah tekanan kerasnya persaingan kerja di Jakarta, tatapan mata dari foto masa kecilnya dan memori tentang lingkaran pulpen merah yang tebal dari ayahnya selalu berhasil memompa kembali semangat bajunya.

Ponsel Bumi yang ditaruh di atas permukaan kasur tiba-tiba bergetar nyaring, memecah kesunyian kamar kos yang hanya diisi oleh suara rintik gerimis di luar. Layarnya menyala terang, menampilkan nama Mentari di sana. Bumi meletakkan cangkir kopinya ke atas tatakan kayu di meja, lalu berjalan mendekat ke kasur, mengambil ponselnya, dan menggeser tombol hijau ke atas dengan ibu jarinya.

"Halo, Tari? Assalamualaikum," sapa Bumi. Nada suaranya kini terdengar jauh lebih renyah, ringan, dan lepas, tanpa ada lagi beban berat yang menahan setiap suku katanya.

"Waalaikumussalam, Mas Bumi," suara cempreng namun sarat akan kedewasaan milik Mentari terdengar membalas dari seberang saluran telepon. Ada latar belakang suara riuh angin sore dan suara klakson kendaraan yang lamat-lamat tertangkap oleh mikrofon ponsel adiknya, menandakan gadis itu sedang berada di area publik. "Mas Bumi lagi sibuk banget enggak sore ini? Aku baru saja pulangan dari kampus nih, ini posisinya lagi mampir sebentar di toko bahan bangunan di dekat pasar kecamatan."

"Enggak sibuk sama sekali, kok. Kebetulan seluruh laporan pekerjaan kantor untuk minggu ini sudah beres semua dan sudah mas serahkan ke atasan tadi siang sebelum istirahat. Ada apa, Tari? Ibu di rumah sehat-sehat saja, kan?"

"Alhamdulillah, Ibu sehat walafiat dan segar sekali, Mas. Tadi pagi tensi darahnya sempat dicek sama bidan desa yang biasa lewat, katanya sudah sangat normal, 120/80. Ibu sudah mulai rajin bangun subuh dan jalan pagi lagi keliling kampung bareng ibu-ibu rombongan pengajian," Mentari terkekeh pelan di ujung telepon, sebuah tawa lepas yang seketika membuat dada Bumi ikut berdesir penuh rasa lega yang luar biasa.

"Oh ya, Mas Bumi, aku menelepon sore ini sebenarnya cuma mau mengabari satu hal penting... pesanan batu nisan dari bahan granit hitam dari bengkel Pak Tulus kemarin sudah lunas aku bayar semuanya, pakai uang transferan yang Mas kirim hari Senin kemarin. Nah, sore ini tadi, tim pekerja dari Pak Tulus sudah selesai menyusun pembatas semen dan menanam rumput jepang yang baru di sekeliling gundukan makam Ayah. Tadi sebelum awan mendung ini menurunkan hujan, aku sempat mampir ke pemakaman sebentar buat mengecek pengerjaannya sekaligus memotret hasilnya. Fotonya sudah aku kirimkan ke nomor WhatsApp Mas Bumi barusan ya, coba dicek."

Bumi menjauhkan ponsel dari telinganya selama beberapa detik, menggeser layar untuk membuka aplikasi pesan singkat, dan langsung mengklik selembar foto beresolusi tinggi yang baru saja dikirimkan oleh adiknya.

Di dalam foto digital tersebut, sebuah gundukan tanah makam yang sebulan lalu tampak begitu gersang, kering, dan dipenuhi oleh retakan tanah liat, kini telah bertransformasi total menjadi sebuah tempat peristirahatan yang sangat rapi, bersih, dan asri. Jalinan rumput jepang berwarna hijau tua yang segar menyelimuti seluruh permukaan tanah dengan rapat. Di bagian kepala makam, sebuah blok batu nisan persegi yang kokoh terbuat dari bahan granit hitam pilihan berdiri dengan tegak dan megah. Nama Baskoro Adi Nugroho terukir indah di atas permukaannya dengan pahatan huruf-huruf balok berwarna emas yang tegas, bersih, dan memantulkan sisa-sisa cahaya langit sore yang kelabu dengan sangat dramatis.

Lihat selengkapnya