Arsa, Portal Mimpi Dunia Pararel

Iqne zakiah
Chapter #1

Sisa Resonansi

Dunia ini berbeda.

Matahari menggantung tinggi di atas kota, memantulkan cahaya putih kekuningan pada permukaan jalan yang berkelok mengikuti kontur perbukitan. Langitnya membentang luas dalam warna biru pekat yang nyaris sempurna—terlalu bersih untuk ukuran kota dengan kepadatan penduduk seperti ini. Jika harus memperkirakan berdasarkan kejernihan atmosfer dan tingkat hamburan cahaya, kualitas udaranya mungkin berada di kisaran AQI lima belas. Aku belum pernah melihat langit sebersih ini di duniaku sendiri.

Deretan bangunan dua lantai berdiri rapat di sepanjang jalan utama. Sebagian besar menggunakan atap seng bergelombang yang memantulkan cahaya secara tidak merata. Di sela-selanya tumbuh pohon-pohon berbunga kuning dan merah muda yang ditanam dengan jarak simetris, membentuk garis alami di sepanjang trotoar.

Menariknya, ritme kota ini cenderung lambat. Tidak ada kendaraan yang bergerak agresif. Tidak ada suara mesin berfrekuensi tinggi. Bahkan langkah kaki manusia di dunia ini terasa… ringan. Seolah seluruh kotanya bergerak dalam tempo yang lebih tenang dibanding dunia tempatku berasal.

Aku berjalan menuruni jalan kecil di sisi pertokoan. Tidak ada seorang pun yang menyadari keberadaanku.

Seorang anak laki-laki berlari melewatiku sambil membawa plastik bening berisi minuman berwarna jingga. Bahunya sempat menabrak lenganku, tetapi tubuh kami hanya saling menembus begitu saja tanpa benturan apa pun.

Aku berhenti. Masih sama seperti biasanya.

Aku menoleh ke sisi kanan jalan. Seorang perempuan paruh baya sedang membungkus gorengan ke dalam kertas cokelat tipis. Aroma minyak panas dan bawang goreng samar-samar terbawa angin. Itu bagian yang sampai sekarang masih sulit kujelaskan.

Dunia ini tidak terasa seperti simulasi. Udara dinginnya terasa nyata. Cahaya mataharinya terasa nyata. Bahkan aroma makanan di pinggir jalan itu juga nyata.

Aku mendongak pelan. Kabel-kabel listrik membentang rendah di atas jalan. Seekor burung kecil hinggap sebentar sebelum kembali terbang menuju atap ruko di seberang.

Sudah berbulan-bulan aku mengamati dunia ini. Tidak. Aku ralat. Yang benar adalah aku sudah meneliti dunia ini selama bertahun-tahun.

Langkah kakiku melambat di persimpangan jalan. Di sisi kiri, sebuah angkutan kota berwarna hijau tua berhenti sebentar sebelum kembali bergerak naik mengikuti jalan menanjak. Cat di bagian pintunya mulai memudar. Suara mesinnya kasar, jauh berbeda dibanding kendaraan listrik senyap di duniaku.

Aku memperhatikannya sampai menghilang di tikungan. Lalu semuanya mulai terasa aneh. Pemandangan di depanku bergetar pelan. Bukan seperti gempa. Lebih seperti permukaan air yang disentuh ujung jari.

Aku berhenti berjalan. Biasanya sinkronisasi masih mampu bertahan lebih lama dari ini.

Aku memejamkan mata beberapa detik, mencoba menstabilkan fokus kesadaranku seperti yang selalu kulakukan setiap kali resonansi mulai melemah. Tarik napas. Hitung. Pertahankan ritme. Saat kembali membuka mata, dunia itu sudah berubah sedikit. Cahaya matahari masih sama. Jalanannya masih sama. Tetapi detail-detail kecil mulai kehilangan bentuknya.

Tulisan di papan toko menjadi kabur. Wajah orang-orang terasa terlalu cepat bergerak. Dan suara-suara di sekitar mulai terdengar seperti gema yang datang dari tempat sangat jauh.

Sial.

Aku menoleh cepat ke arah jam dinding kecil yang tergantung di salah satu warung.

12.17.

Lebih singkat tujuh menit dibanding percobaan terakhir.

Aku mengusap wajah pelan walaupun aku tahu tubuh ini sebenarnya bahkan tidak benar-benar ada di dunia ini. Mungkin aku terlalu memaksakan sinkronisasi minggu ini. Atau mungkin… ada sesuatu di dunia ini yang mulai berubah.

Pikiran itu membuatku diam beberapa saat.

Sudah bertahun-tahun aku melakukan ini. Dan sampai sekarang, satu pertanyaan itu tidak pernah benar-benar pergi.

Ayah pernah bilang bahwa manusia terlalu sombong untuk menganggap realitas hanya terdiri dari satu dunia. Waktu itu aku tidak sepenuhnya mengerti maksudnya.

Sekarang aku mengerti. Semakin lama aku berada di sini… semakin sulit bagiku untuk menganggap tempat ini tidak nyata.

Suara denting kecil tiba-tiba terdengar dari arah kanan jalan. Aku menoleh refleks. Seorang siswi berseragam putih biru berdiri di depan pagar minimarket sambil membungkuk meminta maaf kepada perempuan lain karena tanpa sengaja menjatuhkan botol minuman dari kantong plastiknya.

Aku hanya melihat sekilas sebelum kembali berjalan. Tidak ada yang istimewa. Hanya salah satu dari miliaran manusia yang hidup di dunia ini.

Pemandangan di depanku kembali bergetar. Kali ini lebih parah. Warna-warna di sekitar mulai memudar seperti cat yang terkena hujan. Suara kendaraan menjauh perlahan sampai hanya tersisa dengung samar yang tidak lagi bisa kubedakan bentuknya.

Aku berhenti berjalan. Sinkronisasi runtuh. Perlahan, langit biru di atas kota itu retak menjadi kilatan-kilatan cahaya putih sebelum akhirnya seluruh dunia di sekelilingku larut dalam gelap.

Tubuhku terasa jatuh. Atau mungkin ditarik. Sulit dijelaskan. Setiap kali proses pemutusan terjadi, selalu ada sensasi aneh selama beberapa detik—seolah kesadaranku sedang dipaksa kembali masuk ke tempat yang terlalu sempit untuk menampungnya.

Lalu semuanya menghilang.

***

Kesadaranku kembali perlahan.

Lihat selengkapnya